Reuni Pembawa Malapetaka

0
274

Oleh:  Sandy Cheeks

Justisia.com – Tangisan tak lagi bisa dibendung, sesak tak lagi bisa ditampik, hanya rasa sakit yang tersisa. Pernikahan yang sudah ku bina selama 20 tahun hanya tinggal menyisakan lara. Ingin rasanya menyayat nadi di tangan dengan pisau yang ku bawa. Seklebat senyum anak-anakku terputar dalam ingatan. Senyuman ceria dari ketiga anakku mengingatkanku bahwa mereka masih butuh aku.
***

“Kamu pilih dia atau aku mas ?” dengan sesak dan tangisan aku mengucapkannya. Dadaku seperti ditindih batu besar, semakin menyesakkan saat suamiku tak kunjung menjawab pertanyaanku. Pikiran negatifku semakin tak terkendali, ketakutan menghantuiku membuat semakin deras air mataku.

“Haahhh… jangan biarkan masalah ini berlarut-larut, jawablah pertanyaan istrimu Di,” timpal mertuaku setelah tak kunjung mendengar jawaban mas Rudi, suamiku.

“Kenapa saya harus memilih bu ? Saya mencintai keduanya, saya janji akan berlaku adil,” jawabnya seperti bom yang menghancurkanku.

Semakin deras air mataku mengalir, meski pikiran negatif bercokol dipikiranku tak pernah terbesit jawaban itu yang akan mas Rudi berikan. Tidak berpikirkah dia sebelum mengucapkan jawabannya, tidak ingatkah sudah berapa lama rumah tangga ini kami bina bersama, tidak ingatkah dia dengan ketiga anaknya.

“Astaghfirullah Dii, kamu…. Astaghfirullah, apakah kamu sadar sudah mengucapkan kalimat itu ? Ingat Di kamu sudah punya tiga anak, Rani sudah kuliah, Rita sudah SMP kelas 3, Radit juga baru kelas 3 SD. Iling Di.. iling… kamu sudah tidak lagi muda,” setalah mengucapkan itu ibu mertuaku masuk ke dalam kamarnya, dan masih ku dengar ibu beristighfar berkali-kali.

Setelah kepergian ibu, suasana ruang keluarga semakin sunyi. Tak ada yang ingin bersuara di antara kami. Entah apa yang dipikirkan mas Rudi, aku juga tidak berani menatapnya. Bukan karena benci, namun aku tak ingin tangisanku semakin menjadi jika aku menatapnya.

“Mas… Aku ulangi pertanyaannya…”

“Aku tidak bisa memilih Rat, sudah kujawab pertanyaanmu tadi. Sekarang jawab aku, apakah kamu mau menerima Wina dalam keluarga kita ? Wina tahu apa pilihanku, dan dia setuju Ratih, aku tinggal menunggu jawabanmu.”

Belum selesai keterkejutanku karena mas Rudi memotong omonganku, ditambah dengan pertanyaan dan pernyataannya yang seolah menyudutkanku. Air mataku semakin deras, aku sudah tidak bisa menahannya. Suami yang selalu kubanggakan, yang sudah mendampingiku selama 20 tahun dengan tega menggoreskan luka begitu dalam. Suami yang tahu semua kesukaanku dan apa yang tidak kusuka, suami yang tahu aku sangat benci apapun yang berhubungan dengan poligami. Namun, kenyataanya malah dia yang mengajakku tersungkur dalam jurang poligami.

Baca juga:  Bunga Abadi, tapi Mati

Lidahku kelu, ingatanku secara otomatis memutar memori penyebab malapetaka ini terjadi. Saat bulan Ramadhan, bulan yang suci umumnya membuat suasana dalam keluarga lebih dekat dan nyaman. Namun, berbanding terbalik dengan susana keluargaku.
***

Saat itu, hari ke tujuh bulan Ramadhan pertama kalinya mas Rudi izin tidak buka puasa di rumah. Katanya dia buka bersama dengan teman-teman SMAnya, saat itu mas Rudi memang lagi sibuk mencari dana untuk reuni akbar alumni SMAnya karena dia terpilih sebagai panitia dalam acara tersebut. Ramadhan sudah memasuki pertengahan dan selama itu juga mas Rudi tidak pernah buka puasa di rumah. Alasannya masih sama, berbuka puasa dengan teman-temannya yang juga menjadi panitia.

Hari ke 27 bulan Ramadhan, dan hari itu mas Rudi buka puasa kembali danganku dan keluarga. Namun, ada yang berubah dari mas Rudi, biasanya habis mengimami sholat tarawih di musholla depan rumah dia selalu membaca Al-qur’an sampai sejam lamanya.

Anehnya dia tidak membaca al-qur’an dan malah menerima telfon dari seseorang di depan rumah, tidak biasanya seperti itu. Padahal dulu mas Rudi pernah berkata kalau dia tidak suka melihat seseorang yang bertelfonan di depan rumah, “kenapa coba telfonan di depan rumah ? Di dalam rumah kan bisa, kalo aku anti kayak gitu,” katanya dulu. Tapi dia sudah menjilat ludahnya sendiri.

Baca juga:  Jeritan Lantangmu

Saat kutanya kenapa kok telfonan di luar, dia hanya menjawab biar tidak mengganggu anak-anak. Padahal anak-anak sedang menonton televisi di dalam kamar anak sulung kami, aku hanya menganggukkan kepala. Tidak pernah terbesit pikiran negatif tentang suamiku, sebab dia tidak pernah mengecewakanku selama kami membina rumah tangga.

Namun, telfonan di luar rumah seperti menjadi kebiasaan baru mas Rudi sampai satu minggu pasca hari raya idul fitri. Besoknya adalah hari diselenggarakannya reuni akbar alumni SMAnya, seperti reuni-reuni sebelumnya, aku diajak dalam acara tersebut.

Acara reuni berjalan dengan meriah, mas Rudi sudah berbaur dengan teman-temannya. Aku juga berbincang-bincang dengan orang-orang yang aku kenal di acara itu. Beberapa saat kemudian aku mendengar wanita yang ku kenal sebagai salah satu teman mas Rudi yang bernama Sri berkata “wuihh punya yang baru nih,” entah maksudnya apa dan ditujukan kepada siapa, tapi entah mengapa aku seperti penasaran dengan maksud dari perkataannya Sri, apalagi dengan perkataan seperti itu saja mas Rudi sudah senyum sumringah.

Acara reuni pun memasuki sesi makan-makan, sebelum mengambil makanan mas Rudi izin mau mengurus sesuatu terlebih dahulu. Saat mengambil makanan aku berjumpa dengan salah satu teman mas Rudi yang bernama Wina, menurutku dia semakin cantik dan badannya pun masih terlihat bagus diusianya yang sama denganku. Meski banyak orang juga yang menyebutku tetap awet muda, namun jika diibandingkan dengan dia aku tidak ada apa-apanya. Aku tersenyum dan mengangguk sebagai tanda menyapanya, dia pun juga mengulas senyum kepadaku.

Setelah kepergiaannya, aku terkejut dengan diriku sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah membanding-bandingkan diriku dengan orang lain, apalagi sampai menilai penampilan orang lain dengan detailnya. Saking detailnya aku masih mengingat bahwa Wina memakai cincin di jari manis tangan kanannya, padahal mas Rudi pernah bercerita bahwa Wina itu janda anak satu setahun yang lalu setelah cerai dengan suaminya.

Baca juga:  Guram Lubuk Budak Sirkus

Setelah acara selesai, aku menunggu mas Rudi satu jam di dalam mobil. Karena mas Rudi salah satu panitia acara tersebut, jadi menurutku wajar jika dia tidak langsung pulang. Tiba-tiba handphoneku berdering, anak sulungku menelfon untuk mengabari bahwa anak bungsuku jatuh dari sepeda dan kepalanya berdarah. Aku langsung panik dan menelfon mas Rudi, sayangnya mas Rudi tidak dapat dihubungi. Aku pun masuk lagi ke gedung tempat acara reuni tadi berlangsung untuk mencari mas Rudi, saat masuk aku bertemu Dito teman akrabnya mas Rudi. Katanya mas Rudi sedang ada di ruang transit panitia, aku pun langsung ke sana.

Akhirnya aku menemukan mas Rudi dan kami segera pulang. Saat diperjalanan aku tak sengaja melihat tangan mas Rudi. Aku terkejut, di jari manis tangan kanannya tersemat sebuah cincin. Padahal mas Rudi tidak pernah menggenakan cincin, cincin pernikahan kami pun terjual karena saat kelahiran anak pertama kami dalam keadaan krisis uang. Cincin yang kami beli setelah mempunyai rezeki pun tidak dipakainya, karena memang kami sepakat untuk menyimpannya.

Debaran jantungku sudah mulai tak teratur setelah kuingat jika cincin itu sama dengan yang dipakai Wina, bedanya punya Wina ada permata putih di tengahnya. Hatiku rasanya hancur saat itu juga.
***

Ketukan palu di pengadilan terdengar. Hatiku sakit, tapi aku berusaha kuat untuk anak-anakku. Meski sakit, aku masih bersyukur hak asuh anak-anak jatuh kepadaku. Ya, aku sudah bertekad memilih jalan perceraian. Apalagi mengingat hancurnya hatiku tadi pagi, sempat terbesit ingin mengakhiri hidup sebelum pergi ke pengadilan, untungnya akal sehatku masih tersisa sedikit.  Aku bukan wanita yang siap dan kuat untuk dimadu, aku lebih memilih sendiri. Inilah akhirnya, akhir dari perjalanan rumah tanggaku dengan mas Rudi, yang sekarang sah menjadi mantan suamiku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here