Ready or Not: Pernikahan Berdarah, Kelas Sosial dan Candu Borjuis Terhadap Ritual Brutalnya

0
170

Oleh: Nisrina Khairunnisa

Ready or Not

Genre : Thriller, Horror, Comedy, Gore
Actors : Samara Weaving, Adam Brody, Mark OBrien, Henry Czerny, Andie Macdowell
Directors : Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Release Date : 28 August 2019
Average Rating : 88% (Rotten Tomatoes)

Sangat disayangkan jika kalian penikmat film thriller, horor dengan pemandangan gore yang dibumbui dengan sedikit rasa komedi tak menonton film garapan dua filmmaker Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett ini. Memang masih marak pembuatan film horor bernuansa sekte, penyembah dewa, gerakan-gerakan tersembunyi dan hal-hal yang berkaitan dengan mitologi. Sebut saja Joko Anwar, sineas horor kondang Indonesia. Melalui film nya yang berjudul “Pengabdi Setan” mengantarkan ia dan rekan-rekannya mendapatkan banyak prestasi dan penghargaan, baik dalam kancah nasional maupun internasional.

Tak hanya itu, beberapa film yang masih hangat seperti Hereditary (2018), menceritakan pemujaan sosok raja iblis yang disebut King Paimon dan sekuel keduanya yaitu Midsommar (2019) yang mengisahkan suatu suku dengan menganut ajaran Paganisme. Tak jauh berbeda substansi filmnya dengan Ready or Not; sama-sama menggunakan aliran satanisme.

Semoga tulisan saya tidak dianggap spoiler, karena menurut kebanyakan orang, spoiler merupakan dosa besar yang tak kan terampuni. Jadi, saya sarankan sebelum membaca tulisan ini ada baiknya kalian menonton film nya terlebih dahulu. Namun tidak salah juga jika kalian lebih menikmati membaca review film sedari awal. Monggo.

Pernikahan Berdarah

Siapa yang tak merasa bahagia jika menikah dengan seorang bangsawan? Sama halnya dengan apa yang dirasakan Grace (Samara Weaving) sudah tak sabar menjadi bagian dari keluarga Le Domas. Namun kekhawatiran sangat tampak pada raut wajah sang suami, Alex (Mark O’Brien). Bagaimana tidak gusar? Wanita pujaan hatinya sedang bertarung antara hidup dan mati, namun nasi telah menjadi bubur, semua itu tak diketahui oleh Grace.

Memang sudah menjadi tradisi turun-temurun dari keluarga Le Domas, setiap ada anggota baru wajib hukumnya untuk mengikuti permainan berupa kartu dalam kotak mini. Di bagian ini, sudah mulai terasa jiwa adrenalin saya bergetar, namun belum hebat.

Sambil membuka kartu, wajah Grace menyeringai lebar, sembari mengatakan bunyi kalimat dari kartu tersebut hide and seek. Ia mengira itu hanyalah permainan anak kecil pada umumnya. Padahal bagi keluarga Le Domas sendiri, kartu yang dipilih Grace merupakan sebuah nasib yang sangat buruk, dan baru terjadi kali pertama ini. Sebelum Grace menjadi istri Alex, dulu Charity, istri Daniel (Kakak Alex) sangat beruntung karena hanya memainkan permainan catur, sedangkan Fitch suami Emilie hanya memainkan kartu saja.

Baca juga:  Feodalisme Jawa Menodai Gadis Tak Berdosa

Mengira bahwa permainan tersebut layaknya petak umpet biasa, Grace bersembunyi dalam lift makanan. Sementara anggota keluarga Le Domas lainnya sedang menyiapkan berbagai senjata yang harus digunakan untuk memburu dan membunuh Grace. Jika sampai pagi Grace belum dibunuh, maka para anggota keluarga Le Domas lah yang akan dimusnahkan oleh Tuan Le Bail.

Dari cerita di atas, perlunya pendekatan lebih dalam terhadap pasangan (sebelum menikah) itu sangat penting. Kalau melihat cerita Grace yang hanya menjalin hubungan selama 18 bulan saja jadi berpikir dua kali kan buat cepat-cepat nikah? Coba lakukan penelitian observasi terlebih dahulu terhadap pacarmu, siapa tahu keluarga pacar kalian mempunyai tradisi turun-temurun berupa ritual-ritual aneh, bisa-bisa kamu dijadikan tumbal.

Tidak terbayang sama sekali sih, malam pertama di hari pernikahan, bukannya bahagia malah menyaksikkan dan merasakan aksi bunuh-bunuhan, terlebih kepada keluarga baru. Malangnya nasib Grace, masih dengan gaunnya yang serba putih hingga berubah warna menjadi hitam legam bersimbah darah.

Mengulas Para Tokoh, Visualisasi dan Scoring time Film

Premis yang out of the box ini menunjukkan, betapa kerennya film garapan Olpin dan Gillet, karena dengan mereka memasukkan kecerdasan subversif pada kegiatan sakral yaitu pernikahan, membuat film ini terasa berbeda dengan genre thriller horor lainnya.

Saya akui akting Samara Weaving (Grace) sebagai pemeran utama begitu hebat. Aktris yang pernah membintangi beberapa film, diantaranya; Mystery Road (2013), The Babysitter (2017), Monster Trucks (2017) ini  perannya pernah mendapatkan skor di atas 72 persen. Totalitasnya dalam film Ready or Not patut diacungi jempol, walaupun pada scene awalnya Weaving terlihat polos, dan lemah tak berdaya. Secara perlahan Olpin dan Gillet membangun karakter Grace dengan power yang dahsyat hingga dapat terbayarkan di penghujung film.

Selanjutnya para pemeran lain yaitu anggota keluarga Le Domas. Entah kenapa saya naksir dengan Daniel (Adam Brody; Kakak Alex) karena menurut saya, ia yang paling waras diantara anggota keluarga lainnya. Istrinya saja sejak awal menikah sudah gila harta (Charity) dan sempat berkata pada Daniel bahwa ia lebih baik mati daripada tak masuk dalam bagian keluarga Le Domas.

Walaupun Daniel pecandu alkohol, akal sehatnya tetap berjalan dengan baik. Sebenarnya Daniel sudah muak dengan tradisi keluarganya yang brutal itu, terlebih dalam film tersebut, Daniel menyukai sosok Grace yang baik dan sangat berani.

Film Ready or Not tidak terlepas dari sisi komedi yang membuat keseluruhan film ini menjadi berwarna. Penonton seakan-akan diombang-ambing seperti roller-coaster dari yang awalnya manis klasik, berdebar, lucu hingga sadis. Seperti pemeran Fitch (Suami Emilie), sontak saya tertawa keras melihat aktingnya. Disaat semua anggota keluarga sedang memburu Grace, ia mengasingkan diri di ruangan lain hanya sekadar untuk melihat video tutorial bagaimana cara memanah yang baik dan benar. Sepertinya ia belajar ototidak di waktu yang salah, haha pecah parah sih filmnya.

Tidak hanya Fitch yang bertingkah konyol, istrinya pun lebih konyol dan amat bodoh pula. Emilie merupakan seorang pecandu kokain, membidik Grace tepat di depan matanya saja meleset, selain Grace, ia juga sangat ceroboh karena telah membunuh dua pembantu di istananya.

Scoring time film ini sudah sangat tepat dalam memasuki setiap adegannya. Sukses besar memancing emosi penonton. Visualisasi lebih tertuju pada latar suasana malam yang rasanya begitu dingin, mencekam, dan memberi kesan horor. Selain itu, barang-barang antik di dalam istana Le Domas terkesan mengamati setiap gerak-gerik Grace.

Gaun yang dikenakan Grace juga memiliki unsur intrinsiknya sendiri. Terpajang di poster film, Grace mengenakan gaun putih dengan aksesoris peluru yang dikalungkan di dadanya. Terlihat begitu tangguh. Dalam Ready or Not, dress tak lagi menjadi karma, melainkan senjata mutakhir bagi dirinya. Mengingat judul lagu Attention yang dinyanyikan oleh Charlie Puth dengan lirik “That dress is karma”.

Kelas Sosial dan Candu Borjuis Terhadap Ritual Brutalnya

Baca juga:  Elegi Untuk Negeriku

Ready or Not mengingatkan saya pada film lokal “Rumah Dara” yang rilis pada 2009. Dimana dua film ini sama-sama melestarikan tradisi dan ritual satanisme. Tujuannya agar kekal abadi tiap-tiap jiwanya serta memelihara kekayaan agar tidak jatuh miskin. Tak dapat dipungkiri, nyawa orang yang tak berdosa diambil secara brutal dan dijadikan tumbal. Kenapa hal seperti ini selalu dikaitkan dengan orang-orang kaya? Jika kenyataannya ada yang seperti itu, tak ada cara lain apa menjadi kaya tanpa bantuan roh-roh halus? Bukannya menyembah roh-roh halus resikonya lebih besar, hingga nyawa juga yang menjadi taruhannya.

Pada awal film Ready or Not, memang tak dijelaskan secara gamblang bagaimana latar belakang Grace. Namun, Olpin dan Gillet menciptakan tokoh Grace sebagai wanita yang hidup miskin, sebatang kara, dan pada saat resepsi pernikahannya tak terlihat satupun keluarga yang medampinginya. Derajat Grace semakin ditertawakan oleh keluarga besar Alex.

Begitu kentara, jurang pemisah antara si kaya da si miskin dalam film ini. Daniel pernah berkata kepada Grace, bahwa orang kaya berbeda dengan yang lainnya. Selain Daniel, Toni (ayah Alex dan Daniel) juga tidak menyukai Grace, karena ia tak pantas mendapatkan seorang bangsawan. Lagi-lagi hampir mirip dengan film Parasite (2019). Kesenjangan sosial dan kapitalis menjadi monster jahat yang tak kasat mata.

Film ini, memang menempatkan Weaving sebagai woman of the match, semua tokoh tertuju padanya. Toni yang sempat merendahkan Grace, sempat kecewa akan umpatannya “Dia itu hanya gadis pirang, kurus, ceroboh pula. Bagaimana kita tidak bisa membunuhnya?!”. Selain Grace yang diinjak-injak martabatnya, kelas sosial seperti pembantu pun juga turut mengundang amarah. Betapa tak berharganya mereka pada saat ritual brutal tersebut berlangsung. Kecerobohan Emilie yag saat itu menewaskan dua pembantu istananya, ia merasa tak bersalah, karena strata sosial tadi yang telah memisahkan. Pembantu mati duluan ketimbang majikannya yang lebih bodoh dan tak waras.

Ya, memang bisa ditebak ending dari film ini, Grace akan menang. Namun pada menit-menit terakhir, saya sempat kaget, para anggota keluarga Le Domas mati konyol namun sadis. Dan yang membuat saya terkagum-kagum sifat Grace yang awalnya manis, polos, kini menjadi tangguh diiringi senyuman sinis, seakan-akan kejadian semalam suntuk telah berlalu begitu saja.

Sekian review film yang saya rasa sudah sangat lengkap, pertanyaan saya terakhir, masih adakah orang-orang kaya saat ini yang bermain-main dengan setan? Jika masih, kenapa tidak mecoba yang lain saja? Tak inginkah mencoba alternatif lain? Bukannya agama sebagai candu lebih asyik?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here