Rapor Merah Toleransi: Pesan WhatsApp “Berjilbab” Berujung Pindah Sekolah

0
786
Website | + posts

Sragen, Justisia.com – Korban intimidasi yang dilakukan oleh oknum Rohani Islam (Rohis) SMA Negeri 1 Gemolong, akhirnya memutuskan untuk pindah dari tempat dirinya mendapat teror karena tidak mengenakan jilbab saat bersekolah.

Hal ini diungkapkan oleh orangtua dari Z, Agung Purnomo saat ditemui di kediamannya. Dirinya mengaku bahwa setiap hari berdebat di media cukup melelahkan dan dirinya khawatir dengan kondisi putrinya.

“Pada akhirnya, demi kebaikan anak saya, saya dan istri memutuskan anak saya untuk pindah sekolah. Ini kaitannya dengan kondisi psikis anak saya,” tuturnya pada Kamis (16/01/2020).

Agung menambahkan, keputusan ini diambil juga atas permintaan sang anak. Pada saat reporter Justisia.com mencoba mengonfirmasi kepada Z, dirinya mengaku bahwa ingin pindah dari SMA N 1 Gemolong.

Z mengaku sudah tidak bisa lagi melanjutkan sekolah di SMA N 1 Gemolong.

“Sudah nggak nyaman sama guru-gurunya. Dari awal sebenarnya saya sudah nggak cocok sama guru-gurunya,” kata Z kepada reporter Justisia.com saat ditanya penyebab dirinya ingin pindah dari sekolah.

Selanjutnya Z akan melanjutkan pendidikannya di sekolah swasta. Orangtua Z menjelaskan, anaknya akan melanjutkan di sekolah swasta.

“Kami sudah menghubungi kepala sekolah yang menjadi pilihan kami sekeluarga,” timpal Agung.

Dalam press rilis yang dikeluarkan oleh Jaringan Solidaritas, menyatakan bahwa Z telah memaafkan semua pihak dan menerima keputusan yang dihasilkan pada pertemuan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Kabupaten Sragen yang diselenggarakan pada Kamis (16/01/2020).

“Pindah sekolah adalah jalan terbaik untuk mengembalikan kesehatan psikis korban,” mengutip dalam press rilis tersebut.

Kronologi Intimidasi

Siswi kelas X SMA N 1 Gemolong, Z mendapat intimidasi melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp. Intimidasi dilakukan oleh pihak Kerohanian Islam (Rohis) SMA N 1 Gemolong lantaran tidak mengenakan jilbab sendiri dari seluruh siswi Islam se-sekolahan.

Oknum Rohis hampir setiap hari mengirim pesan untuk mengenakan jilbab lewat nomor Z. Karena merasa terganggu, Z melaporkan hal tersebut kepada orang tuanya.

“Anak saya merasa terganggu dengan pesan yang masuk ke hpnya. Saya minta agar dirinya memblokir nomor oknum Rohis tersebut. Sesudah diblokir, intimidasi tersebut terus berlanjut. Oknum tersebut mengirimkan pesan pada teman anak saya dan meminta untuk disampaikan kepada anak saya,” ungkap Agung, kepada Solopos.com (08/01/2020).

Isi salah satu pesan mengatakan bahwa orang tua Z mendukung anaknya melanggar ketentuan syariat agama Islam yang tidak mengenakan hijab.

Saat itu, Agung meminta bertemu pihak Rohis tapi ditolak dan disarankan untuk menemui guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Nak mboten purun nggeh mpun, tinggal ditunggu di akhirat mawon [kalau tidak mau ya sudah, tinggal ditunggu di akhirat saja, red],” isi salah satu balasan pihak Rohis.

Dalam pesan yang lain pengurus Rohis menuliskan bahwa berjilbab merupakan sebuah kewajiban.

Kandanono [katakan padanya, red], hijab bukanlah pilihan yang dengannya dia bisa memilih, tapi kuwi kewajiban [tapi itu adalah kewajiban, red]. Siap ora siap, kudu berhijab [siap tidak siap harus berhijab, red],” tulis salah satu pesan.

Selain itu oknum pengirim pesan tersebut memaksa agar tidak membawa masalah kepada pimpinan sekolah.

“Ingat, jangan sekali-kali bawa masalah ini ke sekolah dan sampai melapor ke kesiswaan karena ini masalah agama,” katanya.

Agung menyesalkan oknum pengurus Rohis sangat memaksakan kehendak agar Z berhijab.

“Pesan tersebut merupakan ancaman. Karena ditulis dengan huruf kapital, masalah ini terjadi di lingkup sekolahan, mengapa tidak boleh dibawa ke sekolahan,” tuturnya.

Dinamika dalam kasus tersebut terjadi
pada tanggal 6 Januari 2020, pihak sekolah dan keluarga korban telah mengadakan audiensi di SMA Negeri 1 Gemolong.

Dalam audiensi tersebut telah disepakati bahwa kasus ini diselesaikan di tingkat sekolah. Menurut pengakuan Kepala Sekolah, Suparno menjelaskan bahwa saat audiensi pihak Rohis juga sudah meminta maaf kepada Z dan orangtuanya.

“Masalahnya sudah selesai. Malah orangtuanya menyumbangkan uang sejumlah Rp. 10 juta untuk renovasi masjid sekolah,” ujarnya.

Menurut salah satu alumni SMA N 1 Gemolong yang tidak mau disebutkan identitasnya mengatakan, orangtua korban memang dermawan dan sering sekali memberikan sumbangsih pada SMANIG.

Setelah diadakannya audiensi tersebut Z beranggapan bahwa keadaan menjadi lebih baik dan pada 7-8 Januari 2020. Z memutuskan untuk masuk sekolah kembali. Yang ia rasakan saat masuk sekolah adalah rasa tertekan dan tidak nyaman belajar.

Pada tanggal yang sama, Z dipanggil kepala sekolah untuk datang ke ruang guru. Z merasa sangat takut.

“Saya takut sekali karena dilihat oleh semua guru. Saya tidak dapat berkata apa-apa. Saya hanya bisa menangis,” tuturnya.

Menurut cerita yang diungkapkan Z, setelah itu kepala sekolah menyuruhnya untuk kembali ke ruang kelas.

“Ini menjadi pelajaran untukmu,” pesan kepala sekolah setelah memanggil Z.

Selain itu, Z juga mencurahkan isi hatinya kepada pengurus Komunitas Perempuan Sragen, Ellisa Widyaningrum pada Sabtu (11/01/2020).

“Z pada tanggal 7 masuk sekolah. Tapi bukan perlakuan baik yang diterima, malah dia merasa ada perlakuan aneh terhadapnya. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak sekolah,” jelas Ellisa kepada Joglosemarnews.com, Sabtu (11/1/2020).

Ellisa memaparkan saat masuk kembali, Z merasa teman-temannya mengucilkan dirinya dengan sinis bahkan salah satu oknum guru agama merasa acuh saat disapa.

“Dari ketidaknyamanan itu, Z akhirnya memutuskan tidak sekolah sejak Rabu hingga Jumat,” papar Ellisa.

Namun, berdasarkan wawancara dengan korban, Z pada Kamis (16/01/2020) di kediamannya, dirinya mengaku tidak datang sekolah terhitung tanggal 8 hingga 16 Januari 2020.

Mediasi oleh Bupati

Pada Kamis (16/01/2020), Bupati Kabupaten Sragen, Kurdinar Untung Yuni Sukowati melakukan mediasi di ruang Citrayasa kompleks rumah dinas bupati, Sragen Wetan, Sragen.

Mediasi dihadiri oleh segenap Forkompimda Kabupaten Sragen, pihak sekolah, orangtua korban, dan perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Menurut penuturan Kepala Cabang Dinas (KCD) wilayah IV, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Eris Yunianto menjelaskan, pertemuan tersebut adalah upaya bupati untuk memastikan masalah selesai secara baik-baik.

Setelah mediasi selesai, tidak ada konfrensi pers yang dilakukan. Saat mencoba meminta keterangan hasil kepada beberapa pihak yang mengikuti mediasi, reporter Justisia.com tidak mendapat sedikitpun keterangan.

Mengutip dari detik.com, “Baik dan terselesaikan dengan baik,” tutur Yuni pada (16/1/2020).

Yuni tidak bersedia merinci isi dari pertemuan yang berlangsung secara tertutup tersebut.

Merunut keterangan orangtua korban, Agung Purnomo, hasil pertemuan tersebut adalah pihak sekolah akan mengadakan ikrar bahwa pihak sekolah memegang teguh Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan menghargai toleransi.

Hal yang sama dijelaskan oleh salah satu pengurus IMM Jawa Tengah, Ichwanuddin Bukhori, “Hasil pertemuan tadi pemerintah akan bersama-sama berusaha agar tidak terulang masalah seperti ini. Dan pihak sekolah akan melakukan ikrar kesetiaan pada negara,” tuturnya kepada Justisia.com seusai mediasi.

Semua Sudah Selesai

Pasca mediasi, Agung yang ditemui di kediamannya menerangkan, bahwa semuanya sudah menjadi tujuan anaknya agar bisa sekolah walau harus pindah dari SMA Negeri 1 Gemolong.

“Pastinya kita semua capek beratem di media. Kasihan dengan keadaan anak saya. Dan saya ingin anak saya sekolah tapi tidak di SMA Negeri 1 Gemolong. Intinya semuanya sudah selesai,” ujarnya.

“Semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran untuk semuanya dan jangan sampai terulang kembali,” timpal Agung.

Dirinya mewakili Z dan keluarga menyatakan sudah memaafkan semua pihak. Dan juga mengucapkan terima kasih bagi semua pihak yang telah peduli dengan Z.

Saat ditemui, Z mengungkapkan bahwa dirinya sudah lebih baik tapi dirinya sudah bulat untuk memutuskan untuk pindah dari SMA N 1 Gemolong.

Dari penjelasan koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS), Sugiarsi menuturkan bahwa yang menjadi fokus sekarang adalah penyembuhan psikis dari Z.

“Jangan sampai kasus serupa dapat terulang lagi. Masalah pindah sekolah adalah cara menyembuhkan psikis Z. Keputusan pindah sekolah merupakan hak dari Z dan keluarga,” ungkap Mami (panggilan akrabnya) pada Justisia.com sebelum melakukan pendampingan psikis kepada Z.

Reporter: Sidik
Penulis: Sidik, Rais
Editor: Harly

Baca juga:  Liverpool Gagal Raih Invicible

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here