Potret Hellenisme Pertama dalam Sejarah Umat Islam

0
173
kredit foto : wikipedia
Website | + posts

Oleh Rusda KZ (Alumnus Ponpes Mamba’us Sholihin Gresik)

justisia.com Akal merupakan salah sekian anugerah agung yang diberikan Allah kepada ummat manusia. Bahkan, akal menjadi prasyarat kesempurnaan agama. Sederet ayat Al-Qur’an beserta Hadits menerangkan keutamaan akal. Al-insan al-hayawan an-nathiq, begitulah maqolah Imam Al-Ghazali yang menyiratkan identifikasi bahwa manusia lain dari binatang pada lazimnya.

Tertelusur dalam puing-puing peradaban ummat Islam, gejolak dinamika pemikiran menemukan momentumnya pada masa kaum Mu’tazilah. Selama ini, golongan Sunni mengakui bahwa peristiwa di masjid Basrah menjadi penanda utama kemunculannya.

Tepatnya, ketika Hasan al-bashri (w. 110 H/728 M) dalam suatu sesi kuliahnya dimintai pendapat tentang seorang muslim pendosa besar (red: anggapan kaum Khawarij).

Namun, sebelum Hasan tuntas dengan penjelasannya, Washil ibn ‘Atha’ (80-132 H/699-749 M), seorang muridnya yang cerdas yang kelak disebut sebagai pendiri gerakan Mu’tazilah, menginterupsi bahwa ia tidak setuju dengan pandangan kaum Khawarij yang menganggap pendosa besar itu telah kafir maupun pandangan kaum Murji’ah yang tetap mengatakannya sebagai muslim.

Menurutnya, muslim yang telah melakukan dosa besar itu berada di antara dua kedudukan, muslim-kafir (fimanzilah bain al-manzilatain).

Sekalipun gambaran di atas telah menunjukkan adanya gejala rasionalis dan ada pula yang beranggapan bahwa Mu’tazilah adalah golongan liberalis dalam Islam. Pandangan yang tampak berlebihan itu tidak sepenuhnya benar, sebab, dalam sejarahnya ketika Mu’tazilah mendapat tempat istimewa pada kekhalifahan al-Ma’mun (memerintah 198-219 H/813-833 M) mereka melancarkan gerakan Mihnah (inquisition, pemeriksaan paham pribadi), yang tidak sepaham dilibas habis.

Terlepas dari itu semua, konsekuensi logis dari sikap rasionalistik mereka beserta keyakinannya bahwa kedudukan akal setara dengan wahyu dalam memahami agama, Mu’tazilah boleh dikata sebagai golongan awal-awal yang dengan cukup antusias menyambut gelombang Hellenisme dari Yunani.

Berangkat dari sini pula muncul disiplin baru dalam Islam, yaitu ilmu kalam. Ini merupakan tahapan penting dalam perkembangan intelektual Islam, yang mana nantinya antara satu corak pemikiran keislaman dengan corak pemikiran keislaman yang lain saling meng-antitesis.

Kemelut gelombang Hellenisme sejalan dengan melemahnya rezim Umayyah di Damaskus. Momen ini tentu saja dimanfaatkan kaum revolusioner Abbasiyah berbekal paham Mu’tazilah beserta kaum Khawarij dan Syi’ah yang selama ini beroposisi terhadap rezim Damaskus, untuk menjomplangkan rezim Umayyah sepaket dengan paham Jabariyahnya.

Pasca itu, dalam waktu tertentu ketika khalifah al-Ma’mun menjabat, Mu’tazilah resmi diangkat menjadi paham kekhalifahan. Meski nantinya kedudukan kaum Mu’tazilah di dalam kekhalifahan tidak terlalu lama—antara lain karena kesalahan mereka sendiri, yang melancarkan mihnah.

Tetap saja pikiran-pikiran mereka telah membuka kran lebar-lebar bagi masuknya gelombang Hellenisme yang pertama, yang berlangsung sekitar 130-340 H/750-950 M.

Setali tiga uang dengan gelombang Hellenisme, al-Ma’mun mendirikan yang namanya Bait al-hikmah (wisma kearifan). Seluruh kegiatan pengetahuan ilmiah mulai dari penerjemahan karya-karya Yunani kuno ke dalam bahasa Arab sampai berkembangnya pemikiran spekulatif terpusat di sana.

Aristoteles menjadi salah satu yang memikat cendekiawan muslim untuk mempelajarinya. Darinya, mereka mengambil metode berpikir sistematis dan rasional atau biasa disebut al-manthiq (logika formal), di samping juga banyak lainnya. Aristoteles dipandang sebagai al-mu’allim al-awwal (guru pertama), marasuk ke dalam khazanah pemikiran Islam.

Waqiila dalam satu pendapat, sesungguhnya pemahaman sebagian besar kaum muslim atas Aristoteles melalui perantaraan kacamataNeoplatonisme, yang mana lewat karya-karya penafsir, khususnya karya-karya Plotinus dan Porphyry. Kendati demikian, kaum muslim kurang menyadarinya (Neopltanisme).

Dugaan kuat mengapa kaum Muslimin menerima pandangan dan mempelajari Neoplatonisme disebabkan kesamaannya dalam paham ketuhanan yang bernuansa tauhid. Sebagaimana pula mereka menerima dan mempelajari logika formal, sejalan dengan bentuk pengejawantahan perintah Qur’an untuk berpikir.

Berkat pengaruh pandangan Neoplatonisme, kelak bidang kosmologi para failasuf muslim didominasi oleh paham pemancaran atau emanasionisme (al-faidhiyyah), yang nantinya juga akan membekas dalam beberapa ajaran sufisme.

Kaum jama’ah dan sunnah semula enggan ikut campur dalam arus Hellenisme. Tapi secara umum kaum Muslimin menghendaki mempelajari pikiran-pikiran asing itu dengan tekun disertai kemantapan beragama dan percaya diri secukupnya untuk mengembangkan filsafat dan mewarnainya dengan corak keislaman padanya. Maka lahirlah suatu disiplin baru, yaitu al-falsafah.

Di antaranya yang muncul waktu itu ialah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al-Sabbah al-Kindi (wafat sekitar 257 H/870 M). Ia dikenal sebagai failasuf bangsa arab[1]. Dengan kegigihannya berupaya mengislamisasi ajaran pagan dari Yunani itu.

Perlu digarisbawahi, invasi Hellenisme merupakan suatu pengalaman yang tercampur antara manfaat dan mudarat bagi kaum Muslimin. Karenanya pula diantara mereka terbagi antara yang menyambut dan menolak. Barangkali ini pula adalah suatu tantangan zaman mereka.

Masa-masa sekitar pertengahan abad dua Hijriah sampai pertengahan abad ketiga Hijriah boleh dikata masa paling krusial. Betapa tidak? perumusan pondasi ajaran Islam seperti yang kita kenal sekarang,  bermula dari masa ini.

Di samping munculnya ilmu kalam yang dipelopori kaum Mu’tazilah serta filsafat akibat gulungan ombak Hellenisme, tepat pada dekade ini juga tercatat sebagai proses perumusan paham mayoritas ummat, yaitu paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah atau paham Sunni.

Tak ketinggalan pula, pembakuan yurisprudensi (fiqh) semakin mantap berkat ijtihad para sarjana besar hukum Islam, sebagaimana para pendiri aliran empat madhzhab yang diakui sama-sama valid dan sah. Antara lain madzhab Hanafi (oleh Abu Hanifah, w.150 H/767 M), madzhab Maliki (oleh Anas ibn Malik, w. 179 H/795 M), madzab Syafi’i (oleh Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, w.204 H/819 M), dan madzhab Hanbali (oleh Ahmad ibn Hanbal, w.241 H/855 M).

Selain bidang yurisprudensi, Sunnah pun mengalami pembakuan. Tidak dibiarkan lagi beredar bebas tanpa pengawasan melalui teori dan metode tentang Hadits (‘ilm Mushthalah al-Hadits) yang telah dirumuskan.

Kodifikasi Hadits telah menstabilkan golongan ahl as-sunnah wa al-jama’ah, serta membedakan golongan ini dengan golongan islam lainnya. Pada mereka, setelah Al-Qur’an, tertulis sumber pegangan pemahaman agama, yaitu kitab-kitab Hadits. Ada sebanyak 6 kitab hadits termasyhur yang biasa disebut kutub al-sittah.

Kaum Sunni pun tak mau kalah menggeluti ilmu kalam, sebab, mereka merasa perlu merumuskan pemikiran sistematis dan rasional tentang pemahaman ajaran pokok mereka, meski sebelumnya ilmu kalam merupakan kesibukan kaum Mu’tazilah.

Mau tidak mau mereka merumuskan pandangan dalam bidang teologi, karena bila tidak, dikhawatirkan ummat Islam akan tenggelam dalam Hellenisme total.

Tampilnya Abu al-hasan al-asy’ari (w.300 H/915 M) dengan sederet karyanya menjadi penentu dalam bidang teologi Sunni. Memang, awalnya ia adalah seorang Mu’tazilah, tapi karena beberapa alasan perbedaan pemikiran dan kekecewaannya pada Mu’tazilah, akhirnya di umur 40an tahun al-asy’ari meletakkan paham tersebut dan memeluk paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah.

Al-Asy’ari dengan gencar melakukan reformasi dan tercatat sebagai salah satu yang paling sukses. Pertama, berbekal logika Mu’tazilah sendiri ia berhasil melumpuhkan gerakan itu. Kedua, ia bak pendekar ummat Islam dalam membendung gelombang Hellenisme pertama. Dengan begitu ia telah berhasil memantapkan kedudukan ilmu kalam dalam bangunan intelektual Islam.

Dengan sistematikanya, Asy’arisme berhasil membuat jalan tengah antara paham jabariyah dan Qadariyyah, penengah antara dogmatisme kaum Sunni konservatif dan rasionalisme kaum Mu’tazilah. Maka, ilmu kalam al-Asy’ari sangat cepat menyebar dan diterima sebagai rumusan ajaran pokok (ushul al-din) yang sah hingga hari ini di seluruh penjuru dunia Islam. Patut diingat pula, al-Asy’ari juga tidak kebal terhadap serangan yang sering menuduhnya menyeleweng atau malah kafir.

Editor : Afif

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM


[1] Tidak saja dalam pengertian etnis (berasal dari daerah Selatan Jazirah Arabia, suku Kindah, maka disebut al-kindi), tapi juga dalam pengertian kultural.

Baca juga:  Perempuan yang Berkabung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here