Perjuangan Warga Urutsewu Buktikan Kebenaran dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar

0
77
Perjuangan Warga Urutsewu Buktikan Kebenaran dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Kredit foto: Gesuri
Adetya Pramandira

Kebumen, Justisia.com – Perjuangan warga Urutsewu melawan TNI AD mengenai sengketa lahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun belum usai. Ketua Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) Seniman, menilai bahwa perjuangan rakyat Urutsewu bukan sekadar memperjuangkan hak melainkan perjuangan dalam membela kebenaran.

“Jadi motivasinya itu bahwa ada kebenaran yang ada di Urutsewu dan kebenaran itu harus dibuktikan,” ungkap Seniman pada Jumat (13/11/20).

Seniman menjelaskan bahwa tanah Urutsewu adalah tanah turun-temurun dengan batas selatan laut yang saat ini diklaim menjadi milik TNI-AD.

Tanah itu berasal dari konversi “hak yasan” yang tentu diakui oleh negara dibuktikan dengan munculnya sertifikat setelah konversi tersebut. Hak yasan sendiri adalah hak atas kepemilikan lahan yang diperoleh secara turun-temurun sesuai dengan adat setempat.

“Kemudian kebenaran itu dilihat dari penyampaian turun-temurun yang kemudian dibenarkan oleh akta jual beli. Di tahun 62 sampai tahun 69 sudah ada sertifikatnya,” tutur Seniman.

Baca juga:  CSS MoRA UIN Walisongo Selenggarakan Falak Expo 2016

Dalam sertifikat itu dijelaskan bahwa tanah tersebut konversi asal persilnya adalah konversi hak yasan. Persil adalah sebidang tanah dengan ukuran tertentu (untuk perkebunan atau perumahan).

Meski demikian, Seniman menilai BPN tidak mau belajar tentang sejarah tanah di Urutsewu dan memberikan program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) kepada masyarakat secara serampangan.

“Saat ini PTSL itu tidak menggunakan konversi hak yasan. Tapi dia menggunakan asal persil adalah [sebagai] pemberian hak yang artinya dia menganggap tanah itu milik negara. Padahal kebenaran yang ada di Urutsewu adalah tanah yasan, tanah turun-temurun,” imbuhnya.

Selain itu, menurut Seniman, perjuangan terus berlanjut karena tanah itu merupakan sumber penghidupan masyarakat. “Tanah itu adalah sumber ekonomi warga. Pertanian, peternakan kemudian termasuk untuk mencari ikan juga,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Sunu Nugroho, ketua Urutsewu Bersatu menjelaskan bahwa selama ini masyarakat Urutsewu telah memberikan keuntungan besar bagi negara karena tidak menjadi beban. “Harusnya ketika rakyat bisa cari makan sendiri, cari duit sendiri, jika tidak membebani negara itu kan untung besar. Apalagi jika rakyat juga tetap membayar pajak,” jelasnya.

Baca juga:  Thomas Djamaluddin: Hisab dan Rukyat Bukan Hal yang Terpisah

Ia menambahkan selama ini hasil pertanian masyarakat juga menjadi penyuplai kebutuhan pangan nasional sehingga membantu menjaga ketercukupan pangan. “Termasuk ketercukupan pangan nasional. Kebutuhan buah berapa ratus ton tersuplai dari Urutsewu setiap tahun. Untuk kebutuhan cabai berapa ratus ton itu kan jelas itu,” tukas Sunu. [Rep. Dera / Red. Sonia]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here