Warga Cakrawala Melawan Keadaan (2)

0
177
Kampung Cakrawala yang ada di bawah Jembatan Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang Barat / Kredit foto: Anisa Yuliani

Ikhtiar Pasca Penggusuran

Setelah penggusuran warga mencoba mengambil sisa-sisa bangunan yang masih bisa dipakai, seperti kayu, triplek, genteng, dan lain-lain.

Agar bisa bertahan, untuk sementara waktu para warga mendirikan tenda-tenda darurat di kolong jembatan Cakrawala, di bawah lalu lintas padat Jalan Arteri Yos Sudarso.

“Setelah digusur saya berniat mau ngontrak, namun gak jadi, wes lah podo-podo ngerasakno konco-konco, akhirnya saya tinggal di bawah jembatan itu, dari pada habis buat ngontrak, mending uangnya disisihin, ditabung buat beli rumah yang baru, buat nyekolahin anak juga,” ujar Ketua RT, Agus.

Pada saat itu kondisi anak-anak tidak terurus. Sementara ibu-ibu gelisah. Mereka memikirkan bagaimana nasib mereka kedepan.

Selang bebeberapa waktu, mereka yang belum lama mendirikan tenda-tenda darurat itu, mendapat teguran dari aparat terkait karena tenda-tenda darurat itu bisa merusak tata kota dan insfrastruktur kota.

Seperti mendapat alarm, warga yang baru kehilangan tempat tinggalnya itu kembali panik. Takut kejadian penggusuran terulang kembali.

“Wah kalau penggusuran tuh, tragis, yang namanya alat berat, satpol PP, sampai nangis-nangis. Waktu dulu di kampung sebelum digusur sekitar 12 gang,” ujarnya mengenang penggusuran yang pernah ia dan warganya alami.

Baca juga:  FSH Adakan Tasyakuran Kemenangan Orsenik

Kata ketua RT setempat, Agus, saat akan digusur, salah satu warga meninggal dunia karena serangan jantung. Diduga kaget akan mengalami penggusuran kedua kalinya.

Setelah mendapat teguran sekaligus larangan, sejumlah tokoh masyarakat bersama para warga berembug untuk mendiskusikan tentang perlawanan. Jalan yang mungkin dilakukan untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada penggusuran kembali.

Singkat cerita, hari yang paling ditakutkan warga kampung Cakrawala ternyata benar-benar terjadi. Mereka mesti menghadapi satpol PP lengkap dengan alat berat yang sudah siap menggusur kapan saja jika ada perintah turun.

Hari itu, beberapa warga ditangkap dan ditahan. Mereka dianggap provokator, meski sebenarnya tidak begitu. Nasib baik mereka bebas setelah ditahan Polisi selama 24 jam.

Percobaan penggusuran berlangsung menegangkan. Saat itu perwakilan dari masyarakat meminta untuk bernegosiasi. Kemudian mereka yang mewakili pihak warga membuat kesepakatan dengan satpol PP.

Kedua pihak sepakat bahwa warga Cakrawala diperbolehkan mendiami wilayah bawah jembatan karena tidak punya tujuan lain, tetapi dengan syarat, tidak akan ada penambahan jumlah penghuni “rumah” darurat tersebut, dan akan segera pindah jika sudah membeli rumah, dalam artian tidak akan tinggal selamanya daerah itu.

Baca juga:  Habib Ali Zainal Abidin: Kemanusiaan Harus Mendahului Keberagamaan

“Bertempat di kolong jembatan saya tahu bahwa asalnya adalah larangan mas, ya gimana lagi, kami bertempat di kolong tuh mau usir satpol PP, kami akhirnya berdamai kalau kami tidak akan menambah populasi penduduk,” terangnya.

“Sewaktu penggusuran saya sempat dipenjara 24 jam, tapi ya biasa lah diintrogasi tidak di apa-apain kok. Paginya sekitar jam 9 saya dibebaskan. Dulu, semua ini (sambil menunjuk kampung bawah kolong jembatan) dikasih tenda mas. Sisa bangunan penggusuran yang tidak bisa dipakai kami jual buat makan sehari-hari kami,” ujar Agus.

“Kalau dilihat yang alhamdulilah berhasil, yang tadinya 75 KK kini tersisa 45 KK. Saya mengimbau warga untuk rajin-rajin menabung, supaya bisa segera pindah dari tempat ini, Alhamdulilah diberi kelonggaran oleh pemerintah kota.”

“Bukan berarti diizinkan tapi diperbolehkan. Dulu kami lesehan di sini mas, rumah ini sisa penggusuran yang masih bisa dipakai,” jelasnya sambil menunjuk ke atap rumah.

“Kami menggunakan tenda tenda selama kurang lebih 1 tahun pada waktu itu.”

Baca juga:  Bintang Putriyama: Santriwati, Owner Hijab

Satu tahun setelah digusur mereka mulai membangun kembali rumah seadanya dari sisa-sisa bangunan rumah yang dulu digusur untuk mengganti tenda-tenda darurat itu.

“Dulu saat pertama kali di kolong jembatan saya tidak betah, ya gimana lagi, wong di atas ada tronton, mobil-mobil lewat, samping ada kereta, atas ada pesawat yang turun landasan, kan suaranya keras, bagaimana kalau jembatan ini roboh, saya gak tenang dan gak bisa tidur, tapi ya lama-kelamaan akhirnya betah juga, udah terbiasa,” lanjutnya.

Dari penelusuran kami, tidak ada ganti kerugian dari pihak swasta yang menggusur tempat ini. “Pemerintah memberi uang prihatin mungkin mas, sebanyak 1,5 juta per KK, tapi tidak semua mendapatkan itu,” kata salah satu warga.

Ke bagian 3-habis disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here