Perjalanan Sang Profesor

0
480
Jejak perjalanan Prof. Dr. Musahadi, M. Ag. / Infografis: Haidar

“Untuk menjadi seorang guru besar tentu tidak terbayangkan sebelumnya. Karena saya ini orang kampung, orang ndeso,” ujar Musahadi mengenang kisah hidupnya.

Sidang Senat Terbuka UIN Walisongo pada Rabu, (08/01/2020) yang dipimpin oleh ketua Senat Muhibbin Noor mengukuhkan Musahadi sebagai guru besar bidang Ilmu Hukum Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo.

Acara yang digelar di Auditorium II Kampus 3 itu dihadiri civitas akademik juga kolega dan tamu undangan; seperti Kodam IV Diponegoro, Polda Jawa Tengah, MUI Jawa Tengah, dan Rektor Perguruan Tinggi Keislaman yang ada di Jawa Tengah.

Di halaman sekitar Auditorium warna-warni deretan karangan bunga berjajar rapi juga beberapa pada trotoar jalan di depan Audit.

“Bahkan temen-temen saya bilang desa saya itu termasuk kategori desa yang sangat pelosok. Saya juga dari kalangan yang tidak terlalu punya duit untuk bersekolah, kuliah,” lanjut Musahadi mengenang.

“Tetapi Alhamdulillah faktanya saya bisa tetep sekolah. Karena perjuangan yang luar biasa,”.

Semasa sekolah Musahadi hampir tidak memiliki waktu untuk belajar.

“Karena siklus hidup saya itu dari bangun tidur pagi sekali saya harus jalan kaki dulu ke kota untuk sekolah. Kemudian pulang sekolah Ashar sampai di rumah sudah.

Dan begitu makan siang istirahat sebentar saja sholat setelah itu langsung ke tambak, karena salah satu tugas saya adalah mengurus tambak, sebagai sumber ekonomi keluarga,”.

Sebagai anak bungsu ia tak bisa berleha-leha saat. Inisiatifnya membukat tambak agar dapur tetap kebul.

“Sewaktu bapak sakit dan semua kakak saya dah terlanjur sekolah dan kuliah di Yogya. Mbak mondok menghafal quran di Semarang. Saya nggawangi tambak supaya roda ekonomi keluarga tetap berputar dan kakak-kakak tetap bisa belajar,” tuturnya.

“Nah itulah yang membuat saya itu pesimis sebenarnya dan tidak pernah berani untuk bermimpi, apalagi sampai menjadi guru besar. Itu sebabnya saya sangat bersyukur Alhamdulillah berkat doa dan dukungan kedua orangtua, saudara-saudara, berkat dukungan kawan-kawan saya bisa sampai seperti sekarang ini,”.

Anak bungsu pasangan Ali Munawar dan Salamah al-Hafidzah itu tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa melanjutkan studi formalnya hingga tamat S1, bahkan bisa menjadi seorang guru besar (profesor).

“Saya itu empat bersaudara, dan semuanya bersekolah dan di pesantren. Sesungguhnya kami ini tidak mungkin untuk mengenyam pendidikan sampai di peguruan tinggi. Bapak saya pernah bilang, ‘ibarat orang yang memikul, aku iki wes orak kuat mikul [saya sudah tidak kuat memikul, red].

Baca juga:  Mahasiswa KKN mandiri Direlokasi

Tapi tetep pikulane iku tetep tak kekne nang pundakku, tak kuat-kuatke [tapi pikulan itu tetap saya letakkan di pundak, saya kuat-kuatkan]. Tapi asline sakbenere wes orak kuat [sekalipun sebenarnya sudah tidak kuasa],'” Musahadi menuturkan perkataan bapaknya, Ali Munawar.

“Kalimat itu berkali-kali disampaikan kepada saya. Itulah sebabnya saya merasa harus sukses. Karena pengorbanan orangtua saya itu luar biasa,” lanjut pria yang juga kerap disapa Pak Musa.

“Prinsipnya adalah kalau kita memiliki keteguhan hati dan motivasi yang besar, InsyaAllah semuanya bisa dicapai,”.

Bangkit dari keadaan

Ditinggal ibu kandung, Salamah, saat usia 1 tahun tak menyurutkan semangat hidup Musahadi. Mustainah, ibu sambungnya pernah harus menjual perhiasannya ke pasar demi anak bungsunya itu bisa melanjutkan perkuliahan.

“Satu hal yang mungkin tidak terlupakan dalam hidup saya adalah ketika kuliah saya ini bayar SPP yang sebenarnya sangat kecil itu ya ngga mampu,”.

Hal ini berbanding terbalik dengan cerita rakyat tentang Ibu sambung. Mustainah, di mata Musahadi luar biasa sayang dan berkomitmen pada kesuksesan anak-anaknya. “Meskipun bukan anak kandungnya,” paparnya.

“Saat saya harus mengajak ibu saya ke kota menjual perhiasannya yang dipakai. Itulah barangkali yang membuat saya tidak pernah bermimpi untuk bisa menjadi guru besar sekarang ini,”.

Hal itu juga yang membuat Musahadi tidak kuasa menahan air matanya saat mengingat kedua orangtuanya saat diwawancarai WalisongoTV.

“Ya itulah sebabnya maka saya kepingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang selama ini memungkinkan saya untuk tetap bisa sekolah.

Dan memungkinkan saya untuk tetap bisa istiqomah [tetap, senantiasa, red] belajar, meskipun serba dalam keterbatasan. Terutama kedua orangtua saya,”.

“Bapak saya adalah orang yang luarbiasa, visioner, berkomitmen tinggi, teguh pada cita-cita agar anak-anaknya bisa menjadi anak-anak yang berguna,”.

“Saya terimakasih kepada guru-guru saya, kiai-kiai saya, dosen-dosen saya, teman-teman saya yang luar biasa membantu meraih cita-cita. Terimakasih,”.

Pria empat anak juga memohon doa serta restu atas pengukuhannya menjadi guru besar.

“Mohon doa semoga capaian ini betul-betul menjadi capaian yang berkah dan juga bermanfaat,”.

Musahadi di mata isteri

Isteri Musahadi, Mahmudah juga tak kuasa menahan tangisnya saat suaminya tengah membacakan pidato pengukuhan guru besarnya.

Ditemani keempat anaknya; Afaz, Zife, Havez, dan Ichad, dalam amatan wartawan Justisia.com ia sesekali menunduk dan mengusap air mata yang ada wajah dan ujung-ujung matanya.

Baca juga:  Jadwal Imsakiyah dan Awal Ramadhan Masih Menjadi Perdebatan

“Bapak itu sebagai bapaknya dari anak-anak itu multi-talent. Kalau dia sebagai pengajar atau dosen tidak hanya mengajar saja tetapi juga nyanyi, ngaji, termasuk ngisi-ngisi pengajian, itu Alhamdulillah itu ada saja [yang dilakukan Musahadi],”.

“Di samping orangnya kelihatan menegangkan tapi kalau diajak ngomong ya sebenanrnya slow-slow [santai, red] aja. Welcome [terbuka, red] dengan siapa saja. Bagi anak-anak beliau itu diteladani. Jadi apa yang diajarkan dia juga praktikan,” lanjutnya.

Mahmudah bertambah sesenggukan saat Musahadi juga tak kuasa membacakan ucapan terimakasihnya. Hingga beberapa detik pidato sempat terhenti.

“Di masyarakat juga berusaha untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa. Pas ibu-ibu ada kegiatan meski hanya sebentar tapi berusaha untuk ngetok [menampakkan diri, berbaur, red],” ujar Mahmudah dalam wawancara dengan WalisongoTV.

“Bersama-sama itu bagaimana caranya, baik yang sifatnya kerja bakti ataupun dalam rangka menghidup-hidupkan kegiatan mushala,”.

Di mata Mahmudah, sebagai suami, Musahadi adalah sosok yang peduli sekaligus perhatian.

“Orangnya care [peduli, red] terhadap isteri; ya menghibur ya komunikatif,” jelas Mahmudah.

Kuliahnya sang profesor

Musahadi menempuh studi S1 di UIN Walisongo, yang dulu masih bernama IAIN Walisongo, dan lulusa pada tahun 1993. Ia mengambil jurusan Peradilan Agama pada Fakultas Syariah.

“Waktu kuliah saya itu dikenal sebagai aktivis yang ngga karuan sebenarnya. Karena saya ngga pernah merasa puas hanya mendapat ilmu dari dosen kelas,” ujar Musahadi.

“Saya ikuti berbagai kegiatan kampus. Kegiatan di bidang musik, teater, yang semua saya lakukan dalam rangka memanfaatkan potensi yang ada dan memanfaatkan fasilitas kampus yang tersedia,” lanjut pria yang pernah mondok di Pondok Pesantren Al-Islah Demak itu.

Musahadi mengatakan, saat kuliah waktu normal 24 jam itu kurang.

“Waktu saya 24 jam itu untuk belajar, menempa diri, tidak hanya yang berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalam kelas, tetapi juga keterampilan soft skill yang kira-kira dibutuhkan untuk kehidupan saya di masa yang akan datang,”.

Musahadi juga menyadari bahwa selama perjalanannya hingga kini semata-mata tidak diraih atas capaian pribadi.

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dapat saya raih saat ini bukanlah semata-mata usaha dan perjuangan saya pribadi. Di sana ada keterlibatan dan budi baik banyak pihak,”.

Lulus dari IAIN Walisongo, Musahadi melanjutkan kuliah S2 di IAIN Alauddin Makassar dengan jurusan Hukum Islam.

Musahadi dalam jejak

Baca juga:  Bawaslu Ajak Mahasiswa Awasi Pemilu 2019

Setelah lulus dari IAIN Alaudin Makassar pada 1998, lantas pria kelahiran Betahwalang, Demak itu melamar kekasihnya Mahmudah.

Ia kemudian mulai bekerja di instansi yang sama saat ia menempuh studi S1, IAIN Walisongo.

Di tahun-tahun itu juga Musahadi menjadi tenaga pendidik di IAIN Walisongo. Selama di IAIN Walisongo, Musahadi pernah menjabat sebagai pembantu dekan I Fakultas Syariah pada tahun 2006 sampai 2010.

Di Kopertais Wilayah X Jawa Tengah ia juga pernah dipercaya sebagai wakil koordinator pada tahun 2011 hingga 2012. Selain itu, jabatan wakil rektor I bidang akademik dan kelembagaan juga pernah diamanatkan padanya pada tahun 2013 sampai tahun 2019.

Musahadi juga telah menelurkan banyak karya, di antaranya; ada puluhan buku, bab, jurnal, makalah, dan penelitian yang telah ia buat.

Tiga di antara karya yang mashur adalah Evolusi Konsep Sunnah: Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam (2000), Membangun Negara Bermoral (2004), dan Mediasi dan Resolusi Konflik di Indonesia: dari Konflik Agama hingga Mediasi Peradilan (2007).

Selain itu pelatihan profesional yang pernah ia ikuti adalah Training on Mediation and Conflict Resolution yang diadakan oleh Arizona State University dan Workshop on Community Organizing and Social Development yang diadakan McGill University Canada. Masing-masing pada tahun 2006 dan 2005.

“Dengan tulus saya mohon doa restu dari semua semoga saya bisa memikul amanat sebagai guru besar ini dengan sebaik-baiknya dan dapat bermanfaat serta dapat menghadirkan kemaslahatan bagi agama, nusa, bangsa, dan umat manusia,” ujar Musahadi melanjutkan pidatonya yang sempat terhenti.

Musahadi mengakhiri pidato dengan prosa menggelitik .

“Mengakhiri pidato ini, saya sampaikan sebuah refleksi untuk para kolega dosen sebagai berikut: Jika sebagai dosen kita tidak bisa menjadi rektor atau wakil rektor, dekan atau wakil dekan, sesungguhnya tidak ada yang salah sama sekali.

Karena kursi jabatan rektor, wakil rektor, dekan, dan wakil dekan itu sangat terbatas dan yang menentukan adalah orang lain.

Tetapi jika sebagai dosen kita tidak bisa menjadi guru besar, sesungguhnya harus serius kita evaluasi. Karena kursi jabatan guru besar itu tersedia tanpa batas dan pada dasarnya kita sendiri yang menentukan,” tandas Musahadi diikuti gelak tawa serta tepuk tangan dari para peserta Sidang Senat.

Pada studi S3 Musahadi melanjutkan konsentrasinya mengambil bidang Hukum Islam pada Studi Islam IAIN Walisongo, dan meraih gelar doktoralnya. (Am/Hrl)

Penulis: Afif

Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here