Pendidikan Ramah Budaya ala Sokola Institute

0
332
Tur Buku Melawan Setan Bermata Runcing oleh Sokola Institute chapter Semarang, di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Senin (3/2/2020). / Foto: Sokola Institute

Semarang, Justisia.com – Sokola Institute menerbitkan buku barunya yang berjudul “Melawan Setan Bermata Runcing.”

Buku itu ditulis oleh lima orang pegiat Sokola Institute, yaitu Aditya Dipta Anindita, Butet Manurung, Dodi Rokhdian, Fadilla M. Apristawijaya, dan Fawaz.

Sokola Institute pun mengadakan tur buku tersebut yang tujuannya adalah membedah dan berdiskusi bersama. Kota-kota yang menjadi tujuan adalah Bandung, Semarang, Yogyakarta, Jember, Gianyar, dan Mataram.

Hari Senin, 3 Februari 2020 tur buku Sokola terjadwal di kota Semarang yang dilaksanakan di Wisma Perdamaian.

Acara tersebut dihadiri oleh kelima penulis buku dan satu dosen FIP UNNES. Dalam kesempatan tersebut saya merasa beruntung bisa menghadirinya.

Baca juga: Cinta Bukanlah Tuhan, Tak Perlu Kau Sembah

Didirikan pada tahun 2003 oleh Butet Manurung dan empat rekan pendidik, Sokola memberikan kesempatan pendidikan bagi masyarakat adat Indonesia.

Sokola menggunakan metode praktik membaca-menulis-berhitung yang dikembangkan Butet Manurung selama bertahun-tahun tinggal bersama Orang Rimba di beberapa hutan di Jambi.

Dalam proses pendidikannya, pendidik dari Sokola tidak lantas bersifat superior atau lebih tinggi dari murid-muridnya.

Baca juga:  Nasib Seorang Buruh

Seperti yang dikatakan Fadila bahwa, “Sokola selalu menempatkan masyarakat atau murid atau komunitas sebagai subjek, bukan objek. Dan di Sokola kami [pendidik dan murid, red] sama-sama menjadi subjek,” ungkap wanita yang menjabat koordinator program Sokola.

Di tempat mengajar, kata Dodi, sebisa mungkin tim Sokola memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana.

Selain itu, “kami harus memahami apa permasalahan yang sedang dihadapi dalam keseharian mereka,” ujar Dodi Rokhdian.

Baca juga: Habib Luthfi: Mengenal Jati Diri sebagai Garis Awal Kemajuan

Dodi, melanjutkan, “bahasa yang kami gunakan adalah bahasa asli daerah rimba, tujuannya yaitu selain mempermudah komunikasi juga untuk menjaga kebudayaan di sana,”.

Kerelawanan

Proses penyeleksian volunter [relawan, red] dilakukan sangat ketat. Prinsip mereka adalah, “ketika tinggal di suatu komunitas, kami paling menghindari cara memandang kenyataan di suatu tempat dengan kacamata kami sendiri.

jadi kami harus menyesuaikan dengan pandangan suatu komunitas [masyarakat adat, red] tersebut,” kata Anindita saat menjelaskan tentang kerelawanan Sokola Institute.

Baca juga:  DPRD Jateng Janji Akan Teruskan Tuntutan ke Pusat

Menurutnya, “volunter [relawan, red] yang menyedihkan itu yang biasa hidup di kota namun tidak bisa menempatkan diri di komunitas. Mereka tidak bisa melepaskan atribut dan pemikiran perkotaannya.”

Ia memberi contoh seorang relawan di Papua yang menanyakan cita-cita pada muridnya, ketika sebagian besar murid menjawab cita-citanya petani, volunter itu geleng-geleng sedih. Sang volunter hanya menganggap cita-cita yang bagus itu seperti profesi-profesi yang ada di perkotaan.

Pendidikan Sokola

Butet Manurung selanjutnya membahas tentang metode pendidikan di Sokola.

“Sebelum proses belajar baca-tulis, teman-teman harus menggunakan dialek lokal, kalau tidak bisa kami menggunakan penerjemah namun kami tetap belajar bahasa dan dialek di sana,”

“Kemudian kita juga harus tahu apa yang khas dari daerah tersebut, dan pendidikan yang diajarkan [Sokola] harus mempertahankan adatnya bukan meninggalkan,” ujarnya.

Baca juga: Gus Mus Sampaikan Harapan Gus Sholah

Butet memberi contoh menarik ketika dia mengajarkan baca tulis kepada anak-anak rimba. Saat itu Butet menganggap anak didiknya sudah cukup bisa membaca dan menulis, lalu ia membawa anak-anak itu ke pasar.

Baca juga:  Semua Agama Memerintahkan Kebaikan

Ia berikan kertas dengan tulisan daftar belanjaan yang harus dibeli oleh anak-anak. Butet bilang, “kalian harus bisa membaca daftar belanjaan ini, ibu guru menunggu di sini,” ujarnya mengenang.

Beberapa saat kemudian seorang anak datang dengan girangnya, “ibu guru, ibu guru, saya senang sekali dibilang orang Jawa sama penjualnya.”

Selepas Butet memberi contoh itu, ia menjelaskan kepada audien bahwa sebenarnya bukan itu harapan utama adanya Sokola ini, karena “kami bukan ingin membuat mereka bangga dengan orang lain, kami ingin membuat mereka bangga dengan apa yang ada pada mereka sendiri,” jelas wanita berambut gelombang.

Penulis: Arifan

Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here