Nur Pitutur Luhur Mbah Moen

0
248

Kehilangan sosok Ulama kharismatik, alim dalam multidisipliner ilmu layaknya KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) merupakan sebuah kehilangan teramat sangat bagi semua umat Islam Nusantara.

Buku: KH. Maimoen Zubair Nur Nabi Muhammad SAW
Penulis: Amirul Ulum
Penerbit: Ulama Nusantara Center
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: xxiv + 418
ISBN: 978-602-5653-56-8
Peresensi: Sidik Pramono

Sedo-nya beliau saat pelaksanaan haji yang tidak disangka-sangka, menambah daftar panjang berpulangnya pelita umat di dunia yang gelap ini.

Kepulangan beliau ke hariban Allah SWT laksana menghilangnya gerimis hujan yang menyejukkan di tengah gersangnya kemarau di hati. Dawuh-dawuh yang menjadi rambu dan penunjuk jalan baik urusan dunia atau akhirat sudah tidak bisa kita dengar melalui lisan mulia Sang Syaikhuna.

Namun, kebenaran adagium “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading” memang benar adanya. Kepergian Mbah Moen menghadap Kekasihnya tidak serta merta melenyapkan eksistensi beliau dari muka bumi. Lewat karya-karyanya, murid-muridnya, dan ilmu-ilmunyalah kita dapat merasakan bahwa Mbah Moen tetap hidup dan ada.

Hal ini pulalah yang coba dilakukan oleh salah satu santri Mbah Moen, Amirul Ulum. Dalam buku “KH. Maimoen Zubair Nur Nabi Muhammad SAW” ini, Amirul melakukan upaya untuk mengumpulkan nur-nur yang terkandung dalam pitutur luhur dari gurunya sewaktu sugeng di dunia. Buku setebal 418 ini berisikan kumpulan tulisan yang disarikan dari dawuh-dawuh Mbah Moen saat  tausiyah, ngajar ngaji, serta petuah di berbagai tempat.

Baca juga:  Menteri Koperasi dan UMKM RI, Tak Bisa Hadir dalam PAg Kopma Walisongo

Penyusunannya yang disajikan berupa bagian-bagian akan memudahkan pembaca.  Pembaca tidak harus membaca dari bagian awal hingga akhir secara sistematis. Sebab dari bagian satu dengan bagian yang lainnya berdiri sendiri-sendiri.

Dengan buah karyanya, Amirul seolah menghadirkan sosok Mbah Moen yang kharismatik kehadapan pembaca yang seolah sedang memberikan wejangan mengenai berbagai bahasan kompleks pasal dunia maupun akhirat. Tulisan yang ada dalam buku Amirul tersebut memang merupakan sari dari tausiyah-tausiyah Mbah Moen. Hal ini tergambar dari bahasa yang digunakan sangat lugas, jelas, dan mudah dipahami.

Begitu pula struktur kalimatnya kebanyakan yang digunakan adalah kalimat langsung. Dan yang menjadi ciri yang paling kentara adalah pengulangan materi sebagaimana saat seorang kyai memberikan ceramah atau wejangan untuk para santri.

Sebagai misal: pembahasan mengenai jangan mencela orang lain, pembahasan soal penciptaan bumi, Nur Nabi Muhammad SAW (sebagai judul), penciptaan bumi dan langit, yang akan ditemukan pembaca di beberapa bagian dengan gaya penyampaian serta benang merah tidak jauh berbeda.
Yang dilakukan oleh seorang yang nyantri di PP Al-Anwar, Sarang selama kurang-lebih 8 tahun ini adalah upaya mengumpulkan puing-puing nurul Ilmi dari tausiyah Syaikhuna Maimoen Zubair sewaktu gesang di dunia agar dapat dipelajari generasi selanjutnya yang belum sempat bertemu dengan Mbah Moen.

Baca juga:  Feodalisme Jawa Menodai Gadis Tak Berdosa

Teks yang disajikan kepada pembaca juga meminimalisir istilah-istilah yang sukar dipahami khususnya bagi orang yang tidak mondok (seperti peresensi). Sebagai wujud implementasi pitutur luhur Mbah Moen yang mengisyaratkan “kelak akan ada orang yang belajar agama dengan menggunakan huruf latin. Tapi, jangan sampai kalian mencela mereka yang belajar dengan cara demikian.” Dan dalam karyanya ini, Amirul dapat menyarikan nur-nur ilmu yang terkandung dalam setiap pitutur luhur Mbah Maimoen Zubair.

Sayangnya, pembahasan mengenai Nur Nabi Muhammad SAW yang dijadikan judul buku ini pembahasannya kurang begitu panjang dan mendalam. Pembahasan yang dilakukan penulis buku, hanya menyajikan pembahasan Nur Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam 2 bagian dan di bagian epilog. Selain itu, dalam karya tersebut masih ditemukan beberapa kesalahan penulisan (typo) yang semoga dapat dikoreksi saat pencetakan karya ini selanjutnya.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada dalam buku tersebut, buku yang menyajikan kembali petuah-petuah Mbah Moen ini cocok untuk pembaca dari berbagai kalangan, baik dari santri sampai dengan orang yang tidak nyatri.
Semoga dengan karya dari Amirul ini, dapat menjadi awal dan rangsangan bagi muhibbin, santri Mbah Maimoen Zubair dalam menggali, mengumpulkan kembali nur-nur pitutur luhur dari Mbah Moen. Sehingga keberadaan Mbah Moen akan tetap dan terus ada hingga akhir zaman. Agar keberadaan salah satu Kyai kharismatiknya Indonesia ini tetap menjadi icon yang menjadi kebanggaan serta tauladan seluruh umat muslim Nusantara.

Baca juga:  Menjadi Manusia Seutuhnya ?

Terakhir, dengan karya dari Amirul Ulum ini bisa menjadi secawan madu yang dapat mengobati kerinduan jiwa para Muhibbin Mbah Moen. Serta dengan karya ini nur-nur ilmu dari Mbah Moen bisa dicicipi oleh setiap orang tanpa terkecuali.

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here