Niat Menuntut Ilmu, Jalan Pintas Mendapat Gelar Syahid

0
69
Harlianor
+ posts

Oleh: Harlianor

Kita sebagai muslim baik itu karena turunan ataupun karena muallaf, tentu sudah banyak dicekoki ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu.

Ada banyak redaksi yang mewajibkan agar muslimin menuntut ilmu hingga akhir hayat.

Sebut saja misalnya dari pepatah Arab yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu dari buayan hingga ke liang layat atau bahkan jika mau menyebut dari sang Nabi, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, atau dengan redaksi tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri nun jauh yang bernama China.

Narasi-narasi demikian tentu sudah tidak asing lagi bagi kita namun yang perlu kita soroti sebenarnya bagaimana agar status menuntut ilmu itu bisa kita pegang hingga nafas terakhir sehingga ketika nanti kita sudah berada di alam kekal (akhirat) kita mendapat derajat tinggi karena telah mencapai prestasi syahid.

Beberapa redaksi, baik pepatah Arab maupun dari sang Nabi hanya menampilkan narasi yang global. Hal ini tentu perlu adanya data pemahaman tambahan agar substansi narasi tersebut dapat terpenuhi.

Mengutip dari perkataan Abah Guru Sekumpul, ulama besar asal Kalimantan Selatan yang ditulis oleh jamaah Guru Sekumpul di laman Facebook, bahwa di antara amalan yang menyebabkan kita lepas dari siksa kubur, tidak ditanya malaikat dan bahkan mendapat bonus masuk surga tanpa hisab adalah mati dalam keadaan menuntut ilmu. Adapun orang yang mati dalam menuntut Ilmu berstatus syahid.

Kadang, kita hidup di dunia penuh dengan kesenangan dan hiruk-pikuk suasana yang tak masuk akal. Hal tentu menjadikan kita tidak mungkin di setiap detik terus belajar, belajar, dan belajar.

Redaksi-redaksi agar menyuruh kita untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat bukan berarti kita terus belajar, kuliah, kuliah, kuliah sampai bergelar sarjana, menjadi ilmuwan, lalu punya nama yang panjang hingga memenuhi satu lembar kertas HVS F4.

Kalau terus menerus belajar gitu tentu tidak ada waktu buat makan, mandi, guyonan, tidur, kencan, dan aktivitas-aktivitas manusiawi lainnya.

Lalu apakah redaksi menuntut ilmu hingga ke liang lahat mengandung makna tidak memanusiakan manusia? Oh bukan begitu kesimpulan pemahamannya.

Justru agar pemahaman “menuntut ilmu hingga ke liang lahat” itu bisa tercapai kita memerlukan redaksi lain, yakni dengan bantuan al-Hadist mengenai niat.

Dalam literatur Islam, niat berada di level pertama pada setiap rukun aktivitas peribadatan. Di samping, terkadang juga menjadi syarat atas keabsahan ibadah karena ia menjadi pembeda tujuan dari setiap hal yang dikerjakan manusia.

Ibadah bisa jadi hanya bernilai kesia-siaan jika niatnya saja berorientasi pada hal-hal duniawi. Begitu pun sebaliknya, niat mampu menjadi bekal upgrading diri seorang hamba di hadang sang Maha Kuasa.

Cuma niat ternyata satu-satunya solusi agar status “menuntut ilmu hingga ke liang lahat” itu bisa kita dapatkan tanpa menafikan aktivitas keduniaan.

Nabi mengatakan bahwa setiap perbuatan itu berawal dengan niat. Oleh karenanya kita cuma sematkan dalam hati agar kita menuntut ilmu hingga mati. Udah gitu doang. Mudah, murah, dan tidak ribet, bukan? cuma butuh niat.

Tetapi niat di sini harus dibarengi dengan kesungguhan. Orang yang memang berniat sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu hingga akhir hayat pasti tercermin dalam perilaku kehidupannya. Hal ini memang tidak bisa ditawar, kesungguhan itu harga mutlak!

Coba kita ambil contoh pada ulama Banjar yang ahli dalam Ilmu Falak dan Faraidh bernama al-Alim al-Allamah Salman Jalil al-Banjari.

Ketika beliau sudah berusia senja dan sedang sakit yang menyebabkan badannya bengkak-bengkak, beliau tetap hadir dalam majelis ilmu bahkan di majelis murid beliau sendiri ketika masih mengajar sekolah tsanawiyah di Ponpes Darussalam Martapura, yakni majelis Abah Guru Sekumpul.

Begitulah ketawadhuan dan himmah beliau dalam menuntut ilmu. Karena beliau memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu dari buaian hingga ke liat lahat. Ilmu apapun dan dari siapapun yang menyampaikannya.

Semoga kita kemudian tertantang memiliki gairah untuk menuntut ilmu yang istiqomah sampai nafas yang terakhir. Teruslah perbaharui niat!

Baca juga:  Ahmad Qusyairi: Ilmu Falak Bisa Menghalalkan dan Mengharamkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here