Menilik Ruang Kosmologi

0
210

Oleh: Andy Evan

Salah satu bagian yang masih kurang mendapat perhatian bagi para pegiat ilmu falak adalah kosmologi (filsafat kealaman), yang merupakan bagian jauh dari astronomi, yang juga berkaitan dengan hal-hal metafisik, mistis. Sehingga ada yang beranggapan bahwa kosmologi adalah bagian dari pseudosains (sains yang semu).

Di zaman di mana sains berkembang pesat seperti ini, hal-hal berbau semu itu seringkali tak dihiraukan. Bentuk kosmologi yang kini bersifat astronomis menjadi kajian yang menarik dalam ilmu falak.

Selain itu, pemikiran bahwa falak adalah bagian dari astronomi yang berbeda juga mendukung dikesampingkannya kosmologi. Falak dikatakan sebagai bagian dari astronomi karena ia mempelajari, mengamati, dan membahas tentang benda-benda langit.

Tapi ia dikatakan berbeda dari astronomi, karena pembahasannya  yang mencakup kepentingan-kepentingan ibadah umat Islam. Awal bulan hijriyah, arah kiblat, waktu shalat dan gerhana.

Bagian eksklusif ilmu falak inilah yang sering menjadi debat epistemologi kecil-kecilan di kalangan mahasiswa falak. Dikotomi falak dan astronomi berasal dari sejarah panjang pemisahan agama dan ilmu pengetahuan, wahyu dan akal, yang sedemikian pelik.

Kosmologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah : 1.(kb) Ilmu (cabang astronomi) yang menyelidiki asal usul, struktur, dan hubungan ruang waktu dari alam semesta); 2.(kb) Ilmu tentang asal usul kejadian bumi, hubungannya dengan sistem matahari, serta hubungan sistem matahari dengan jagat raya; 3.(kb) ilmu (cabang dari metafisika) yang menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan.

Baca juga:  Ramadhan dan Kultur Hibrida Semarang

Istilah kosmologi belum lama dipakai. Aristoteles menyebut istilah kosmologi sebagai fisika. Filsafat skolastik menyebutnya ‘filsafat alami’. Kosmologi baru dipergunakan oleh Christian Wolf pada tahun 1731 (cosmologia generalis), sebagai pengkhususan metafisika umum (ontologi), disamping psikologi rasional dan teologi rasional. Istilah ini juga akhir-akhir ini dipergunakan dalm ilmu-ilmu empiris, untuk menunjukkan ilmu mengenai evolusi kosmis (Kuswoyo: 2018).

Sebagai bagian dari ilmu yang mempelajari alam semesta atau kosmos. Manusia dengan anugerah akal budi tentu saja bisa memahaminya dari dalil-dalil semesta (sunnatullah) dan dalil-dalil wahyu (Al-Qur’an dan Hadits).

Kosmologi dalam Islam pun akhirnya berbicara bukan hanya tentang tatanan kosmos (secara fisik), tetapi juga tatanan dunia lain (nonfisik). Penelitian kosmologi biasanya diarahkan pada teori penciptaan alam semesta. Pertanyaan tentang apa itu dunia, bagaiamana ruang dan waktu, bagaiamana alam semesta tercipta dan lain-lain.

Kosmologi dalam garis orbit sejarah sudah berkembang dalam berbagai macam bentuk: bersifat mitologi dan religious, mistis dan filosofis, serta bersifat astronomis. Orang-orang mesir kuno mempercaya bahwa kosmos merupakan sebuah kotak dengan bumi di dasarnya. Gunung-gunung di penjuru menopang langit. Kepercayaan ini dibangun dari mitologi kuno. Konsep Mesopotamia meganggap alam semesta berbentuk kubah yang berisi cakram datar bumi yang dikelelilingi oleh air.

Baca juga:  Permainan Monopoli ; Kapitalisme Sedari Dini

Konsep kosmis selama masa keemasan Yunani konsep kosmis menjadi bersifat  matematis, dengan menggunakan bentuk-bentuk geomatris untuk menunjukkan empat unsur; api, udara, air, tanah serta sari pati benda-benda langit, dengan suatu sfera yang melingkupi seluruh alam semesta. Aristoteles menggolongkan segala yang dapat ia terima ke dalam sistem masuk akal namun kaku tentang mekanika kosmis.

Sementara itu orang-orang Cina telah berhasil mengembangkan versi sendiri tentang kosmos. Pengikut Tao pada tahun keenam hingga keempat sebelum masehi mendefisinikan dan menggambarkan dua prinsip, yin dan yang, kekuatan wanita dan pria pasif dan aktif, yang dihasilkan oleh materi dan energi dan bertanggung jawab dalam menjaga alam semesta melalui interaksi.

Kristen awal menggambarkan bumi yang datar yang berada di antara bawah tanah dan benda-benda angkasa. Ciri Platonis dan Aristoteliannya dijernihkan oleh astronom Helenistik Ptolemeus.

Pada abad pertengahan, pemahaman atas alam semesta ditarik dari keyakinan religious atau takhayul. Konsep yang didasarkan pada penalaran semata dapat dianggap sebagai bid’ah oleh pihak gereja.

Baca juga:  Infeksi Corona dan Ekonomi Global

Kaum Muslimin dibimbing oleh ajaran-ajaran wahyu. Pendekatan menuju kosmologis juga  dilalui dengan jalan wahyu dan sains. Pada satu sisi terdapat spekulasi metafisika dan mistis yang melampaui benda-benda fisik. Di sisi lain terdapat pengamatan astronomi langsung dan analisis tentang fenomena yang diamati.

Tradisi intelektual Islam justru mengalami penguatan dalam bidang sains dan agama. Saintis astronomi seperti Ibn Arabi (1165-1240) dan Nashr al Din Tusi (1201-1274) bisa menjadi contoh figure intelektual muslim ternama  pada masanya, yang membuktikan antara dimensi sains dan agama tidak mengalami benturan.

Kajian falak kini mulai bangkit dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Khususnya bagi kaum Muslimin. Tapi sebagai mahasiswa falak, saya juga bertanya-tanya. Apakah ruang kosmologi yang berada pada bangunan astronomi juga memiliki pintunya pada bangunan ilmu falak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here