Mengenang The God Father of Broken Heart : Dari Bukan Siapa-Siapa Sampai Jadi Legenda

0
299

Semarang, Justisia.com – “Wis sakmestine ati iki nelongso wong sing tak tresnani mblenjani janji, opo ora eling naliko semono kebak kembang wengi jeroning dodo” -penggalan lagu Cidro, ciptaan Didi Kempot.

Dionisius Prasetya atau yang dikenal sebagai Didi Kempot adalah maestro campursari dan penulis lagu yang populer di kancah lintas generasi.

Pasalnya dari total 700 lagu yang diciptakannya sendiri, semuanya merupakan lagu-lagu yang bertemakan patah hati dan kehilangan dimana semua orang baik tua maupun muda pernah mengalaminya. Sehingga sangat cocok jika ia mendapatkan julukan “The God Father of Broken Heart”.

Julukan itu pertama kali didapatkannya pada 9 Juni 2019 saat tampil dalam acara Bakdan Ing Balekambang di Solo yang dibuat langsung oleh para Sobat Ambyar (nama komunitas penggemar Didi Kempot). Ada fakta-fakta menarik dari pria yang juga mendapat julukan “Lord didi” itu:

1. Mengawali Karir sebagai Musisi Jalanan

Didi Kempot tidak mendapatkan popularitasnya secara instan, bahkan ia harus bersusah payah mengawali karirnya dari jalan. Pria yang pertama kali meniti karir dengan lagu “Cidro” itu memutuskan mengamen selama 3 tahun (1984-1986) di kota kelahirannya, Surakarta.

Baca juga:  Fauzia Rohmah: Berorganisasi Itu Penting Tapi Jangan Lupakan Prestasi

2. Penggunaan “Kempot” sebagai Nama Panggung

Jika mengintip kilas balik perjuangannya, kita dapat menemukan alasan menarik dibalik penggunaan sebutan “Kempot” sebagai nama panggung.
Kempot sendiri merupakan akronim dari “Kelompok Penyanyi Trotoar” yang diadopsi saat pria kelahiran Surakarta itu mulai menjadi pengamen jalanan di Jakarta pada tahun 1987. Saat itu ia kerap berkumpul dan mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, maupun Senen.

3. Dekat dengan Masyarakat

Tak ayal mengapa lagunya yang mayoritas berbahasa Jawa dapat diterima banyak orang di berbagai daerah bahkan hingga luar negeri seperti Suriname dan Belanda.
Dengan melodi khas campursari, ia membuat para pendengar lagunya mengingat kenangan masa lalu dalam ingatan.

Terbukti, banyak lagu yang diciptakannya mengangkat judul seputar nama-nama tempat di lagu-lagunya seperti Stasiun Balapan, Kopi Lampung, Perawan Kalimantan, Parangtritis, dan masih banyak lagi.
Ide membuat lagu dengan nama-nama tempat tersebut hadir ketika ia berjalan-jalan dan mendengar cerita-cerita warga setempat. Pria kelahiran 1966 itu yakin bahwa sebuah tempat pasti punya kenangan tersendiri bagi setiap orang.

Baca juga:  Farid Esack: Teolog Islam Pembebasan

4. Semua yang Meng-cover Lagunya Harus Izin Dahulu

Dilansir dari kompas.com, Didi Kempot menganalogikan orang yang meng-cover sebuah lagu tanpa seizin pemiliknya sama saja dengan mencuri karya orang lain. Ia mengatakan pemilik lagu mempunyai hak cipta atas karya-karyanya.
Ia juga berbicara mengenai perlunya izin dengan pemiliknya walaupun sudah meninggal dunia lewat ahli waris atau keluarganya. Ia juga berharap mendapatkan royalti dari orang-orang yang meng-cover lagu-lagunya.

Didi Kempot diberitakan telah meninggal dunia pada Selasa, 5 Mei 2020 kemarin. Walaupun begitu 700 lagu ciptaannya akan tetap ada dan meninggalkan jejak terdalam bagi para penggemarnya.

Penulis: Sabil
Editor: Hikmah

Sumber:
https://entertainment.kompas.com/read/2019/09/22/132829810/didi-kempot-kalau-mau-cover-lagu-izin-karena-ada-hak-ciptanya?page=all#page2

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Didi_Kempot

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/arti-kempot-dalam-nama-didi-kempot-the-godfather-of-broken-heart-fkAm

https://www.google.com/amp/s/wartakota.tribunnews.com/amp/2020/05/05/asal-usul-julukan-the-godfather-of-broken-heart-buat-sang-maestrodisahkan-dalam-musyawarah-sad-boys

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here