Mencari Makna Dalam Penjara

0
93
Sonia Khotmi Rosalina

Judul                           : The Platform

Genre                          : Thriller, Horor, Drama

Durasi                          : 94 menit

Sutradara                     : Galder Gaztelu-Urrutia

Penulis Naskah            : David Desola, Pedro Rivero

Pemeran                        : Ivan Massague, Antonia San Juan, Zorion Eguileor, Emilio Buale, Alexandra  Masangkay, Eric L Goode

Distributor                   : Netflix

Peresensi                     : Sonia Khotmi Rosalina

The Platform membuktikan popularitasnya dengan menjadi tontonan populer selama berhari- hari di Netflix. Film yang dirilis pada 20 Maret 2020 melalui layanan streaming Netflix ini memenangkan penghargaan People’s Choice Award di Festival Film Toronto ( TIFF). Film yang bergenre thriller, horor dan drama ini dibintangi oleh Ivan Massague sebagai Goreng, Antonia San Juan sebagai Trimagasi, Zorion Eguileor sebagai Imoguiri, Emilio Buale sebagai Baharat, Alexandra Masangkay sebagai Miharu, dan Eric L Goode sebagai Brambang.

The Platform bercerita tentang kehidupan di sebuah penjara vertikal yang memiliki sistem unik dalam pemberian jatah makan. Penjara yang memiliki lebih dari 100 lantai ini diisi oleh dua orang tahanan setiap lantainya. Jumlah lantai itu pun masih menjadi misteri hingga Goreng mengungkapkannya. Kisah dimulai saat Goreng dan Trimagasi, sebagai tahanan yang berada di lantai 48. Goreng sebagai tahanan baru terheran dengan situasi yang ada dalam penjara ini. Goreng melihat dan menyadari banyak hal terjadi di luar nalarnya.

Trimagasi yang lama berada di penjara ini menjelaskan bahwa mereka berada di sebuah penjara vertikal yang memiliki sistem pemberian makan secara bergilir dari lantai satu sampai lantai paling bawah. Para penghuni tidak ada yang tahu berapa banyak lantai yang dimiliki penjara tersebut. Makanan yang disediakan oleh pihak pengelola penjara diantar menggunakan meja raksasa yang bisa bergerak ke bawah secara perlahan, tetapi secepat kilat bila meja tersebut kembali ke atas.

Hidangan yang disediakan pun beraneka ragam. Mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, hingga hidangan penutup yang siap mengisi perut para tahanan. Bukankah ini sebuah kewemahan di dalam penjara? Tentu saja tidak. Konflik bermulai dari pemberian makan ini.

Penghuni sel lantai teratas akan puas memakan hidangan yang disediakan. Mereka memiliki kesempatan untuk makan hidangan yang disediakan dalam kondisi masih baik. Saat meja jamuan mencapai lantai 50, harapan untuk bisa makan masih bisa terpenuhi, tetapi makanan sudah tidak dalam kondisi baik.

Hari pertama tokoh Goreng di penjara tersebut, ia tak mau menyentuh makanan yang ada. Goreng jijik dengan hidangan yang disediakan. Berbeda dengan Trimagasi yang langsung melahap hidangan di meja. Ia telah terbiasa dengan kehidupan di penjara ini. Makan atau mati. Mogok makan yang dilakukan Goreng masih terjadi selama beberapa hari kedepan hingga ia tak bisa lagi menahan lapar. Goreng pun mulai terbiasa dengan makanan yang disediakan.

Baca juga:  Mempertanyakan Idealisme Mahasiswa

Satu bulan terlewat. Goreng terbangun di sel dalam keadaan terikat di ranjang. Jelas sekali Goreng kebingungan dengan apa yang terjadi. Ternyata dia terbangun di lantai bernomor ratusan. Buruknya lagi, ia satu sel dengan Trimagasi yang memiliki pisau. Dalam penjara ini, setiap tahanan diperbolehkan membawa satu barang yang ingin mereka miliki selama di dalam sel. Pisau pun dimiliki oleh Trimagasi dan Goreng memilih untuk membawa buku bacaan. Tanpa melihat adegan selanjutnya, kita tahu apa yang akan terjadi di antara mereka. Makan atau dimakan.

Representasi Sistem Kelas

The Platform menerapkan sistem kehidupan roda yang berputar. Suatu saat kalian akan berada di atas dengan segala kemewahan, suatu saat kalian juga berada di bawah dalam keterpurukan. Masalahnya, bagaimana kalian bertahan hidup jika berada dalam keterpurukan?

Semakin besar nomor sel yang ditempati oleh tahanan, semakin kecil kesempatan yang dimiliki untuk menyantap hidangan. Keadaan ini tidak selamanya berlaku bagi setiap tahanan. Setiap bulan, para tahanan akan di pindah ke lantai yang baru. Jadi, yang bulan lalu berada di lantai paling atas dengan hidangan yang mewah, bisa jadi berpindah ke lantai terbawah. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada kriteria atau penilaian tertentu dari pengelola penjara saat menempatkan tahanan.

Film ini mewakili kehidupan bermasyarakat di sebagian negara. Kalangan atas akan dengan mudah menelan makanan yang mereka inginkan. Kapan pun dan di mana pun. Kelas menengah juga masih bisa menelan makanan, meskipun tidak bisa terlalu picky karena mereka makan apa yang ada. Berbeda dengan masyarakat kelas bawah yang harus berusaha mati matian untuk makan. Melewatkan waktu makan dua sampai tiga kali pun sering mereka lakukan.

Pengalaman hidup yang dilalui oleh masyarakat kelas bawah ini sebagian menimbulkan pengaruh buruk seperti naiknya angka kriminalitas. Kelas bawah merasa, menjadi orang baik tidak akan memenuhi kebutuhannya. Sama seperti yang terjadi di dalam sel penjara vertikal ini. Para penghuni kelas bawah akan melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan asupan mereka.

Kehidupan Penjara Vertikal Ibarat Manusia di Dunia

Pengelola penjara menyiapkan makanan sebanyak jumlah tahanan yang ada. Apabila setiap tahanan mengambil porsi sesuai dengan kebutuhan, maka makanan akan cukup untuk seluruh penghuni sel dan semua akan baik baik saja. Inilah pesan moral utama yang penulis dapat setelah menonton The Platform. Film ini cukup jelas menyampaikan pesan yang terkandungnya. Hal ini sama persis seperti yang terjadi di dunia. Keserakahan manusia akan merugikan manusia lain. Masalah setiap manusia adalah hati, bukan rezeki dari Sang Penguasa.

Baca juga:  Miskomuniasi dalam Beragama

Mental serakah yang dimiliki manusia sedari kecil menjadi sumber masalah. Anak anak dibiarkan memiliki apa pun yang mereka mau perlahan menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini terus dilakukan tanpa melihat anak lain yang bahkan kesulitan untuk menelan sesuap nasi hingga harus mengorek rezeki dari orang lain. Benar apa yang pernah diungkapkan oleh Gandhi. “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, namun tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan seorang manusia. ”

Sifat serakah yang dimiliki manusia sebenarnya dapat ditinjau dari pemikiran Adam Smith dan Mandeville mengenai Hakikat Manusia Serakah. Adam Smith dan Mendeville  percaya bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang rakus, egois, dan selalu mementingkan diri sendiri. Mandeville berpendapat bahwa sifat ini yang akan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang negatif bagi manusia. Pendapat Mandeville mengenai akibat dari sifat rakus manusia berbanding terbalik dengan Smith.

Smith menganggap bahwa sikap serakah manusia tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak manusia sepanjang persaingan bebas masih berlaku. Sikap manusia pada umumnya berdasarkan pada kepentingannya sendiri. Bukan atas rasa belas kasihan atau maupun perikemanusiaan. Hal ini berarti, pemenuhan kepentingan manusia bukan berasal dari belas kasih manusia lain, tetapi usaha yang dilakukan setiap manusia untuk memenuhi kepentingannya tanpa merugikan manusia lain.

Selain carut marut masalah makanan, pengelola juga tidak mengetahui keadaan sebenarnya yang terjadi di dalam sel. Miharu, salah satu tokoh yang selalu naik-turun bersama dengan makanan yang dibagikan berusaha untuk mencari anaknya. Banyak tahanan yang meyakini bahwa anak yang dicari Miharu hanyalah halusinasi belaka. Imoguiri yang pernah menjadi salah satu pegawai penjara, pun juga mengungkapkan bahwa ada aturan yang tidak memperbolehkan anak kecil masuk ke tempat tersebut. Sehingga, sangat tidak mungkin ada anak kecil di dalam sel.

Namun, aturan yang mereka tetapkan ternyata tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ditemukannya anak Miharu menjadi bukti bahwa ada sosok yang tidak sepantasnya berada di penjara. Pengelola abai dan menganggap semua baik- baik saja tanpa mempertimbangkan sisi kemanusiaan.

Baca juga:  K-Drama Sweet Home: Selain Penuh Misteri, Juga Kental dengan Ajaran Stoisisme

Skema tersebut, jika diperkenankan, merupakan cerminan abainya “pengelola” negara kepada penghuni negara, dalam kehidupan nyata. Aturan yang dibuat, tidak jarang dilanggar sendiri oleh pemerintah. Satu bulan yang lalu, sempat hangat diperbincangkan pelanggaran aturan oleh pejabat pemerintahan. Banyak pejabat yang melanggar peraturan mengenai protokol kesehatan Covid-19. Pemerintah  gembar-gembor untuk selalu menjaga jarak, diam di rumah, dan jangan berkerumun. Sangat disayangkan kenyataannya mereka melanggar aturan  sendiri.

Keunikan Nama Karakter

The Platform yang disutradarai oleh Galder Gaztelu-Urrutia ini menyuguhkan sinematografi yang apik dan terasa sangat realistis. Salah satu yang menarik perhatian saat menonton film ini khususnya bagi penonton Indonesia adalah nama nama karakter yang ada. Sebagian besar nama karakter tokoh utama diambil dari kata Bahasa Indonesia yang kita dengan sehari hari. Bahkan ada satu karakter yang dinamai dari Bahasa Jawa, yaitu Brambang yang diperankan oleh Eric L Goode. Brambang sendiri memiliki arti bawang merah dalam Bahasa Indonesia. Menarik bukan?

Penggunaan kata dari setiap negara tidak hanya terjadi di The Platform. Dalam film Minion, beberapa karakter terdengar mengucapkan dialog menggunakan Bahasa Indonesia. karakter Bob, minion yang paling pendek diantara yang lain dengan jelas mengucapkan kata “Terimakasih”. Kata yang akrab di telinga masyarakat Indonesia juga terdengar di film tersebut, seperti “Okulele” dan “Paduka Raja”.

Hal ini bukan sebuah kebetulan semata. Pierre Coffin, sang sutradara sengaja menyelipkan beberapa kata Bahasa Indonesia di film Minion. Tanpa diketahui banyak orang, Coffin memiliki darah Indonesia yang berasal dari ibunya. Ibunya adalah NH Dini, seorang legenda sastra Indonesia.

Mengenai nama karakter yang diambil dari Bahasa Indonesia, banyak orang yang menelusuri hal tersebut. Tapi jawaban tak kunjung datang. Setiap wawancara yang dilakukan oleh penulis naskah dan sutradara tak pernah menyinggung hal hal yang berbau Indonesia.

Kebingungan yang ditimbulkan oleh The Platform adalah tidak diketahuinya siapa dalang dibalik sistem penyajian makanan dan pengaturan lantai sel tahanan dalam  penjara vertikal ini. Tetapi penulis dan sutradara menerapkan open ending dalam The Platform. Jadi, penonton memiliki keleluasaan untuk menginterpretasikan isi dan konklusi dari film. Sebagai catatan bagi calon penonton, film ini memuat adegan kekerasan dan adegan dewasa. Film ini dapat disaksikan di layanan streaming Netflix.

Film ini bisa menjadi rekomendasi tontonan saat malam pergantian tahun baru nanti bersama orang terkasih. Selamat menyaksikan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here