Memuaskan Fantasi Coli Lewat Layanan Vidcall

0
2637
Kredit Ilustrasi: Aplimelta

Semarang, Justisia.com – Ibarat mati satu tumbuh seribu, pelecehan seksual kembali resahkan mahasiswa. Memanfaatkan layanan panggilan video pada aplikasi berbalas pesan Whatsapp, pelaku meneror sejumlah mahasiswi di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo dengan memperlihatkan kemaluannya kepada korban untuk coli atau masturbasi.

Dari data yang berhasil dihimpun oleh tim litbang, redaksi menemukan ada tujuh korban yang dihubungi pelaku lewat layanan video call itu.

Redaksi menawarkan anonimitas terhadap identitas korban yang memberi keterangan dan mereka menyetujui untuk menggunakannya sebagai hak perlindungan korban, serta dengan sukarela bersedia untuk memberikan keterangan.

P dan T adalah dua penyintas yang dengan berani mempublikasikan percobaan pelecehan seksual yang ditujukan kepada mereka. Baik P dan T keduanya memasang status tangkapan layar masing-masing yang berisi percakapan, panggilan video, dan paksaan untuk meladeni panggilan video yang masuk dalam waktu yang hampir bersamaan, pada Senin (20/1/2020).

Bermula dari status keduanya, K mengetahui bahwa ternyata ada orang lain yang mendapat perlakuan lebih parah dari dirinya.

“T gawe [buat, red] status tak komen, terus P tekon [tanya, red] aku, T tekon aku,” ujar K menjelaskan.

K adalah orang pertama yang dihubungi pelaku, pada 4 Januari 2020, dua minggu sebelum pelaku menghubungi enam korban yang lain. Baik dari nomor ataupun foto profil yang digunakan, terdapat kesamaan.

Aku ki ditelpon ra tak angkat [saya ditelpon tidak saya angkat, red]. Video call gak tak angkat [divideo call tidak saya angkat, red]. Terus bar iku ngechat aku p, p, p [setelah itu kirim pesan kepada saya ping, ping, ping, red]. Pokoke aku ki pertama kali dichat sakdurunge cah-cah lain dichat [saya yang pertama kali dihubungi sebelum korban yang lain, red],” ujar K menjelaskan.

“Iku wes suwi banget aku [itu udah lama, red]. Suwi banget dichat sakdurunge P, T, E, I, sakdurunge kuwi ki aku sing pertama kali [udah lama sebelum [menyebut nama korban yang lain], sebelum mereka itu saya yang dihubungi dulu, red]. Suwi banget pokok e ki dua minggu setelah aku dichat kuwi nembe ono kabar[udah lama, sekitar dua minggu setelah aku dichat baru ada kabar, red] T dichat, P dichat, I dichat, diajak video call,” lanjut K.

Nak aku sih aman-aman wae [kalau saya aman-aman aja, red]. Soale sing pertama kali dichat ki aku [karena yang pertama dichat saya, red]. Aku dari awal ki respon e gak enak [dari awal saya kasih respon ngga enak, red]. Terus [pelaku] beralasan karo liya-liyane ki [dengan korban yang lain, red] gak nganggo [pakai, red] atas nama cah UIN. Dia asal neror aja,” jelas K.

Baca juga:  TNI Ajak Mahasiswa Menjaga Kemajemukan Bangsa

Setelah mengetahui ada korban lain selain dirinya, K menduga, pelaku menghubunginya sebagai cek arus dan untuk mencari jalan sebelum melakukan aksinya.

“Kalau [menghubungi] aku [tujuannya] ngga neror, dia ncen [memang, red] nyari sinyal [lewat saya] buat neror,” ujarnya.

Saat menghubungi K pelaku mengaku sebagai Wahyu dan mengaku memiliki teman yang juga kuliah pada jurusan yang sama dengan K.

“Terus wonge ngakune [pelaku ngaku, red] Wahyu cah jurusan X,”.

Sejak pertama kali dihubungi, K berusaha mencari informasi tentang akun yang digunakan Wahyu. Menanyakan ke beberapa teman satu jurusannya, ke mantan ketua HMJ jurusannya, termasuk mencari nomor yang digunakan Wahyu di grup jurusannya. Namun, Pencarian K tidak menghasilkan informasi apapun tentang Wahyu.

“Sampe aku chat mantan ketua HMJ gak ono sing jenenge [ngga ada yang namanya, red] Wahyu. Nang kanfak [kantor fakultas, red] […] tak takoni kabeh [aku tanya semua, red] kenal Wahyu ngga? Ngga jare,” jelas K.

“Terus chat aku terus. Tak sengaki [memberi respon untuk mempertegas, red]. Kowe nak gak ngaku, aku ra meh bales chatmu [Kalau kamu ngga ngaku aku ngga mau bales chatmu, red],”

“Terus ngene [Wahyu bilang, red], kamu ki sombong pol, padahal aku meh konsultasi skripsi. Ah gak sido. Nyesel aku chat kamu, gitu,” ujar K menirukan balasan pesan dari Wahyu.

Wahyu tidak memberi respon lebih lanjut. Ia tetap berusaha mengelak saat K terus menanyai ikhwal identitasnya yang mengaku memiliki teman yang juga mahasiswa satu jurusan dengan K.

K sempat ditelepon dengan panggilan video oleh Wahyu. Namun K tidak menggubris karena nomor yang digunakan tidak ia kenal. Respon K itu berhasil menghentikan usaha Wahyu melakukan ajakan panggilan video lebih lanjut dengan K.

Melakukan panggilan video

Dua minggu setelah K dihubungi orang yang mengaku sebagai Wahyu, pada 18 Januari, pelaku melakukan percobaan mengirim pesan pendek dan panggilan video kepada enam mahasiswi.

“Dia video call aku pas tanggal 18 Januari tapi nggak tak angkat karena nggak kenal, terus habis beberapa kali vidcall baru ngechat,” ungkap E.

E sempat meragukan identitas pelaku karena menggunakan foto profil yang tidak dikenal serta tidak ada identitas jelas. Setelah melakukan panggilan video pelaku mengirim pesan di Whatsapp dan menyebut nama korban sekaligus meminta korban mengangkat panggilan videonya.

“Dia ngechat nyebut namaku sama ping, ping, angkat. Lha mikirku kok ngerti aku makanya vidcall yang terakhir tak angkat,” ujar korban berinisial E melalui pesan, Rabu (28/1/2020).

Menganggap orang yang menghubungi ia kenal, E mengangkat video call tersebut, dan demi tetap berjaga ia menggunakan kamera belakang.

Baca juga:  Gebyar Pesona RGM 2012

Beberapa detik setelah diangkat, E tidak menemui wujud atau warna apapun dari lawan panggilannya selain gelap saja. Namun, sesaat kemudian di luar dugaan E menjumpai lawan panggilannya sedang coli. E terkejut dan seketika mematikan panggilan tersebut.

“Dia masih sempet vidcall aku beberapa kali, tapi langsung tak blokir karena takut,” tegas E.

E sempat jatuh sakit beberapa hari.

Ia membagikan kejadian itu kepada dua temannya. Tujuan E hanya satu; mengetahui identitas pelaku. Namun, pencarian E sama dengan K.

E yang mencoba mencari tahu lewat temannya belakangan tahu bahwa pertanyaan yang diajukan temannya kepada pelaku panggilan video itu tidak akan menemui jawab karena pelaku sudah kadung menghapus akunnya.

Korban lain, T, menceritakan bahwa modus yang dipakai pelaku kepadanya hampir serupa; melakukan panggilan video dan mengirim pesan singkat yang berisi paksaan untuk meladeni ajakan panggilan video.

“Dia vidcall aku, ngechat aku. Karena aku sibuk vidcallnya nggak tak angkat cuma tak bales chatnya,” tutur korban berinisial T.

T pertama kali mendapat pesan Whatsapp pada tanggal 18 Januari. Sama seperti K dan E, dalam pesan singkat itu pelaku sengaja menggunakan nama panggilan T untuk menumbuhkan kepercayaan bahwa pelaku mengenal korban.

Kuantitas pesan yang terkirim dan paksaan untuk menerima panggilan video yang diterima T lebih banyak daripada korban lain. Beberapa kali dalam hari dan waktu yang berbeda pelaku menanyakan lokasi keberadaan T.

T mencoba merespon dengan balik bertanya kepada pelaku. Pelaku selalu mengelak dan mengalihkan topik pembicaraan.

“Dia nanya aku ‘posisi di kos enggak?’ terus sempet bilang minta bantuan gitu. Dia maksa-maksa aku biar nerima vidcallnya,” ujar T.

T pernah meladeni permintaan pelaku dengan mengangkat panggilan video itu. Saat itu T sedang berada di kampus. Namun, mengetahui korban sedang di kampus, pelaku tidak melanjutkan video callnya.

“Dia itu vidcall tapi nggak ada wajahnya, terus dimatiin habis itu nanyain lewat chat lagi ‘di kantor ya?’ gitu,” jelas T.

Meski pernah menerima panggilan video dari pelaku, T mengaku belum pernah sampai dilihatkan oleh lawan bicaranya yang melakukan coli. T juga tidak mengerti jika maksud akun yang memiliki identitas sama dengan yang menghubungi K dan E memiliki maksud untuk melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya.

Keaktifan T mengikuti kegiatan di kampus dan di luar kampus diduga kuat yang menjadi alasan pelaku selalu membatalkan panggilan videonya karena mengetahui T sedang berada di tempat umum.

Lain T lain P. P mengaku enam kali mendapati pemberitahuan panggilan video masuk ke akun Whatsappnya.

“Orangnya nelpon enam kali dan semua itu video call, gua sempat angkat dan orangnya lagi onani,” terang P.

Baca juga:  PBNU : Konflik Agraria Jadi Persoalan Krusial

Seketika itu P memutuskan untuk memblokir akun yang menelponnya itu. P mengaku tidak ambil pusing dan memilih untuk mempublikasikan kejadian itu ke status, grup-grup Whatsapp, dan ke teman-temannya.

“Chat awal dari tanggal 18. Terus dia nelpon di tanggal 20 Januari. Setelah itu gua blokir. Gua blokir dan gua maki dia itu, karena udah gua angkat. Sempet gua angkat dua kali,”.

“Yang penting gua langsung sebar ke grup atau story [Whatsapp] biar orang lebih ati-ati aje,” lanjut P.

“Mulut gua mah ember. Cerita mulu langsung detik itu juga,”.

Berdasar keterangan P, pelaku mengaku sebagai Ulil. Namun menurut P Ulil bukan nama aslinya.

“Pasti kan kalo ada yang ngaku kenal, tapi nomornya dan mukanya asing kita ke info [layanan di Whatsapp untuk melihat detail informasi suatu akun] kan? Gua si cuma ngecek dia se grup bareng yang sama ngga udah abis itu gua cuma buat story WA,” ujar P.

Redaksi sudah mencoba menghubungi pelaku melalui nomor yang sama yang digunakan pelaku menghubungi K, E, T, dan P. Namun nomor yang dihubungi sudah tidak aktif. Dan hingga berita ini diterbitkan redaksi belum mendapat keterangan mengenai pelaku.

Layanan daring menghindarkan aspek pelecehan seksual?

Coli atau masturbasi yang dilakukan lewat layanan panggilan video sama sekali tidak mengaburkan aspek pelecehan seksual.

“Kalau pelaku nelpon menunjukkan kelamin, itu masuk di KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) yang bentuknya pelecehan online atau cyber harassment,” jelas pegiat Perempuan Muda Bersuara, Hilya saat ditanya apakah aspek daring bisa mengaburkan kekerasan seksual.

Perbuatan tersebut menurut perempuan yang kerap mengadvokasi korban pelecehan seksual itu bisa berdampak serius terhadap kondisi kejiwaan korban.

Pelecehan seksual yang dilakukan melalui video call itu dimungkinkan karena si pelaku tidak memiliki kesempatan melakukan tindakannya melalui interaksi secara langsung.

“Ada yang melalui video call atau berbicara langsung kepada korban. Seperti halnya yang sempat ramai adalah kasusnya Baiq Nuril. Bisa jadi ketika dia tidak bias melakukannya lewat interaksi langsung, pelaku melakukannya lewat video call ke orang lain,” lanjutnya.

Hilya mengatakan lokasi keberadaan korban turut memberi pengaruh terhadap kenikmatan perilaku seksual pelaku.

“Kalau melihat pelaku yang tidak menunjukkan perilaku seksualnya saat korban berada di luar kos, berarti keberadaan korban memengaruhi kenikmatan dari perilaku seksual si pelaku,”.

Hilya menyebut tindakan korban yang berani menceritakan peristiwa pelecehan ke orang lain sangat tepat. Karena dengan bercerita korban mendapat hak kebenaran terhadap kejadian yang dialaminya.

“Posisikan diri sebagai pendengar yang baik. Kalau korban bingung, linglung arahkan buat melakukan konseling. Karena posisi kita hanya bias menjadi teman yang menemani sekaligus pendengar. Kita tidak bias memberikan solusi yang baik. Lebih baik arahkan untuk konseling,” jelas perempuan yang juga mahasiswa jurusan Hukum Pidana Islam. (Sal/Am)

Reporter: Salwa
Penulis: Salwa
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here