Memaknai Jihad Santri Saat Pandemi

0
107
Website | + posts

Justisia.com– 22 Oktober 1945 merupakan hari yang sakral dan penuh makna bagi masyarakat dan negara Indonesia, terkhusus bagi para santri dan kiai yang pada saat itu mempunyai peran penting dalam memperjuangkan kembali negara republik Indonesia pasca kemerdekaan. Itulah jihad para santri yang ditujukan pada bangsa dan negara, namun jika melihat kondisi dunia sekarang ini yang dilanda wabah Pandemi Covid-19, bagaimana Jihadnya para santri ?

Banyak para ahli yang sudah menafsiri makna dari kata “SANTRI”. Menurut seorang peneliti bernama Jons, santri ialah orang yang sedang menuntut agama. Orang pribumi sendiri mengartikan santri ialah orang yang melek huruf. Masih banyak peneliti lain yang meneliti tentang santri, karena santri merupakan orang hebat yang mampu mengakulturasi budaya Islam dan Hindu.

Santri sebagai kader pengayom masyarakat dan pemangku bangsa, tentu tantangan yang akan diperoleh akan semakin kompleks. Permasalahan baru yang muncul akan terus terjadi dan terus berkembang. Dengan demikian maka santri harus menyiapkan diri dengan kreatif, update, dan tentunya akhlakul karimah.

Kreatif dan Inovatif
Di saat wabah seperti ini aktivitas semua orang sangat terbatas, sangat tidak memungkinkan aktivitas manusia bisa semaksimal biasanya. Banyak kejadian-kejadian yang tidak terduga di saat pademi ini. Para pekerja banyak yang di PHK dengan alasan Corona, para pejalar harus merelakan waktunya berkunjung keperpustakaan dan menikmati bangku sekolah yang terpaksa diliburkan sementara dan diganti dengan belajar di rumah.

Hal ini juga berlaku untuk santri yang masih menimba ilmu di Pondok Pesantren. Aktivitas dan tradisi mengalap keberkahan santri terbatasi oleh keadaan yang sedemikian rupa. Seperti contoh mencium tangan dengan orang alim adalah tradisi yang wajar dilakukan oleh santri, namun hal demikian akan beda cerita jika dikaitkan dengan Covid-19.

Santri harus mempunyai sikap tegas terhadap Covid-19, meski banyak isu-isu yang beredar bahwa wabah itu hanya tipuan belaka, meski ada ajaran agama yang mengatakan bahwa semua itu berasal dari Tuhan dan wajar jika Tuhan mengambil alih (meninggal), santri tidak boleh menganggap enteng masalah ini, dan tidak baik meremehkan wabah ini.

Kemudian, yang menjadi kendala saat ini ialah bagaimana santri tetap bisa menjalankan aktivitas keseharian dan tetap bisa mengalap berkah dengan tetap waspada Covid-19. Jawaban masalah ini mungkin sudah banyak digaungkan di berbagai platform media sosial. diantaranya ialah membatasi diri dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Dalam hal ini jika santri memang benar-benar kreatif dan inovatif, ia bisa melakukan beberapa formula baru untuk menopang kekurangan untuk maksimalkan aktivitas sebagai santri. Semisal jika memang santri tidak boleh bersalaman dengan kiai dengan tujuan ngalap berkah, santri bisa menggantinya dengan membaca biografi kiai atau karya kiai dengan tujuan yang sama, yaitu ngalap berkah.

Kemudian, bekal yang inti dan harus dipegang oleh santri sepanjang hidup ialah akhlakul karimah. Akhlak merupakan senjata utama santri untuk bersosialisasi dengan masyarakat, bagaimanapun santri akan terjun ke masyarakat karena itu tugasnya. Maka, akhlak menjadi sebuah keharusan bagi semua santri untuk bekal dimasyarakat.

Dengan akhlak, meski keadaan dunia serba terbatas sedemikian rupa, akhlak bisa bergerak menyikapi keadaan sedemikian rupa. Kedahsyatan akhlak jika diihat sampai sekarang ini ialah tidak ada pertumpahan darah setetes pun. Jikapun ada berarti bisa disimpulkan kalau orang itu belajar ahlaknya belum final. Maka dari itu santri lagi-lagi harus mempunyai bekal akhlak yang karimah, akhlah yang menenangkan bukan menyulut perapian.

Hemat penulis, jihad santri ditengah pendemi ini tidak perlu repot-repot seperti apa yang dibayangkan. Cukup belajar dengan tekun dan patuh terhadap perintah pemerintah terhadap Covid-19. Jikalau ingin memaksimalkan kembali tradisi ngalap  berkah tidak perlu repot harus ini dan harus itu. Santri belajar dan mempelajari kahidupan para ulama dan kiai sudah cukup untuk mendapatkan berkah. Dan itu merupakan bentuk jihad santri kepada ulama dan negara.


Oleh : Sadad Aldiyansyah

Baca juga:  Hilangnya Esensi Hukum dalam Agenda Politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here