Memahami Valentine’s Day dalam Perspektif Tasyabuh Tidaknya

0
210
Memberi hadiah, sebagai salah satu bentuk perayaan Hari Valentine / Foto: BPR DPL

Justisia.com – 14 Februari lekat dengan istilah perayaan Hari Valentine atau Valentine’s Day. Hari yang di Indonesia disebut sebagai perayaan Hari Kasih Sayang itu dirayakan oleh hampir seluruh orang di dunia. Mereka berbagi kartu ucapan, coklat, atau sekadar ucapan biasa.

Namun, di kalangan umat Islam, perayaan Hari Valentine menuai pro dan kontra. Ada yang menerima karena sekadar bertukar coklat atau memberi ucapan bukan suatu hal yang buruk. Ada yang menolak karena merayakan Hari Valentine merupakan praktik tasyabuh atau meniru praktik ajaran dari agama lain.

Seperti misal di Malaysia, menurut Utusan.com, Tokoh Islam di Malaysia, mengingatkan umat Islam agar tidak menyambut Hari Kasih Sayang karena terdapat unsur agama lain. Mantan Perdana Menteri Datuk Seri Muhyiddin Yassin mengatakan, perayaan ini tidak sesuai untuk umat Islam.

Bahkan, mengutip TheJakartaGlobe, pada tahun 2011, pihak berwajib agama Malaysia menangkap lebih 100 pasangan Muslim karena merayakan Hari Kasih Sayang.

Begitu halnya di Arab Saudi, menurut laporan BBC, pada 2002 dan 2008 para tokoh agama mengharamkan penjualan segala barang-barang Hari Valentine karena disebut sebagai bagian dari unsur kebudayaan agama lain.

Menyikapi hal ini, redaksi Justisia.com menemui Pengasuh Pengajian Kitab Tafsir Jalalain, KH. Mohamad Arja Imroni yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo untuk melakukan wawancara.

Terhadap perayaan Hari Valentine, bolehkah itu diadopsi oleh umat islam merayakan hari kasih sayang sesama manusia atas dasar perayaan itu adalah adat yang baik?

Kalau kita lihat dari segi asal-usulnya, Valentine’s Day itu merupakan sebuah tradisi dari sekelompok masyarakat Barat, yang menggunakan kesempatannya dalam menyampaikan rasa saling mengasihi dari satu pihak kepada pihak lain.

Kalau secara substansi, menurut saya bagi Islam hari kasih sayang itu tidak hanya di bulan Februari, Valentine’s Day itu saja. Kasih sayang menurut Islam itu ya setiap hari atau dengan kata lain di seluruh hari itu adalah hari kasih sayang.

Sebab Nabi mengajarkan kasih sayang, sebagaimana ucapan beliau, “arrohimuna yarhamukum rohman” (orang-orang yang menebar kasih sayang antar sesama akan dikasihi oleh Allah).

Nabi juga mengatakan, “irhamuu man fil- ardhi yarhamkum man fis- samaa'”(kasihi orang-orang yang ada di bumi ini, maka kamu akan mendapatkan kasih sayang dari dzat yang ada di langit, yaitu Allah).

Artinya, Sebenarnya kita tidak perlu terbuai oleh budaya Barat seperti itu, karena kita punya prinsip sendiri, kita punya tradisi sendiri yang perlu kita kembangkan.

Saya kira menyikapi Valentine’s Day menurut saya yang paling penting adalah kita sebagai umat Islam memang setiap hari harus mengaktualisasikan arti kasih sayang kepada semua pihak. Bahkan tidak hanya kepada umat Islam saja, tetapi kepada semua manusia.

Jadi, Valentine’s Day itu kan sebuah tradisi. Tradisi Valentine Day yang bermakna kasih sayang ini kemudian menyempit maknanya mohon maaf misalnya hanya berlaku bagi kalangan muda mudi saja.

Menurut saya ini sebuah tradisi yang sebenarnya menyempitkan makna kasih sayang yang sebenarnya sangat universal itu.

Kalau dalam konteks hukum, apakah umat Islam boleh merayakan Valentine’s Day?

Merayakan dalam pengertian secara substansi sebagai hari kasih sayang. Saya tidak tahu apakah Valentine Day itu ada kaitannya dengan tradisi agama lain atau tidak.

Baca juga:  Joko Budi: Jangan Tawarkan Tema yang Biasa

Tetapi kalau secara umum, menurut saya pribadi, kita ngga perlu merayakan Valentine’s Day itu, karena apanya yang mau dirayakan? kita saja sudah punya hari kasih sayang dalam semua hari. Semua hari itu adalah hari kasih sayang bagi kita.

Jadi, secara substansi Islam itu sendiri adalah ajarannya penuh dengan kasih sayang. Yang penting menurut saya adalah bagaimana umat Islam justru menampakkan atau menampilkan Islam yang disebut rahmatan lil ‘aalamin itu sendiri.

Rasulullah itu sendiri diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam yang berarti Islam yang dibawa Rasulullah adalah kasih sayang itu sendiri.

Hal ini sebagaimana Allah berfirman “wa maa arsalnaaka illaa rohmatan lil ‘aalamiin” (aku tidak mengutus engkau kecuali sebagai rahmat).

Hati-hati ayat ini orang sering mengartikan “aku tidak mengutusmu kecuali membawa rahmat”. Bukan seperti itu maknanya. Sebab Nabi itu tidak membawa rahmat, tetapi Nabi itu sendiri adalah rahmat.

Kalau nabi membawa rahmat itu artinya “Nabi” dengan “rahmat” adalah sesuatu yang berbeda. Tapi sebenarnya terjemahan yang benar ayat itu adalah “aku tidak mengutusmu wahai Muhammad kecuali engkau sebagai rahmat seluruh alam”.

Jadi ngapain orang-orang merayakan Valentine Day yang justru itu mempersempit makna rahmat bagi alam semesta itu sendiri. Menurut saya kita tidak perlu merayakan Valentine’s Day, karena istilahnya dalam bahasa Jawa itu kurang gawean.

Melihat kondisi sekarang seperti ini, banyak umat Islam yang merayakan Valentine’s Day, kalau dilakukan apakah perayaan itu termasuk tasyabuh atau tidak?

Bisa jadi itu sebagai praktek tasyabuh, sebab orang hanya ikut-ikut saja. Karena itu yang paling penting menurut saya orang Islam terutama anak-anak muda, harus dikasih tau bahwa mengekspresikan Valentine’s Day itu: it’s not special in the Valentine’s Day, tapi anytime harus menyampaikan kasih sayang itu.

Kita tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk perayaan seperti itu. Apalagi kalau levelnya mahasiswa mereka harus berhati-hati dan mengetahui, mau melakukan apa harus tahu filosofinya terlebih dahulu.

Sebenarnya yang dimaksud dengan tasyabuh dalam kategori yang tidak diperbolehkan atau dengan kata lain batasan apa saja sehingga dapat dikatakan tasyabuh yang diharamkan?

Kalau yang saya pahami itu ada ungkapan: man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum. Tentu saja, Tasyabuh yang dilarang adalah tasyabuh dalam pengertian yang ada kaitannya dengan tradisi-tradisi keagamaan yang lain.

Misalnya mungkin dari tradisi Kristen atau agama lain lalu kita mengikutinya, itu jelas kita melakukan tasyabuh.

Nah, dalil yang paling jelas seorang melarang tasyabuh itu antara lain misalnya begini; Rasulullah saja ketika sampai di Madinah, orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Kemudian ditanya, mengapa mereka mengapa berpuasa hari ini? Jawabnya karena pada hari Nabi Musa di selamatkan Tuhan dari kejaran Fir’aun.

Kemudian Rasulullah mengatakan kalau begitu kami lebih berhak untuk melakukan itu. Untuk menghindari tasyabuh, Rasulullah menambahkan puasa sebelum hari ‘Asyura itu. Yakni dengan berpuasa tanggal 9 atau hari Tasu’a agar kita berbeda dengan orang Yahudi.

Artinya, Rasulullah itu sangat berhati-hati meskipun motivasinya adalah ibadah yang kemudian ikut mensyukuri diselamatkannya Nabi Musa dari pengejaran Fir’aun. Tapi ternyata Nabi sendiri melakukan sesuatu agar berbeda dengan praktek yang dilakukan Yahudi.

Baca juga:  "It is No Dividing Gender Function, But Surrender, Taqwa, and Service Capacity"

Untuk menghindari kesamaan tradisi satu dengan tradisi yang lain maka Nabi membedakan dengan melakukan puasa sebelumnya.

Islam datang dari Arab sehingga banyak kalangan yang mengatakan tradisi Arab pasti tradisi Islam, dan Islam itu pasti Arab. Padahal Islam sudah menyebar luas, baik salah satunya di Indonesia maupun hingga Barat, itu bagaimana cara mengartikannya agar terhindar dari tasyabuh yang tidak diperbolehkan?

Ungkapan bahwa Islam adalah Arab atau Arab adalah Islam adalah sesuatu yang sangat keliru kira-kira. Karena tidak semua yang Islam pasti Arab atau sebaliknya Arab itu pasti Islam.

Karena ada tradisi-tradisi Arab yang tidak dipakai Islam juga banyak, misalnya ketika Rasulullah di Mekkah, ada tradis-tradisi yang hidup, tetapi Rasulullah kemudian mengubah tradisi-tradisi yang ada kaitannya dengan ritual.

Dahulu masyarakat Arab sudah ada tawaf di Ka’bah tetapi dengan cara telanjang, lalu Rasulullah membawa syariat, oke tawaf perlu dilaksanakan, tetapi tawaf harus menutup aurat.

Tetapi tradisi-tradisi kehidupan yang bukan dari syariat ya tetep saja diabadikan, dipakai saja oleh beliau. Misalnya adalah jubah.

Sebelum Rasulullah datang sampai sekarang, dari dulu orang Arab ya memakai jubah. Kenapa Nabi tidak memakai celana atau sarung? Karena jubah itu bagian dari tradisi yang kemudian dianggap tidak adanya pertentangan dengan Islam.

Berpakaian dengan pakaian jubah seperti itu, kemudian oleh Rasulullah memakainya. Itu artinya pakaian jubah itu tradisi Arab, bukan tradisi Islam karena itu sudah ada sebelum Islam.

Ada tradisi yang diubah dan ada juga tardisi yang masih tetap atau tidak diubah. Hanya saja misalnya tidak boleh isbal, yakni memakai jubah yang sampai menyeret di bawah sampai jubahnya nyaruk-nyaruk [mengenai, red] tanah, itulah yang dilarang oleh Rasulullah.

Tetapi bentuk pakaiannya masih tetap seperti demikian. Pakaian jubah dan modelnya seperti itu adalah tradisi. Artinya orang-orang Indonesia jalan-jalan pakai jubah itu tidak Islami, namun kearaban.

Makanya para ahli hukum atau ahli ushul fiqh itu membedakan pengertian as-sunnah; as-sunnnah menurut ahlu ushul fiqh adalah apa yang datang dari Rasulullah berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir hanya yang berkaitan dengan hukum syariat, tetapi kalau tidak berkaitan dengan hukum syariat oleh ahli ushul fiqh tidak disebut as-sunnah meskipun menurut ahli hadis itu disebut as-sunnah.

Jadi artinya tasyabuh atau tidak itu apakah berkaitan dengan hukum syara’ atau tidak. Sehingga ini jelas budaya atau ini syariat maka pemisahannya di mana? Maka pemisahannya, ukurannya adalah apakah Rasulullah saat itu sebagai seorang Syari’ atau sebagai seorang manusia.

Misalnya, ketika Rasulullah jalan-jalan lalu melihat ada sahabat yang sedang berupaya untuk melakukan rekayasa genetika kurma. Lalu Rasulullah mengatakan, “biarin aja, nanti kan akan tumbuh tumbuh sendiri,” ternyata dia mengikuti saran Rasulullah. Walhasil kurmanya tidak jadi atau gagal karena tidak melakukan rekayasa genetika saat itu.

Pada saat itu Rasulullah mengatakan antum a’lamu bi umuuri dunyaakum berarti apa, ukurannya? Ukurannya semua yang bersifat aspek-aspek duniawi itu berupa tradisi, bukan bagian dari syariat yang harus diikuti.

Baca juga:  Sang Penjinak Petir

Konteksnya apa yang dipakai sehingga banyak kyai atau tokoh masyarakat yang mengatakan bahwa tasyabuh itu haram?

Mungkin dalam konteks ini kyai lebih mengedepankan ihtiyath artinya lebih kepada hati-hati. Hati-hati agar generasi muda tidak terjebak dalam tasyabuh itu sendiri.

Saya terus terang belum melakukan penelitian apakah Valentine itu sebenarnya ada kaitannya dengan tradisi atau ritual keagamaan atau tidak dari agama yang lain.

Yang jelas budaya itu lahir dari budaya Barat. Tapi apakah ini ada kaitannya dengan ajaran agama tertentu? saya belum bisa menjelaskan itu karena belum melakukan penelitian.

Namun sarannya bagaimana? Saran saya ya menyambut hari kasih sayang dalam konteks substansi ingin mencurahkan kasih sayang itu ya tidak apa apa, cuma cara dan modelnya tidak usah meniru-niru mereka.

Valentine’s Day sekarang, banyak kalangan terutama mohon maaf dari kalangan muda itu diangggap hari sakral untuk mencurahkan hari kasih sayang secara berlebihan.

Belum menjadi suami istri saling mencurahkan kasih sayang sedalam-dalamnya misalnya sampai melakukan maksiat, itu jelas haram.

Jangankan karena mencurahkan kasih sayang, misalnya sekali-kali melakukan praktek ciuman di hari Valentine’s Day, itu mau ditanya sampai kapan pun tetap haram melakukan praktek seperti itu.

Jadi kalau sekedar mengucapkan selamat Valentine Day sebagai hari kasih sayang menurut saya tidak ada masalah hukumnya, atau boleh saja.

Yang keliru adalah cara bagaimana mengungkapkan kasih sayang yang sampai melewati batas-batas syariat. Misalnya seperti tadi, belum jadi apa-apanya mumpung ini hari Valentine’s Day maka kita perlu melakukan ciuman atau mengucapkan kasih sayang dengan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya ya itu pasti haram.

Apa makna substansial yang sesungguhnya dari dilarangnya bagi umat Islam untuk bertasyabbuh?

Kenapa Tasyabuh kemudian dilarang, itu kalau ada kaitannya dengan persoalan ajaran keagamaan. Kalau misalnya ada orang Barat iklan pakai arloji untuk kita beli arloji, apakah itu bisa disebut tasyabuh? Tasyabuh fil waqi‘ (tasyabuh dalam pengertian kita niru dia)? Iya, tapi apakah tasyabuh seperti itu dilarang? Kan tidak.

Tidak semua tasyabuh dilarang, ada orang iklan baju bagus di TV lalu anda pilih baju itu. Saya pengin beli baju yang dipakai seperti iklan itu, kan tidak ada masalah dalam hal seperti itu. Yakni tasyabbuh dalam pengertian hanya pada aspek dzohir [apa-apa yang tampak, red] seperti itu.

Karena itu menurut saya, tasyabbuh yang dilarang adalah jika sudah mengandung unsur keagamaan lain.

Bagaimana kalau kita sebagai orang muslim Indonesia meniru budaya Barat?

Jika budaya itu sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran kita kan tidak ada masalah. Misalnya yang ngajarin pakai celana jeans itu siapa? Orang Amerika, ya kan, tradisi koboi itu.

Sekarang orang pakai celana jeans itu hakikatnya tasyabuh tapi hal itu tidak ada masalah, orang kita cuma meniru kebiasaan dalam konteks kebudayaan yang tidak ada kaitannya dengan agama apa pun.

Tetapi jika kita melakukan sesuatu, tetapi apa yang kita tiru itu merupakan tradisi yang lahir dari ajaran agama lain, tentu saja itu yang menurut saya tidak bisa dibenarkan. (Njh/Am)

Reporter: Najih
Penulis: Najih
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here