Max Webber dan Kedermawanan

0
200

Oleh: Abdullah Salam

Max Webber hidup pada zaman di mana sains sudah cukup maju, kemajuan sains ini seharusnya mendorong manusia untuk semakin rasional.

Begitulah kira-kira makna yang inign disampaikan oleh Cahyono saat menjadi pemateri di kelas Islamic Studies yang diselenggarakan LPM Justisia, Minggu  (26/01/2020).

Sains yang menjadi tonggak kemajuan Eropa pada abad ke-19, abad di mana Webber hidup menuntut manusia berfikir rasional berbanding terbalik dengan sudut pandang pemikiran masyarakat yang masih kental akan nilai-nilai tradisional dan emosional.

Latar belakangnya yang berasal dari keluarga beradab membentuk pemikirannya menjadi cenderung sosialis-agamis.

Bukunya yang berjudul “Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme” memaparkan banyak pemahaman agama dengan cara yang rasional namun tidak menghilangkan makna-makna sosialisme.

Salah satu nilai yang sering ditekankan adalah kedermawanan sebagai bagian dari perintah agama yang diuraikan sebagai manusia mencari uang agar kaya dan kekayaan ini digunakan untuk berbagi agar dekat dengan Tuhan.

Menurutnya dengan cara ini agama bisa mengendalikan kapitalisme, karena seperti halnya yang diakui oleh Karl Marx bahwa agama adalah candu, agama juga berarti bagian dari masyarakat yang sulit sekali dipisahkan.

Baca juga:  Habib Luthfi: Mengenal Jati Diri Sebagai Garis Awal Kemajuan

Kak Yon -sapaan akrabnya- juga menjelaskan sudut pandang Webber dalam penyelesaian masalah yang cukup kritis.

Menurutnya, dalam memahami masalah tidak cukup dengan mencari solusi untuk masalah yang sedang dihadapi, namun juga mencari akar masalah yang menyebabkan masalah tersebut.

Ia mencontohkan misalnya, saat ada bencana banjir tidak cukup kita mencari solusi menyelamatkan diri dari banjir, namun kita juga perlu mencari akar penyebab bencana ini, misalnya penggundulan hutan dan pembuangan sampah sembarangan.

Cara berfikir yang mengedepankan rasionalitas seperti ini adalah karakteristik filsafat modern yang berkembang pada abad ke 19.

Salah satu hasil penelitian panjang Webber yang masih sering dikaji adalah pembagian tindakan sosial menjadi 4 tipe.

Tipe pertama, rasionalitas-instrumental, tindakan dengan keinginan mencapai tujuan tertentu, seperti transaksi ekonomi.

Tipe kedua, rasionalitas-nilai, mengacu pada tindakan yang didasari kepercayaan terhadap suatu nilai, seperti berdo’a.

Tipe ketiga, tindakan afeksi, yaitu tindakan karena dorongan persaan. Tipe terakhir, tindakan tradisional, adalah tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang.

Sosiologi modern yang lebih didominasi Barat tidak bermakna jika tidak ada sosiolog yang berasal dari Timur.

Baca juga:  Revitalisai Reforma Agraria Berdasar Politik Hukum Agraria Nasional

Alasan yang mendasari zaman modern lebih berkiblat ke barat dalam bidang intelektual adalah karena stabilitas negara pada masa peralihan modern lebih banyak ditemukan di negara-negara Barat.

Tak bisa dipungkiri bahwa saat Eropa memulai renaissance, negara-negara di kawasan asia terutama timur tengah banyak yang dilanda konflik, dan hal ini menjadi salah satu faktor utama tersendatnya perkembangan ilmu pada peradaban timur.

Barat mungkin menjadi kiblat intelektual pada masa modern, namun tidak semua teori-teori yang dipakai di Barat sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal.

Bukan tidak mungkin kiblat intelektual bisa berpindah jika peradaban Timur bisa mengejar ketertinggalannya dengan nilai-nilai kearifan lokalnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here