Larangan Sholat Jum’at Bukan Berarti Menyepelekan Agama

0
330

Oleh: M. Bahrul Falah


Justisia.com – Virus Covid-19 semakin hari semakin membabi-buta. Banyak korban jiwa berjatuhan karena terjangkit virus yang belum dipastikan darimana asalnya. Menurut kabar yang beredar, virus tersebus pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Sebagian ilmuwan berpendapat asal muasal virus tersebut berasal dari pasar hewan yang berada di Wuhan, tetapi itu tidak menjadi keputusan pasti.

Sebab sebagian orang masih berspekulasi bahwa virus itu merupakan imbas dari World War negara-negara adi daya karena persaingan sektor ekonomi. Entah mana yang dijadikan dalil pasti penentuan asalnya, yang terpenting untuk dibahas sekarang yaitu bagaimana cara meminimalisir virus tersebut agar tidak menyebar luas.


Penyebaran virus tersebut terbilang cukup cepat, mengingat sampai saat ini kurang lebih ratusan ribu orang terjangkit dan ribuan orang meninggal dunia dengan waktu yang singkat. Penularannya melalui media manusia dengan sistemasisasi orang yang terjangkit akan menjangkiti orang lain sehingga virus tersebut akan hidup didalam diri orang lain.

Oleh sebab itu sangat perlu untuk menahan diri agar sebisa mungkin tidak berkumpul dengan orang lain secara fisik untuk mengurangi penyebaran. Hal itu sesuai anjuran pemerintah untuk melakukan Physical Distancing atau menjaga jarak fisik dengan orang lain dengan implikasi membatasi kegiatan sosial warga negara dengan menganjurkan untuk bekerja, belajar, beribadah di rumah.

Baca juga:  Infeksi Corona dan Ekonomi Global


Penerapan physical distancing tersebut tentunya mendapatkan reaksi yang beragam dari warga negara, karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial terhambat karena untuk memenuhi anjuran pemerintah tersebut. Kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak orang terpaksa dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi penyebaran covid-19, seperti pengajian, sholat jumat, dll.


Pro kontra mencuat mengiringi langkah antisipasi tersebut, ada yang mengatakan setuju karena sebagai langkah preventif, ada juga yang mengatakan tidak setuju karena itu terlalu berlebihan. Maka dari itu kiranya sangat tepat untuk menjadikan Ushul fiqh sebagai analisator permasalahan itu karena sesuai dengan fungsinya.


Syariat Islam diturunkan untuk kemashlahatan umat manusia sesuai dengan perkataan ushuliyyin yang artinya: “Sesungguhnya semua pembinaan Syariat Islam diacukan pada kemashlahatan umat manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat.”


Menurut Imam al-Ghazali dalam kitab al-Mushtofa min ilmi al-ushul menerangkan pengertian kemashlahatan yang dimaksud yaitu perlindungan agama (hifdhu ad-din), perlindungan jiwa (hifdhu an-nafs), perlindungan akal (hifdhu al-aqli), perlindungan martabat daan keturunan (hifdhu al-irdl wa an-nasl), perlindungan harta (hifdhu al-mal).
Sesuai dengan pengertian diatas menunjukkan untuk menghindarkan kemafsadatan semaksimal mungkin sebagai hak kemaslahatan, mari kita aplikasikan pendapat tersebut.

Baca juga:  Falsafah Etimologi Pendidikan Menurut Fahrudin Faiz

Kita dapat melihat seperti apa ganasnya virus covid-19 menyebar dari individu per-individu. Bahkan satu orang yang terjangkit covid-19 bisa menyebabkan semua orang dalam satu perkumpulan terinfeksi baik secara ringan maupun berat. Ciri seseorang yang terjangkit terkadang tampak seperti orang yang sehat dan normal, sehingga sangat sulit untuk mendeteksi semua orang apakah ia terjangkit atau tidak kecuali dengat alat pendeteksi khusus. Sampai saat ini alat itu tidak dapat mencukupi kebutuhan seluruh wilayah Indonesia.


Pertimbangan kemafsadatan tersebut sangat memberikan alasan untuk menghentikan sementara kegiatan sosial termasuk kegiatan keagamaan yang biasanya dilakukan sehari-hari seperti sholat berjamaah. Meskipun terdapat banyak kebaikan pahala untuk satu kali sholat jamaah lebih baik untuk diberhentikan sementara demi mencegah kemafsadatan yang sangat besar.


Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang tidak memerangi kaum Munafiqin. Pada dasarnya sangat mudah bagi Rasul dan sahabatnya untuk membasmi kaum Munafiqin saat itu, tetapi Rasul tidak serta merta memeranginya secara langsung untuk menghindari kemafsadatan yang ditimbulkan, karena jika hal itu dilakukan maka tentu akan memberikan stigma yang buruk bagi Rasulullah yang dianggap memerangi sahabat sendiri yang sebenarnya merupakan kaum Munafiqin. Padahal jika dilihat berapa kebaikan yang didapatkan untuk memerangi kaum Munafiqin dengan niat fisabilillah, tetapi lebih baik menghindarinya demi keberlangsungan dakwah rahmah Rasulullah SAW.

Baca juga:  UIN Walisongo Beri Bantuan APD untuk Tenaga Medis


Berkaca teladan Rasulullah SAW memberikan gambaran betapa agama ini memiliki tujuan kemaslahatan yang besar. Bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan tuhannya semata yang menjadi pertimbangan, tapi hubungan horizontal antara manusia dengan manusia juga mendapat pertimbangan yang serius.

Menghentikan kegiatan keagamaan seperti sholat Jum’at bukan berarti menyepelekan agama denga tanpa alasan. Salah besar jika hanya menafsirkan agama dengan ibadah formalitas semata, agama diturunkan sebagai rahmat untuk semesta alam, bukan sebagai penghalang kebaikan hidup manusia.

Jika paksaan untuk tetap menunaikan kegiatan keagamaan ditengah pandemi covid-19 maka kemungkinan terbesar agama akan dianggap menjadi candu yang negatif bagi umat manusia dengan hanya memikirkan kemashlahatan secara sepihak tanpa mempertimbangkan kebaikan jiwa dan raga.


Pertimbangan yang lain adalah keberlangsungan kehidupan manusia. Seperti tujuan syariat untuk perlindungan jiwa (hifdzu an-nafsi) atas segala macam bahaya yang akan merengut jiwanya. Jika seorang muslim tertular covid-19 akan menjadikan halangan untuk melaksanakan peribadatan selanjutnya yang tentunya juga banyak terdapat pahala dan serta keberlangsungan kehidupannya. Maka sebaiknya sebagai seorang muslim yang baik tetap melakukan physical distancing sesuai anjuran pemerintah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here