Kuliah, Serba Salah Selama Wabah

0
235
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Oleh: Muhammad Lutfi Nanang Setiawan

Justisia.com – Sudah hampir 10 bulan dunia dihebohkan dengan corona virus. Kebiasaan harian yang lumrahnya dilakukan di luar ruangan terpaksa harus dirumahkan. Pun kebijakan pemerintah yang menganjurkan untuk stay at home selama pandemi ternyata juga berdampak kepada berubahnya tatanan kehidupan di semua lini. Dunia pendidikan misalnya, yang sebelumnya diajarkan melalui tatap muka, karena pandemi berubah diskusi lewat WA.

Sebagai pemuda seperti saya, terlebih mahasiswa baru yang baru beberapa bulan mencicipi dunia perkuliahan, tidaklah mudah untuk menggambarkan bagaimana perasaan dan suasana kuliah via daring. Banyak keluh kesah yang ikut serta menemani selama perkuliahan berlangsung. Di lain sisi tentu juga ada baiknya kuliah daring selama pandemi. Merupakan usaha untuk memutus rantai virus dan meminimalisir resiko selanjutnya, disamping sebagai warga negara yang baik tentunya kudu patuh kepada pemerintah.

Selama hampir 3 bulan menjadi mahasiswa perdana, yang dari awal sudah disuguhkan berbagai hidangan digital maka tidak heran jika sebagian pelajar menganggapnya sebagai suatu hal yang tidak biasa. Awal tahun pelajaran yang selalu digadang sebagai tahun keceriaan lebih-lebih lagi mahasiswa seperti saya yang membawa segudang semangat dan harapan bisa bertemu teman, menikmati gedung perkuliahan, dan mendengar penjelasan dosen terpaksa hanya bisa sebatas lewat google meet atau zoom yang kadang sinyal internetnya ngga karuan.

Nasib sama seperti yang dialami oleh teman-teman saya. Terutama mereka yang rumahnya luar Jawa, jauh dari jangkauan sinyal dan kesulitan untuk membeli kuota. Mau tidak mau harus berusaha bagaimana bisa mengikuti kuliah secara lancar tanpa ada kendala jaringan. Memang kuliah selama pandemi bisa diikuti dengan rebahan atau diselingi pekerjaan tetapi kendala sinyal dan kuota memang lebih menjengkelkan.

Begitu juga dengan awal-awal perkuliahan yang dimana semangat dan antusiasme masih bisa tercurahkan walaupun secara lapang dada harus bisa menerima kenyataan. Hingga makin kesini sedikit demi sedikit dorongan dan minat untuk mengikuti kuliah mulai rendah. Di samping pribadi mahasiswa yang lumrahnya bergulat dan aktif kesana kemari mengikuti kegiatan kampus terpaksa hanya bisa menikmati secara virtual dengan perasaan kesal.

Kuliah daring sendiri dapat dipahami sebagai sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi dengan skema komunikasi dua arah antara dosen dan mahasiswa melalui dunia maya. Bisa melalui video conference, google classroom, dan sebagainya yang dimana model pembelajarannya antara dua pihak tidak bertatap muka secara langsung. Sistem pendidikan online pun tidak mudah. Di samping disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri, ada fasilitas dan sumber daya yang mesti disediakan.

Kerap kali terjadi selama kuliah daring adalah dosen pengajar memberikan tugas kepada mahasiswa yang kadang instruksinya belum begitu jelas. Belum lagi mengenai diskusi baik melalui google meet ataupun WAG (WhatsApp Grup) yang jarang juga dosen ikut nimbrung membimbing jalannya diskusi. Inilah salah satu alasan mengapa mahasiswa banyak mengeluh perihal kuliah daring yang kurang begitu efektif. Terlebih bagi mahasiswa baru yang belum begitu memahami materi perkuliahan dipaksa untuk diskusi begitu saja tanpa ada arahan dan bimbingan.

Yang lebih menjengkelkan lagi ketika dari awal perkuliahan tidak faham dengan materi yang diajarkan hingga tiba-tiba UTS datang begitu saja bak seorang tamu yang datang tanpa diundang. Deadline yang ditentukan pun terkadang bisa membuat pribadi deg-degan. Belum lagi soal yang diberikan bercabang hingga tak sedikit bikin mahasiswa kedandapan. Fenomena seperti inilah yang sering menjadi drama UTS daring yang seringnya membuat semangat menjadi garing.

Cuitan “IP semester ini ditentukan oleh sinyal dan kuota” mungkin benar adanya. Nasib baik bagi mereka yang mempunyai fasilitas akseptabel ataupun disiplin pribadi yang kapabel. Mungkin bisa menjadi dorongan untuk lebih giat mengikuti materi serta menjejaki dunia perkuliahan. Ataupun kriteria tersebutlah yang layak mendapat IP sesuai harapan. Lantas, bagaimana dengan mereka yang memiliki kriteria sebaliknya?

Baik peserta didik dan pengajar sama-sama dituntut untuk beradaptasi dalam kegiatan pembelajaran selama masa pandemi ini. Metode pembelajaran harus dapat disesuaikan dengan kebutuhan agar materi mudah tersampaikan. Peserta didik diharapkan lebih aktif bertanya serta mencari sumber materi pembelajaran lainnya.

Tenaga pengajar baik dosen maupun guru juga diharapkan mencari metode belajar melalui media online. Metode pembelajaran tersebut tentunya bukan yang dapat membebani peserta didiknya hanya dengan memberikan tugas, sehingga esensi dari pembelajaran jarak jauh dapat diterima dengan baik.

Baca juga:  Rekontruksi Hukum Masa Iddah untuk Laki-Laki (Bag-3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here