Kualitas Jurnalistik dan Romantika Heroik Masa Lampau

0
183
Pers kampus / Ilustrasi: Kompasiana

Oleh: M. Ali Masruri

Justisia.com – Selamat Hari Pers Nasional!

LPM Justisia mengucapkan selamat Hari Pers Nasional bagi para jurnalis, maupun penikmat karya-karya jurnalisme.

Saya hendak bercerita sedikit tentang percakapan kita di lingkungan teman-teman Justisia, salah satu “jurnalisme kampus” tentang bagaimana strategi perkembangan Justsia kedepannya?

Digitalisasi sepertinya merupakan tantangan yang cukup serius saat ini. Sebab kepandaian menulis saja tidak cukup melainkan perlu adanya kecakapan teknologi, mulai olah website, desain, dan keahlian mengelola media sosial.

Era digital, adalah era kemudahan sekaligus kebingungan bagi para jurnalis hari ini, sebuah paradoks yang mestinya jangan sampai terjadi.

Firman Imaduddin dalam Remotivi.or.id pernah menuliskan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan “Dalam transisi ke dunia digital, industri pers berfokus mendorong kuantitas konten dengan logika viral. Apa ongkos yang perlu dibayar dengan strategi ini?”

Jika digitalisasi adalah bagian dari globalisasi maka benar adanya perkataan Yasraf Amir Piliang, “Globalisasi adalah sebuah proses paradoks, terdapat dua sifat kontradiktif hadir secara bersamaan di dalamnya: homogenisasi dan heterogenisasi, kesatuan dan pluralitas, unifikasi dan perbedaan, sentralisasi dan desentralisasi. Dengan demikian, globalisasi adalah sebuah kesatuan dalam paradoks (a unity of the paradoxes)“, (Yasraf, 2011).

Bagi mahasiswa yang aktif di LPM, digitalisasi ini adalah suatu tantangan yang serius sekaligus penderitaan yang cukup akut pula.

Kita yang selama ini dianggap memiliki pengetahuan informasi yang lebih, harus dituntut menjadi yang pertama update informasi yang valid dibanding dengan mahasiswa lain, jelas ini adalah sebuah penderitaan yang berkepanjangan.

Bagi yang belum mengenal apa itu LPM? LPM adalah singkatan dari Lembaga Pers Mahasiswa, bukan bermaksud merendahkan, sebab saya sering bertemu dengan mahasiswa super gaul dan kece-kece yang tidak mengenal LPM padahal ia sudah semester lansia.

Baca juga:  Cintaku Kalah dengan Oreng Kapalan

Konten dengan logika viral atau trending memang menjadi fokus industri pers digital, isu-isu menarik dan fenomenal akan menjadi menu spesial. Kecepatan, banyaknya konten yang disajikan adalah harga mati bagi industri pers online.

Namun sebagai seorang jurnalis tak pantas kemudian kita terlena dengan logika viral, cepat dan banyaknya viewers saja, sehingga menjadi seorang jurnalis yang mementingkan kuantitas dari pada kualitas.

Jadi teringat perkataan Bondan Winarno (Mak Nyus) yang pernah mengatakan bahwa: “Dulu orang bangga mempunyai profesi sebagai wartawan. Sekarang orang baru bangga bila disebut sebagai wartawan investigatif, yaitu seorang wartawan yang menggunakan teknik investigasi untuk menggarap berita yang dilaporkan”, (Septiawan Santana, 2003).

Ada satu lagi genre jurnalistik yang mirip dengan jurnalisme investigasi, yakni jurnalisme yang disebut oleh Maria Hartiningsih sebagai “Jurnalisme Sastrawi” yang ia ambil dari Tom Wolfe, wartawan cum novelis, Amerika Serikat, yang mengenalkan istilah genre baru dalam dunia jurnalistik dengan sebutan “New Journalism” pada tahun 1960-an.

Genre temuan Wolfe ini kemudian dikembangkan oleh beberapa pemikir jurnalisme. Ada yang memakai nama “Narative Reporting” ada juga yang menggunakan nama “Passionale Journalism”, atau “Explorative Journalism” dan apapun namanya yang jelas genre ini lebih dalam dari tipe “In depth Reporting”.

Kemudian apakah kumpulan cerita pendek karya Seno Gumira Adjidarma “Saksi Mata” masuk dalam kategori jurnalisme sastrawi?

Baca juga:  Pembenaran Kaum Islamis Nasionalis Atas Rasisme dan Fasisme

Adjidarma cerita soal pembunuhan orang-orang Timor Leste oleh tentara Indonesia pada November 1991. Ceritanya memukau. Tapi karya itu fiktif. Nama-nama itu diganti. Tempat tak disebutkan jelas.

Adjidarma membuat cerita fiksi justru karena ia tak bisa menulis fakta. Harap maklum, rezim Soeharto dengan anjing-anjing penjaganya melarang media bercerita bebas soal pembantaian Santra Cruz pada 1991, (Andreas Harsono, 2008).

Jelas kedua jenis jurnalisme ini yaitu “Jurnalisme Investigasi dan Jurnalisme Sastrawi” adalah bentuk karya tertinggi dari dunia jurnalistik.

Romantika Heroik Masa Lampau

Kita cukupkan dulu permbahasan tentang jihad melawan penderitaan akibat digitalisasi ini. Agar pembicaraan ini lebih intens, tidak ada salahnya kita mendengarkan kisah jurnalistik jaman dahulu.

Situasi ini dimulai saat para jurnalis senior sudah mulai bercerita tentang romantisme masa lampau, yang lebih terdengar seperti sebuah evaluasi.

Dalam prolognya mereka berkata, “menjadi jurnalisme hari ini lebih mudah dengan keterbukaan informasi, dan adanya free public sphere. Berbeda dengan jaman saya dulu saat Orde Baru masih berkuasa. Wartawan dibungkam, banyak perusahaan penerbitan yang dibredel, terkadang harus bersembunyi dari kejaran intel”. Dan lain sebagainya.

Sungguh penderitaan yang sempurna. Sulitnya bukan main bagi kami yang hidup hari ini untuk membayangkannya.

Bagi mahasiswa jurnalis pasti bisa merasakan bagaimana ekspresi para jurnalis senior itu dengan membentuk mimik muka agar memperlihatkan kesempurnaan penderitaan waktu itu, yang menurut saya tujuannya ada dua kemungkinan.

Pertama, ingin memberi semangat pada kami agar tidak malas belajar akibat “zona nyaman” atau sedikit memamerkan romantika perjuangannya masa lalu.

Baca juga:  Sumanto: Kualitas Intelektual Justisia Harus Dijaga

Alhasil dapat anda bayangkan, disaat besok adalah jadwal presentasi makalah, atau UTS, atau yang lebih keren lagi UAS, sedangkan kami tetap harus liputan dan wawancara sebagai bentuk profesionalisme. Ini adalah kepanikan yang sempurna, untungnya kami para jurnalis biasa menempatkan nilai IPK diurutan nomer 3. Pertama, sehat, kedua karya, ketiga baru IPK, pacar menyusul sebagai bonus dari perjuangan.

Sebelum liputan, wartawan harus menentukan “angle” terlebih dahulu agar hasilnya tidak “semrawut”, lalu melakukan analis wacana untuk menentukan narasumber yang sesuai dengan “angle” yang dipilih.

Apalagi jika kebetulan bertemu dengan nara sumber yang galak, “tersinggung langsung semprot”. Itu pun paling masih dalam ranah pembuatan berita pendek seperti straight news, atau feature, belum yang in depth news, lebih-lebih jika ingin menulis jurnalisme sastrawi.

Robert Vare mengatakan, “ada tujuh pertimbangan bila anda hendak menulis narasi”. Pertama, fakta. Jurnalisme menyucikan fakta, walau pakai kata dasar “sastra” ia tetap jurnalisme, yang terpenting detailnya harus berupa fakta.

Kedua, konflik. Tulisan akan memikat jika mengandung konflik. Ketiga, karakter. Karakter membantu mengikat cerita. Keempat, akses untuk menuju kepada sosok karakter.

Kelima, emosi. Emosilah yang menjadikan cerita hidup. Keenam, perjalanan waktu. Ini yang membedakan narasi jurnalisme sastrawi dengan straight news. Ketujuh, unsur kebaruan.

Sudahlah, biarkan semua itu menjadi penderitaan kami para jurnalis mahasiswa. Setelah kalian tahu beratnya jadi jurnalis, yang perlu kalian ingat adalah bacalah tulisan-tulisan yang telah diterbitkan, jangan biarkan mubazir, yang kata seorang kiai memubazirkan barang yang baik itu temennya setan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here