Kiai Fiqih bicara soal Perempuan: Dialektika Jilbab dan Aurat Perempuan

0
251

Oleh: Abdullah Faiz

Part 1

Dalam fakta kehidupan kita dalam bermasyarakat, belakangan ini perbincangan sekitar hak-hak perempuan terus bergulir seakan-akan tak akan pernah berhenti, belum lama minggu-minggu kemarin kita diributkan dengan pernyataan soal kewajiban berjilbab sebagian netijen sampai ramai dan tega mengucapkan kata kata kasir kepada istri Almaghfurlah K. H. Abdurrahman Wahid.

Sebenarnya kosa kata ini sudah larut di perbincangkan dan di perdebatkan sejak jaman dahulu. Isu ini telah ditulis oleh para ulama, pemikir dan cendekiawan dalam beribu buku, kitab kuning dan berbagai karya ilmiyah, namun sekarang ini kembali di perbincangkan dengan situasi sengit dan menegangkan, ini menandakan kita sebagai muslim belum bisa belajar memahami argumentasi pendapat yang berbeda dan belum bisa memahaminya dengan santun.

Jilbab atau hijab sebenarnya memiliki arti yang berbeda secara garis besar jilbab berasal dari kata kerja Jalaba Yajlibu yang berarti menutupi sesuatu sehingga tidak terlihat atau sering kita pahami bahwa jilbab adalah sehelai kain yang digunakan untuk menutupi kepala dan tubuh perempuan. Sedangkan hijab berasal dari kata kerja Hajiba yang berarti pemisah atau sekat antara dua ruang.

Berjalannya waktu makna hijab bergeser secara terminologi menjadi sebuah pakaian yang digunakan oleh muslimah, kiyai Husein Muhammad memaknai Hijab sebagai sekat atau penghalang yang di maksudkan sebagai alat mekanisme pencegahan terjadinya tindakan bernuansa seksual.

Pokok permasalahan ini bisa jadi terdapat pada ijtihad yang berbeda mengenai konsep batasan aurat sehingga konsekuensi hukum menutupnya pun berbeda. Diskusi ini akan panjang karena kita perlu mengkaji bab Aurat dulu secara mendetail.

Baca juga:  Mudik sebagai Proses kembali ke Fitrah

Apakah rambut, leher telinga itu termasuk aurat atau tidak? Bahkan auratnya perempuan atau laki laki ketika sudah menjalin pernikahan batasan auratnya pun juga berbeda.

Aurat dalam kajian fiqih
Aurat dalam Islam adalah suatu anggota yang wajib ditutupi. Dalam hal ibadah maupun di luar ibadah namun, mengenai batasan anggota tubuh yang dianggap aurat, pandangan fiqih membedakan antara perempuan dan laki-laki.

Walaupun ada perbedaan tetapi secara umum mayoritas ulama berpendapat bahwa lelaki semestinya menutupi bagian anggota tubuh antara pusar dan lutut dan perempuan tentunya lebih tertutup dari pada laki-laki.

Batasan Aurat
Dalam aurat perempuan para ulama lebih menjelaskan secara perinci dengan membedakan sesuai kondisi dan keadaanya. Pertama, perempuan Amat (budak) auratnya sama dengan laki-laki dimanapun berada.

Kedua, perempuan merdeka ketika di hadapan orang lain auratnya lebih tertutup dalam arti semua badan kecuali wajah dan telapak tangan sedangkan ketika di hadapan sesama perempuan yaitu bagian anggota antara pusar dan lutut.

Dan ada satu keterangan lagi bahwa para ulama ahli fiqih telah bersepakat ketika perempuan dan laki-laki sudah menjalin pernikahan maka tidak ada batasan aurat lagi bagi mereka dalam arti antara suami boleh melihat dan memegang semua anggota badan istri sampai alat kelamin (farji) dan juga sebaliknya.

Baca juga:  Nyadran: Wujud Berdamai dengan Alam

Karena sudah ada shighot yang memperbolehkan (mubah) mereka melakukan hubungan badan. Namun dalam masalah melihat alat kelamin para ulama masih berbeda pendapat Madzhab Syafii dan Hanbali menghukumi makruh ketika suami melihat kemaluan istri dan juga sebaliknya. Demikian adalah garis besarnya batasan aurat sedangkan lebih perincinya akan ditampilkan perbedaan pendapat para imam madzhab.

Perbedaan ini dikarenakan perbedaan persepsi dalam memahami perintah dalam al-qur’an dan metode istinbat hukum yang berbeda-beda.

Dibalik Batasan Aurat Perempuan
Dalam disiplin ilmu kata Aurat yang diperbincangkan adalah yang mempunyai muatan arti dalam ayat An-Nur yaitu yang berarti sebagian anggota tubuh manusia yang dalam pandangan umum buruk dalam kitab fiqih dasar seperti Safinatunnajah fii madzhabi syafii menyebutkan aurat adalah sesuatu yang bila diperlihatkan timbul rasa malu dan bila dibiarkan terbuka akan menimbulkan fitnah seksual.

Oleh karena itu Islam lewat pemikiran para ulama-ulama menyatakan bahwa aurat wajib ditutup dari pandangan orang-orang yang dapat membawa fitnah seksualitas dan selain itu juga dianjurkan tidak berpakaian dengan pakaian yang dapat tembus pandang (berpakaian namun terlihat bagian dalamnya) dan berpakaian yang membentuk lekukan pada organ tubuh.

Karena sejauh penelitian kasus pelecehan seksual dimulai dari bagaimana seseorang berpakaian kemudian menimbulkan syahwat sampai pada fitnah seksualitas.

Memang dalam hal berpakaian kita diberi kebebasan untuk memilih dan tidak ada pengkhususan untuk berpakaian dalam Islam. Namun, dalam rangka menghilangkan fitnah maka diaturlah konsep aurat untuk menjaga kehormatan seorang perempuan.

Baca juga:  Baptisan, Ketaatan dan Kasih: Renungan Natal 2019

Memang pada dasarnya tindak kriminal dan kekerasan seksual bermula dari pikiran yang buruk dari setiap manusia. Namun, dalam hal mengangkat dan menjaga martabat perempuan islam lebih dulu mengantisipasi munculnya pikiran kriminal dalam pikiran manusia karena bermula dari etika menutup tubuh.

Yang perlu digaris bawahi adalah urusan menutup aurat bukan cara berpakaian karena berpakaian itu mengikut adat dan budaya masyarakat setempat.

K. H. Husein Muhammad dalam bukunya Fiqih Perempuan Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender menyebtkan bahwa Perintah menutup aurat adalah dari agama (teks syara’) akan tetapi batasan dan cara menutupinya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan dalam berbagai aspek untuk itu menentukan batasan aurat diperlukan mekanisme tertentu yang akomodatif dan responsif terhadap segala nilai dan yang berkembang di masyarakat sehingga, dalam tingkat tertentu batasan itu bisa di terima oleh sebagian besar komponen masyarakat.


Dalam hal ini  pertimbangan khowaf al fitnah dan dapat menimbulkan fitnah seksualitas yang berujung pada kekerasan seksual yang sudah dikembangkan oleh ulama fiqih juga harus menjadi salah satu penentu pertimbangan.

Supaya tubuh manusia khususnya perempuan tidak dieksploitasi untuk kepentingan kepentingan rendah dan murahan yang bahkan mungkin bisa menimbulkan gejolak pelecehan dan mengakibatkan kerusakan yang tidak diinginkan entah dari psikologi pribadinya atau bagi tatanan kehidupan bermasyarakatnya.

Wallahu a’lam Bisshowab
Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here