Ketua DEMA UIN Walisongo Tekankan Kuliah Tak Seindah FTV

0
329
Kredit foto: Selma-Justisia
Website | + posts

Semarang, Justisia.com – Rubaith Burhan, Ketua DEMA UIN Walisongo Semarang tegaskan dunia perkuliahan tak seindah FTV. Hal tersebut diungkapnya dalam orasi kemahasiswaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2020 UIN Walisongo, Senin (07/09/20) yang dilaksanakan secara online dan disiarkan live streaming melalui kanal YouTube DEMA UIN Walisongo Semarang.

“Dunia perkuliahan nyata tidak senikmat yang ada di FTV. Dunia kampus tidak mentolerir sedikitpun mahasiswa pemalas. Dunia kampus tidak memberikan sedikitpun peluang bagi mahasiswa yang malas membaca, dan dunia kampus tidak memberikan ruang sedikitpun bagi mahasiswa yang berpikir pragmatis,” ujarnya.

Rubaith juga menyerukan kepada para mahasiswa baru untuk menggembleng diri sendiri sebagai kunci menjadi generasi penerus perjuangan Bangsa.

“Upaya-upaya untuk menggembleng diri sendiri, nilai-nilai dan norma kebangsaan harus ditegakkan. Komitmen untuk selalu dalam kebenaran, kejujuran, adalah salah satu kunci bagaimana generasi UIN Walisongo 2020 layak disebut sebagai generasi penerus bangsa” paparnya.

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora ini juga menyampaikan bahwa heroisme dan perjuangan pemuda-pemudi di masa lalu telah menghantarkan Indonesia pada tataran yang lebih baik. Meskipun demikian, masih ada banyak hal yang harus dicapai dan diperjuangkan.

Dalam orasinya, Rubaith menegaskan bahwa di tangan mahasiswa lah kunci perubahan sosial berada.

“Mahasiswa UIN Walisongo 2020 mempunyai tanggungjawab besar terhadap perubahan bangsa, mahasiswa yang memiliki fungsi agent of change, agent of control, mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat, mahasiswa yang memiliki tanggung jawab besar terhadap perubahan, peradaban bangsa,” jelasnya.

Di akhir orasi, ia mengucapkan selamat datang pada 3350 generasi Walisongo (genwa) 2020. “Selamat datang para pejuang, selamat datang di kampus peradaban, kampus kemanusiaan,” pungkasnya.

Reporter: Fia Maulidia & Safira
Penulis: Fia Maulidia & Safira
Editor: Apip

Baca juga:  Mahkamah Konstitusi: Pengadilan Bebas Intervensi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here