Kereta Api yang Berangkat Siang Hari

0
341

Lelaki berbau perengus di kursi 12 E itu belum menyadari kehadiranku. Mukanya tertutup oleh lebar halaman koran. “Ck Ck Ck kasihan kamu Wo, sudah kalah dapat dosa pula! Dibilangin suruh leren, masih aja ngeyel! Ana catur mungkur huh! Dikira tim ecek-ecek enggak bakal bisa menang gitu sama Real Madrid? Cilik ora kurang bakal, gedhe ora turah bakal Kemlinthi, kaya yes yes o sih kamu Wo pake ngepur satu skor segala! Ludes dah tuh bayarmu!”

Oleh: Eko Nurwahyudin*

Diletakannya koran itu pada pahannya. Sengaja ia tak menutup halaman koran info olahraga yang belum rampung dibacanya. Tangan kananya jenak merogoh saku di bagian dalam jaketnya. Bukan uang atau dompet melainkan balsam! Apes! Apes! Sudah perengus mau pakai balsam lagi! Ia pikir balsam setara parfum. Apes. Apes. Bertahanlah. Sabarlah! Orang sabar disayang Tuhan.

Kalau kau di dekatnya maka kau akan dibuatnya muntah. Tidak peduli kau perempuan, lelaki itu tidak mempersoalkan sebab bau badannya. Pikirnya, bau badannya mungkin tidak lebih mengganggu daripada abab kebanyakan caleg. Apalagi abab koruptor E-KTP itu. Koruptor itu mantan politisi. Politisi itu harus bertindak hati-hati. Pastikan kalau gerak jangan sampai lawan tahu, kalau korupsi jagan sampai publik tahu dan kalau makan jangan makan sambel pete atau semur jengkol –jangan yang bikin bau mulut seperti nasi padang.

Et. Et. Atau lelaki itu memang sengaja membiarkan tubuhnya bau prengus! Biar dikira pekerja yang ulet, banting tulang mandi keringat. Biar perempuan pada tertarik? Pada nempel? Dikira perempuan kambing betina apa!

Beruntunglah kalian yang terserang pilek.

Koran itu dibentangkannya lagi. Nampaknya telah rusak gairah membacanya. Hanya dibolak-balik halaman koran itu. Barangkali tengah mencari toko minyak wangi yang buka lowongan kerja.

“Eh, ada orang toh?” ucapnya lirih. E buset! Kambing congek pun bakal tersinggung apalagi kambing hitam.

Lelaki itu buru-buru tersenyum. Aku membalas senyum ala kadarnya –demi sopan santun. Tentu saja mulutnya belum nyerocos karena gerbong Logawa yang paling buntut belum melewati palang pintu kereta di Jalan Yos Sudarso. Ya, berdasarkan ilmu titen lelaki di hadapanku ini tipikal orang suka omong. Kau tidak percaya? Bolehlah. Memang lumrah bagi jebolan sekolah karena tidak ilmiah. Tetapi, kalau kau pernah berbincang sama Mbah Slamet Sukamto atau manusia sezamannya, kau akan manggut-manggut pada suatu saat nanti. Pada kondisi dan situasi yang telah berubah, pada saat watak kebanyakan orang telah bubrah, pada saat kebanyakan orang telah bertingkah nyeleneh -orang pinter banyak keblinger. Jadi, bukan cuma otak-atik gathuk.

Ia mungkin seorang belantik atau tukang jual akik. Coba lihat kepalanya, sebuah topi laken coklat tua! Coba lihat jari manis tangan kanannya, cincin akik kecubung tanduk! Tunggu sebentar, jangan grusa-grusu, jangan buru-buru menganggap orang sekedar penampilan. Begitu yang dikisahkan Aesop tentang keledai berbulu singa. Kita akan tahu setelah lelaki ini buka mulut.

“Hoaaaammmm,” ia menguap dengan kurang ajar. Dasar sudah tua tidak tahu sopan santun. Aku menutup hidung. Semoga ia tersinggung. “Mas, di Yogya kuliah?” aku mengangguk. Lelaki itu tak enak hati melanjutkan pembicaraan. Baguslah, ia sadar kalau aku cuek.

Di luar, pemandangan berganti sekelebatan. Persawahan, tiang listrik, rumah-rumah permanen, rumah-rumah semi-permanen beratap seng karatan, toko-toko kelontong, toko-toko swalayan, pasar, ladang tebu, kuburan, sungai, jembatan, sawah, ladang tebu, gubuk-gubuk, rumah-rumah, pabrik, dinding-dinding bersih mulus, dinding-dinding bercoret grafiti, dinding-dinding sempal bolong, dinding-dinding kawat berduri, dinding-dinding berlumut lengket, dinding-dinding bertulis ayat dan pedang, dinding-dinding penuh tempelan iklan dan orang hilang. Ada diantara gambar orang hilang yang familiar -korban penculikan. Hmm, kapan pertama kali manusia menciptakan dinding ya?

Dasar kurang kerjaan! Lelaki itu mengikuti caraku mendapati kenikmatan. Pandangnya menyusur panjangnya rangkaian kabel listrik. Ada-ada saja.

Lelaki itu mengeluarkan sapu tangan. Diusapnya keringat berurutan di jidat, di pelipis, muter turun ke tengkuk, ke leher dan terakhir hidungnya yang pesek. Cium tuh keringat campur balsem!

Baca juga:  Hinakah Puasaku?

“Bapak tadi berangkat dari mana?” tanyaku iseng.

“Surabaya. Naik dari Gubeng. Lah masnya?”

E lahdalah jabang bayi! Kelewatan! Dianggapnya setan apa aku ini? Genderuwo gitu? Tiba-tiba nongol di hapannya? Sabar. Sabar. Mungkin ia memang tidak sadar gara-gara keasyikan baca koran. Sabar. Sabar. Jika diberi air tuba balaslah air susu. “Madiun pak.”

“Asli Madiun?” aku mengangguk. Sekonyong-konyong sorot matanya berubah. “O Madiun!”

Apa-apaan tanggapan seperti ini? Ayo coba tanya lagi aku bersih lingkungan atau tidak? Minta digebuk ya!

Sabar. Sabar. Jika diberi air tuba barilah ia air susu. Apa lelaki ini orang parpol? Tidak. Tidak. Orang parpol kok masuk anginan? Kok bau balsem? Lelaki di hadapanku ini pasti seorang belantik. Baunya saja perengus!

Tidak usah khawatir, satu desa pun tahu kalau almarhum kakek loyal sama Golkar. Kakekmu keturunan priyayi, tanahnya banyak, punya seperangkat gamelan, belencong, layar, koleksi wayangnya banyak. Kakekmu bisa mendalang dikatakan pintar sih tidak. Kakekmu bisa menirukan suara Sengkuni, Durno, Ontorejo, Ontoseno, Werkudoro, Punokawan, banyak lagi pokoknya. Tanyakanlah kepada orang-orang satu RT yang empat puluh lima tahun lebih maka ibu jari mereka akan diacungkan: “Kalau sudah pegang Cakil dan Janoko, Perang Kembang begini!”

Ya, tidak usah khawatir. Toh sudah biasa juga, bukan lagi satu dua orang yang kaget mendengar asalku dari Madiun. Lebih-lebih sekitar tahun 2017, lima sampai tujuh orang kuliahan pun ada. Ya, semoga mereka semua yang kumaksud kebetulan tercatat sebagai responden yang disurvei. Kalau tidak? Ya, berarti jumlah mahasiswa yang percaya hantu bangkit lebih dari duapuluh enam orang dong? E ladalah! Buset! Zaman tambah edan banyak orang kagetan, banyak orang gumunan.

“Kenapa pak? Bapak ada punya saudara atau kerabat orang Madiun?” tanyaku memancing.

“Madiun ya? Seingat saya tak ada” jawabnya tanpa mencoba mengingat barang sebentar. Sapu tangan itu dimainkannya. Diusap, dilipat, buka, lipat sambil mencari pertanyaan yang menusuk pastinya. Mukanya berseri. Lah pembalasan ini, buat anak muda kurang ajar yang main tutup hidung. Dikiranya mulutku bau apa?!

Mula-mula ditatapnya aku dengan curiga, lalu ia menyelidik potonganku dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. “Orang-orang balela” katanya lirih. Wedhus! Kake’ane! kambing hitam pun tersinggung apalagi kambing congek!

“Maksudnya pak?” tanyaku meninggi.

“Sering balela ya?”

Aku membuang pandang. Sabar. Sabar. Kalau saja seumuran habis koen! Saudara bukan, kerabat bukan, boro-boro kenal nama, ketemu saja barusan sudah ngajak ribut. Sabar. Sabar. Untung orang tua. Jangan dilawan. Jangan bikin malu. Anggap saja kentut yang tak bau. Sabar. Sabar.

“Kalau tidak balela, pasti sering main serong?” aku menatapnya tajam. Lelaki itu menanggapi remeh. Wah cari perkara ini orang. Mau adu ilmu? Sabar. Sabar. Kalau kentut yang tak bau terasa mengganggu, tutup saja kupingmu. Sabar. Sabar. Hak setiap orang kentut di muka umum. Lagipula belum ada undang-undang yang melarang. Barulah kalau sampai kentutin muka orang, meskipun tak ada aturan hukum untuk menyelesaikan kita selesaikan secara jantan!

“Tidak salah menjadi seorang kraman, asal dipikir dengan matang. Semua pemberontak telah siap digasak, telah siap namanya dirusak. Apakah mereka menyesal? Tidak. Tidak ada yang mereka sesalkan kecuali hidup segan melawan terhadap kezaliman dan penindasan,” ujarnya sontak membuatku terkejut.

Dugaanku meleset. Lelaki ini bukan seorang belantik. Tapi mungkin ia tukang jual akik. He! Tukang jual akik ngomong penindasan?

Tidak sepenuhnya juga dugaanku meleset. Lelaki ini memang banyak omong. Kalau boleh ditaksir perbandingannya denganku, tujuh menit lelaki itu bicara sedangkan aku hanya tujuh detik. Bagaimana aku dapat bicara banyak, kalau yang diomongkannya seputar sejarah perlawanan Raden Kajoran, pemberontakan Ronggo Prawirodirjo III. Aku saja baru tahu, dalam sejarah pemerintahan raja-raja digagas suatu pemikiran guna memperkokoh kekuasaannya, menampilkan taringnya -membuat makam khusus untuk para pemberontak –Banyusemurup.

Begitulah, siapapun yang melupakan sejarah akan tampak seperti orang payah. Lelaki itu agaknya puas menikmati aku yang tidak bisa mengimbangi obrolan. Ia merubah arah pembicaraan. Huh, kalau basa-basi baru lancar! Mahasiswa kok pengetahuannya sejarahnya cetek?

Baca juga:  Negeri Zamrud Khatulistiwa

Lelaki itu mengeluarkan balsemnya lagi. “Ini mas, semriwing buat ngilangin pusing,” ujarnya sambil menyodorkan. “Dioles di perutnya mas kalau enek. Masnya mabok kendaraan ya?”

Buset! Sontoloyo banget nih orang! Sudah perengus tidak mau disalahkan! “Terimakasih Pak…”

“Indra Suryadi. Panggil saja Om atau Paman Sur. Saya masih empat puluh lima tahun. Jangan dipanggil Bapak” sahutnya seketika memperkenalkan diri. Padahal ditanya nama saja belum.

“Ini Pak, terimakasih balsemnya” lelaki itu mengernyit. “Eh iya, Paman” ucapku membetulkan. Menuruti kemauannya. “Paman Sur aslinya Yogyakarta atau Surabaya?”

“Saya orang sebrang, tapi lama di Yogyakarta. Pernah di Surabaya juga lumayan sekitar tiga empat tahun”

“Iyakah? Paman Sur sudah lama di Yogya? Memang sejak tahun berapa Paman?” tanyaku. Ia berpikir. Masa ia tidak ingat? Masa ia pikun? Tidak. Tentu saja usia empat puluh lima ingatannya masih kuat. Nampaknya ia tengah memikirkan cerita lain. Mungkin darah mudanya.

“Kalau tidak salah dua puluh lima tahun” jawabnya. Pantas saja ia berpikir agak lama. Dua puluh lima tahun itu berapa hari? Bayangkan kira-kira berapa banyak peristiwa yang terkenang membekas di kepalanya? Tentu tidak setiap hari juga manusia dapat mengalami kejadian luar biasa yang kelak ia kenang seumur hidup. Berapa keliaran kenangan di kepala lelaki ini? Seribu peristiwa? Enam ribu peristiwa? Atau hanya dua puluh lima?

“Paman sudah dua puluh lima tahun di Yogya?”aku berusaha terlihat kagum. Air muka lelaki itu berubah. Ia murung. Apa aku salah bicara? Celaka, atau ia tidak suka aku berpura-pura?

“Ya, sudah dua puluh lima tahun” jawabnya datar sambil menjatuhkan pandangannya pada sapu tangan yang masih ia pegang. Celaka, ia benar-benar murung. Apakah aku musti minta maaf karena sudah berpura-pura? Peduli amat!

Pas! Handphone-ku berdering. Jadi tak usah repot minta maaf. Pura-pura sibuk saja. Pasti ini Rafika menelfon. Perempuan itu memang tidak sabaran. Sudah aku bilang akan tiba di Yogya sore. Tapi, eh, kadang-kadang berguna juga ketidaksabarannya.

Loh! Bukan Rafika yang menelfon? Sebuah panggilan masuk tanpa nama dan nomor di handphone. Siapa ini? Aku mengangkatnya. Tidak ada ada suara pemanggil. Hanya suara angin. Seperti orang sedang berkendara. Halo! Halo! Siapa ini? Pertanyaanku hanya dibalas suara truk yang menderum-derum. Halo! Halo! Siapa ini? Orang iseng ya? Sebentar, pertanyaanku dibalasnya. Ada keributan di sana. Aku khawair. Apakah orang ini terjebak keributan? Bodo amat!

Panggilan itu kumatikan. Paman Sur memperhatikanku. “Telfon dari siapa mas?”

“Saya pikir kekasih saya Paman. Tahu-tahunya orang iseng tak jelas nomor telfon dan namanya disembunyikan”

“Lebih baik mas telfon mbaknya” ia menyarankan.

“Tidak apa Paman Sur, ia sudah tahu kalau saya akan tiba di Yogya nanti sore. Paling kita sampai di Lempuyangan dua setengah jam lagi kan Paman?”

“Lebih baik ditelfon mas. Sekedar memastikan,” ujarnya membujuk. Dasar mau ikut-ikutan urusan orang saja! “daripada menyesal.” Apa-apaan maksudnya begitu? “Masnya sayang kan sama dia?” Peduli apa ini orang? Diamkan sajalah. Cuek sajalah! “Kalau masnya benar sayang, mas pasti ingat di mana pertama kali ketemu dia, pertama kali suka kan?” merepotkan sekali lelaki ini! banyak omong!

“Iya tentu ingat Paman. Dulu ketemu di Jalan Mozes Gatotkaca” jawabku ngawur. Sejujurnya tidak aku memang tidak mengingatnya. Aku mencintainya tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. “Kalau Paman sendiri ingat di mana pertama kali ketemu istri Paman?”

“Istri?” tanyanya. Tentu pertanyaan itu bukan ditujukan padaku tetapi pada dirinya sendiri. “Seharusnya ia memang sudah kunikahi”

“Maaf Paman, kalau pertanyaan saya dirasa lancang. Saya tidak bermaksud…”

“Tidak apa. Kamu tidak salah mas, tidak harus meminta maaf. Negaralah yang harus meminta maaf. Negaralah yang harus bertanggung jawab!” tegasnya.

Baca juga:  Sebilah Belati yang Mengantarkanmu

Matanya tiba-tiba memerah. Ia berkaca-kaca. Sebelum air matanya jatuh ia telah lebih dulu mengusap kelopak matanya dengan saputangan yang masih dipegangnya. “Kami bertemu pertama kali di Jalan Kolombo dua puluh empat tahun lalu -setahun sebelum nama jalan itu diubah untuk mengenang kawan kami yang gugur memperjuangkan reformasi” suaranya berat. “Sapu tangan inilah yang diberikannya sebelum ia kembali ke Jakarta. Tidak ada nomor telfon ia berikan. Hanya alamat rumah kalau sewaktu-waktu aku bisa berkunjung.”

“Lalu kenapa Paman tidak ke Jakarta menemuinya?” tanyaku iba.

“Semua terlambat. Berkomunikasi tidak segampang sekarang. Sepanjang kami berpisah kami hanya berkirim surat. Maret 1998 barulah aku mendapat nomor telfon temannya untuk menghubunginya. Perasaanku tidak enak. Selalu aku bujuk ia untuk ke Yogya. Ia bersikeras tidak dapat dan baru bisa Juni sekalian pulang ke Solo. Aku membujuknya. Membujuk dan membujuknya berulangkali. Situasi tidak sudah mulai memanas. Di Solo sejak 5 Maret sudah terjadi demo baku dorong. Tapi bentrok baru pecah tanggal 9. Solo mulai memanas pertengahan Maret itu yang dikatakan kawan kami. Tidak main-main tanggal 16 Maret kawan-kawan kami menuntut tidak lagi masalah penurunan harga tapi menolak Soeharto jadi Presiden lagi. Besoknya jelas bentrok. Di Medan, sudah mulai panas sejak bentrok akhir april dan pemukulan wartawan Antara dipukuli saat meliput demo di Kampus USU. Jelas kawan-kawan Yogya bersolidaritas dengan kasus di Medan. Tapi Yogya cenderung aman. Aku menelfonya hampir tiap hari. Tentu di pusat pemerintahan, di jantungnya negara, peluang untuk pecah bentrokan dan kerusuhan sangat besar. Akhirnya ia mempercepat untuk pulang ke Solo bulan Mei saja. Aku membujuknya agar tidak usah ke Solo dulu sampai situasi dingin. Ia menolak ia diperintah keluarganya untuk ke Solo dahulu baru ke Yogya. Tidak, kupikir di Solo memang tidak aman selain sedingin di Yogya. Solo tanggal 7 Mei bentrok, besoknya bentrok lagi. Apalagi kekasihku itu keturunan Cina. Tahulah dalam sejarah sering terjadi konflik sosial di Solo antar kelompok etnis yang kerap kali gara-gara kesenjangan ekonomi. Lagi-lagi Solo cenderung jadi kota perdagangan daripada kota pemerintahan. Ditambah politik Belanda yang menggolongkn kedudukan sosial Eropa, Timur Jauh dan Pribumi. Aku terus membujuknya. Di Yogya sendiri, situasi agak dingin. Memang bentrok, pada 5 Mei dan baru menghebat di Gejayan. Tapi di Yogyakarta, kekuatan politik dan kharisma Sri Suntan HB perlu diperhitungkan. Ya, bukankah Yogya sendiri pernah jadi Ibu Kota Indonesia. Dan benar perhitungan kami, Saat terjadi kerusuhan di Medan, di Jakarta, di Solo, Yogya tidak pecah. Sri Sultan sudah menyatakan sikap untuk ikut turun ke jalan bersama mahasiswa kalau terjadi kekerasan” ungkap lelaki itu. “Semua terlambat. Setelah penembakan kawan-kawan Trisakti aku tidak mendapat kabar terakhir darinya” tambahnya. Ia tidak kuasa menahan tangis.

Handphone kembali berdering. Lagi-lagi sebuah panggilan masuk tanpa nama. Halo? Ini siapa ya? Suara truk menderum-derum. Suara langkah kaki. Satu, dua, tujuh, sepuluh, ada berapa orang disana? “Jarah! Jarah” suara maling? Kemana polisi? “Ayo! Mumpung sepi. Kapan lagi? Jarah! Jarah!” kemana polisi? Mereka akan ditangkap! Halo! Ini siapa? Jangan main-main anda! Ancamanku dijawabnya suara ledakan. Suara kobaran api. Halo! Halo! Anda siapa? Anda tak apa? Saya serius tanya. Pertanyaan saya dijawab teriakan, ledakan. Kebakaran? Eh, anda tak apa-apa? Dimana polisi? Anda siapa? Saya serius! Eh, suara teriakan perempuan? Mbak kenapa-mbak? Anda siapa? Mbak kenapa? Pertanyaan saya dijawab bentakan laki-laki “Diam! Kalau kamu melawan kami bunuh!” Siapa ini? Jangan main-main ini negara hukum! Penjelasan saya tak digubris.

Aku tak mengerti, di hadapanku di telfonku kusaksikan orang yang baru kukenal dn orang asing menangis. Hatiku bergejolak, namun kereta melaju dengan angkuhnya. Teror berkeliaran di pikiranku. Kenapa penumpang lain hanya diam?


*) mahasiswa asal Madiun. Tengah menempuh pendidikan di program studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here