Kepingan Puzzle The Doctor dan Moto Gp

0
82
Infografik oleh: Pepi-Justisia

Justisia.com – Valentino Rossi harus berbesar hati tidak dapat finis, alih alih mengamankan podium, karena tersungkur di balapan Moto Gp seri Catalunya kemarin Minggu (27/9) malam waktu Indonesia Barat, saat balapan menyisakan 9 putaran.

Ada media yang menghubungkan kejadian demi kejadian yang dialami The Doctor, termasuk tersungkurnya ia saat sudah memastikan urutan kedua setelah menyalip Morbidelli untuk meraih podium ke 200 nya, dengan sebuah kutukan.

Kutukan, karena Vale yang tidak kunjung mendapat podium, sejak saat angka podiumnya sudah mencapai 199 kali, yakni setelah podium di sirkuit Misano tahun ini.

Seri Catalunya merupakan seri balapan ke delapan pada Moto Gp 2020, atau seri pertengahan yang menyisakan 8 seri balapan lagi.

Meski demikian, justru isu yang santer di kalangan fan setahun belakang adalah terkait masa depannya di Moto Gp bersama Yamaha Monster Energy. Bahkan, hampir selalu begitu pada tahun tahun sebelumnya, ketika ikon Yamaha tersebut sedang landai menurun performanya.

Namun, isu yang berkembang satu tahun belakang berbeda, karena mengingat usia The Doctor yang tidak muda lagi (41 tahun), sehingga beberapa kalangan berspekulasi bukan tentang kepindahan Rossi ke tim lain, melainkan tentang pensiunnya sang raja Moto Gp.

Berbeda dengan tahun 2010, misal, saat sang pebalap akhirnya memutuskan bergabung dengan Ducati, yang jauh dari topik berhentinya Rossi dari lintasan balap. Melainkan hanya seputar keterkaitan tim-tim lain untuk Vale berlabuh.

Meski begitu, Sabtu (26/9) lalu, satu hari sebelum seri Catalunya dihelat, semua teka-teki yang menghiasi sudut-sudut tribun dan paddock tim dan staf, membuncah seiring hadirnya pengumuman resmi terkait masa depan The Doctor.

Adalah situs resmi Moto Gp yang mengumumkan terkait masa depan pria bertipe rambut mengombak.

Moto Gp mengonfirmasi bahwa The Doctor akan melanjutkan kiprahnya untuk tetap turun ke lintasan balap Moto Gp dalam perebutan gelar juara Moto Gp 2021, dengan bergabung bersama tim satelit Yamaha asal Malaysia: Yamaha Petronas SRT (Sepang Racing Team).

Baca juga:  Selamat Hari Pahlawan

Moto Gp juga mengonfirmasi, bahwa kepindahan The Doctor akan disertai dengan kepindahan 3 orang rekannya yang selama ini bekerja bersama di Yamaha Monster Energy.

The Doctor, disebut akan bekerja bersama tim asal Malaysia dengan ikatan kontrak selama satu musim saja, yakni 2021, dengan opsi perpanjangan kontrak satu musim lagi.

Sekalipun demikian, kepindahan Rossi ke tim satelit sama sekali tidak mengurangi dukungan Yamaha kepadanya. Mengingat sang pebalap telah berjasa besar di masa sulit saat pabrikan asal Jepang belum menjadi tim kuat, dengan memilih bergabung dan meninggalkan Honda, pada 2003, hingga menjadi satu di antara tim yang diperhitungkan di kancah balap kelas Moto Gp.

Pihak Yamaha sendiri membenarkan bahwa Rossi akan tetap mendapatkan suplai mesin pabrikan (baca: kualitas utama), sekalipun bekerja bersama tim satelit.

Rossi adalah Moto Gp

Rossi ibarat Moto Gp, dan Moto Gp adalah Rossi itu sendiri. Karena keduanya seperti satu bagian dari yang lain, yang tidak terpisahkan. Ibarat kata, tidak ada Moto Gp jika tanpa Rossi, dan begitu juga bukan Rossi jika tidak Moto Gp. Begitu kira-kira.

Pria kebangsaan Italia yang lahir 41 tahun lalu, jauh dari kata mungkin untuk dikenal alih alih dicintai bahkan menjadi ikon Moto Gp jika tidak ada hal istimewa darinya.

Ya, karena, sebagaimana sejarah mencatat, pebalap bernomor 46 adalah satu pebalap yang segera mengesankan penggemar di hari debut balapannya. Penampilan yang nyentrik dengan helm warna warni berhias makna mendalam, dan jurus balapnya yang bikin deg degan lawan.

Di mana setelah promosi dari kelas 125 cc, dua tahun kemudian ia mengukuhkan kehebatannya dengan menjadi juara di kelas 250 cc, yang membuat ia ditarik ke kelas Moto Gp pada 2000.

Baca juga:  Wisudawan-wisudawati UIN Walisongo Tahun 2017

Meski sekarang lebih terkenal sebagai pebalap Yamaha, debut Rossi di Moto Gp justru bersama pabrikan asal Jepang lain yang saat itu memiliki “nama” di atas Yamaha, yakni Honda.

3 musim total Rossi menjalani balapan mulai 2000 hingga 2003 bersama pabrikan berlambang sayap mengepak.

3 musim itu, ia torehkan catatan yang manis dengan 2 kali mempersembahkan gelar juara, yakni 2001 dan 2002.

Tahun-tahun itu, 2001 dan 2002 merupakan tahun peralihan penggunanaan kapasitas silinder kendaraan dari 500 cc ke 990 cc.

Rossi menjadi, the only rider in history to win 125, 250, 500 and Moto Gp World Championships, Valentino Rossi dominated Moto Gp with first Honda and then Yamaha, taking the crown five times in a row until Nicky Hayden won the title in 2006. Back on top in 2008 and 2009, the Italian was then beaten to the crown by teammate Jorge Lorenzo in 2010 and left to join the factory Ducati Team (MotoGP.com).

Ducati menjadi tim selanjutnya untuk The Doctor mencoba peruntungan memenangkan gelar ke delapannya di 2011.

Setelah dua musim bersama Ducati, The Doctor justru tidak kunjung menemukan penampilan terbaiknya. Ia melewati 2 tahun yang cukup sulit bersama pabrikan asal Italia.

Selama dua tahun itu, Rossi hanya meraih tiga podium, yang membuat, “the rider from Tavullia was back at Yamaha for 2013 and took his first win in three years in Assen,” sebut Moto Gp.

Perkiraan Rossi bahwa jika motor Italia dikendarai pria Italia bisa menjadi kekuatan tak tertandingi, sebelum bergabung dengan Ducati, harus ia terima dengan fakta bahwa mengendarai Desomsedici tidak semudah yang dibayangkan. Sebagaimana Casey Stoner melakukannya hingga menjadi juara 2007, misal, atau Dovisiozo pada contoh yang lain.

Baca juga:  Tiga Tahun Terakhir, Jumlah Maba UIN Walisongo Meningkat

Perkiraan yang tidak terbukti itu barangkali yang membawa Rossi kepada Yamaha lagi. Dan benar, Rossi seperti kerasukan, saat memulai musim 2014, namun sayang, gelar ke delapan belum bisa dimenangkan, karena hanya finis di tempat kedua tangga perolehan poin akhir.

“[Rossi] Runner up in the title in 2014, Rossi then fought for his tenth crown in 2015 but was beaten in the final race by Lorenzo once again. 2016 has seen more pole positions, podiums and race wins and saw the Italian runner up once again; remaining with Movistar Yamaha MotoGP for 2017 with new teammate Maverick Vinales,” sebut MotoGP.com.

Selain gelar individu, kecintaan The Doctor kepada dunia balap juga telah membawanya untuk membuat tim balap sendiri.

Bernama Sky Racing Team VR46 diluncurkan pertama kali pada 2014. VR46 awalnya hanya berkiprah di Moto3. Rossi baru membawa timnya ke kelas Moto2 pada 2017.

Tim yang dikepalai Rossi bersama Pablo Nieto itu memberi kesempatan bagi pebalap Italia untuk berkompetisi, dan itu menjadi motivasi Rossi membentuk tim VR46 (Bangkapos.com).

Tidak mengherankan apabila hanya pebalap Italia yang pernah memperkuat tim VR46 dengan mayoritas berasal dari akademi besutan The Doctor.

Perkembangan pesat yang ditunjukkan para pebalap binaan memberi momentum yang tepat bagi Rossi untuk melebarkan sayapnya. Sudah ada dua pebalap jebolan akademi VR46 yang mentas di kelas Moto Gp bersama sang mentor, yakni Franco Morbidelli (Yamaha Petronas SRT) dan Francesco Bagnaia (Ducati Pramac).

Anggota geng VR46 di Moto GP berpeluang untuk bertambah setelah Luca Marini sedang didorong untuk bergabung dengan tim satelit Ducati, Avintia Racing (Bangkapos.com). (Afif/J)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here