Kearifan Warga Baduy dan Teu Wasa

0
239

Oleh: Pluralisa

Justisia.com – Suku Baduy atau Urang Kanekes merupakan kelompok masyarakat adat Suku Sunda di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. Mereka merupakan salah satu kelompok masyarakat yang mengisolasi diri dari masyarakat luar karena adanya perubahan zaman yang begitu pesat. Suku ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy luar dan Baduy dalam.

Pada dasarnya Baduy sendiri menganggap hanya ada satu Baduy. Perbedaan yang ada terletak pada pola hidup yang mereka jalani sehari- hari. Baduy dalam masih memegang teguh tradisi nenek moyang dan aturan yang sudah ditetapkan oleh kepala adat mereka, sedangkan Baduy luar sudah terpengaruh oleh pola hidup masyarakat pada umumnya yang mengikuti perubahan zaman.

Kehidupan Masyarakat Baduy

Suasana kehidupan Baduy luar sekarang sudah mengalami banyak perubahan. Banyak penjual makanan dan minuman di lingkungan pemukiman penduduk. Terbangun pula gedung sekolah yang cukup bagus, lengkap dengan perpustakaannya. Masyarakat Baduy merupakan kelompok yang pekerja keras. Semua kebutuhan hidup mereka peroleh dari dalam hutan yang mereka rawat.

Warga Baduy biasanya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya dengan cara menjual madu lebah dari hasil panennya di hutan, kain tenun, gula aren, pisau dapur dan golok. Mereka menjual dagangannya tidak hanya di daerah mereka saja namun mereka juga berjualan dari Pasar Ciboleger. Penjualan mereka diperluas sampai ke Kota Rangkasbitung dengan menempuh perjalanan beberapa kilometer dengan kendaraan umum atau “lempang suku” (jalan kaki tanpa alas). Tidak hanya ke Rangkasbitung, Suku Baduy juga berjalan kaki sampai Kota Serang untuk menjual produk mereka.

Baca juga:  Gunaryo: RUU KUHP Sudah Tidak Menjadi Hot Issue

Relasi Masyarakat Baduy

Suku Baduy menerima pengunjung dari luar. Namun, selama di sana para pengunjung harus bisa menyesuaikan diri dengan adat Baduy dan tidak boleh banyak bertanya terlalu detail karena orang Baduy akan mengatakan “Teu wasa, duka ti baheulana geus kitu kudu kitu.” Jika di artikan adalah mereka tidak kuat. Dari dulu sudah seperti itu ya harus begitu. Dengan kata lain pengunjung harus mematuhi aturan yang berlaku di sana.

Mereka sangat tertutup dan eksistensi masyarakat Baduy sendiri tergolong sangat tua. Mereka hidup taat pada hukum adat yang disepakati bersama. Suku Baduy di pimpin oleh Puun (kepala adat warga Baduy).

Dalam kehidupan masyarakat adat Baduy, hubungan kekerabatan tetap terjaga, baik hubungan dengan internal Baduy maupun dengan warga luar. Akan tetapi hubungan warga Baduy dalam dengan orang luar sangat ketat dan selektif karena ada beberapa anggapan yang mereka rasa itu sangat tabu dan pantangan.

Sebagai contoh di Baduy pedalaman Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana, jika masuk ke dalam daerah tersebut dilarang mengambil foto yang bersifat personal di lokasi tersebut bahkan biasanya para pengunjung dilarang membawa alat eletronik, dan para pengunjung disana terbatas melakukan komunikasi langsung dengan mereka karena mereka menganggap tabu dan juga Bahasa Sunda yang di pakai warga Baduy cukup tua dan sulit di mengerti.

Baca juga:  Reformasi Pendidikan dari Gaya Bank Menuju Pendidikan Pembebasan

Apabila pengunjung ingin berkomunikasi, maka ada perantaranya melalui salah satu anggota Suku Baduy luar, lalu akan disampaikan ke Suku Baduy dalam dan begitu sebaliknya.

Masyarakat Baduy ketika mendapatkan hasil panen yang berlimpah biasanya mereka membawa oleh-oleh hasil pertanian seperti pisang, singkong, gula aren, petai, madu, dan beras sebagai wujud silih asah ,silih asih, silih asuh, ini merupakan adat tahunan orang-orang Baduy yang mengadakan upacara Seba Baduy untuk menghadap Bupati lebak dan Bapak Gede (sebutan untuk gubernur Banten), sebagai bentuk silaturahmi dan menjalin hubungan baik serta menyampaikan aspirasi kepada Bupati Lebak dan Bapak Gede di Serang.

Masyarakat Baduy sendiri dalam acara Seba Baduy untuk bertemu Bupati Lebak dan Bapak Gede mereka berjalan kaki tanpa alas kaki dan mampu menyusuri jalan setapak yang terjal naik gunung turun gunung dan bukit dari perkampungan mereka di Cikeusik, Cibeo, Cikartawana dan Baduy luar hingga menembus Kota Rangkasbitung sampai Kota Serang.

Perjalanan mereka sejauh 150 KM dan tak satupun dari mereka yang terliat ngos-ngosan kelelahan dan keringat yang membasahi pakaian mereka dan wajah mereka terlihat biasa-biasa saja tidak nampak bekas perjalanan jauh yang melelahkan.

Baca juga:  Sorogan and Bandongan as the literature of Islamic Boarding School Education

Salah satu ciri khas lain bagi warga Baduy antara lain ungkapan seperti teu bisa, baheula tikolot kitu, kudu kitu bae, kami teu wasa yang artinya mereka tidak boleh sembarangan merubah adat, karena sejak nenek moyang masih ada sudah begitu dan harus begitu, tidak bisa diubah-ubah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here