Kali Tuntang: Sungai Legenda yang Terlupakan oleh Zaman

0
114

Rasa penasaran saya terhadap sungai atau kali Tuntang yang berada tepat di depan rumah saya ini dimulai ketika pada kegiatan “Maiyah Kalijagan” Demak dibahas tentang asal-usul dan sejarah Kota Demak, dan disitu saya tertarik terhadap satu pembahasan, yakni kali Tuntang. Dari situlah saya mulai menelusuri sejarah sungai legenda yang terlupakan oleh zaman ini.

Menurut beberapa ahli sejarah, penamaan kota Demak berasal dari bahasa arab ”Dama” yang berarti mata air. Ada juga yang berpendapat bahwa kata Demak berasal dari Bahasa Arab  “Dhima” yang artinya rawa.

Hal ini mengingat karena tanah di Demak adalah tanah bekas rawa alias tanah lumpur. Bahkan sampai sekarang jika musim hujan di daerah Demak sering digenangi air, dan pada musim kemarau tanahnya banyak yang kering retak, karena bekas rawa alias tanah lumpur.

Di sini tidak salah kalau saya memaknai Kota Demak terlahir dari sungai atau rawa, seperti banyak peradaban kuno lainnya yang terlahir dari sungai, misalnya peradaban besar sungai Nil di Mesir. Karena sungai memang memberi manusia banyak sumber daya pangan dan kehidupan, bahkan menciptakan tatanan sosial yang disebut desa sebagai cikal bakal dari terlahirnya koloni bangsa atau kerajaan.

Sungai yang penuh dengan riwayat sejarah kota Demak adalah kali Tuntang. Yaitu sungai yang berasal dari kaki Gunung Merbabu yang mengalir melewati kota Salatiga dan berakhir di laut utara Pulau Jawa (Demak). 

Menurut data Geografi, sungai Tuntang adalah sebuah sungai di provinsi Jawa Tengah, Indonesia, sekitar 400 km di timur ibu kota Jakarta. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang yaitu 830,82 km persegi dengan meliputi 7 kabupaten: Kota Salatiga, Kabupaten Kendal, Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Demak.

Hulu Sungai Tuntang terletak di lereng sebelah utara gunung Merbabu, namun umum diketahui kalau hulu sungai ini ada di Danau Rawa Pening. Air dari Rawa Pening yang mengalir ke sungai Tuntang lalu bermuara ke arah timur laut melintasi 7 kabupaten, kemudian berbelok ke barat laut dan akhirnya masuk Laut Jawa di pesisir Kabupaten Demak.

Saya sering membayangkan bagaimana luas dan jernihnya Kali Tuntang pada era kerajaan dulu, sebelum menyempit dan mendangkal karena proses sedimentasi, hingga pelebaran jalan dan bangunan.

Ada yang bilang bahwa dulu luas kali Tuntang ini sekitar 30 meter atau lebih. Saya membenarkan hal tersebut. Karena menurut saya, tak mungkin sungai Tuntang dari dulu sampai sekarang hanya seluas kurang lebih 5 meter seperti sekarang, pasti dulunya sungai ini sangatlah besar. Karena menurut  sejarah, sungai ini dilewati oleh kapal-kapal niaga, material, bahkan kapal pengangkut kayu yang digunakan untuk membangun Masjid Agung Demak. Tak mungkin jika lebarnya hanya sekitar 5 meter, pasti 30 meter bahkan lebih.

Itulah mengapa saya sangat suka berlama-lama memandangi Kali di depan rumah. Sambil melamun dan membaca kisah silam dari pantulan bayangan sebuah sungai yang sekarang tak terawat itu.

Saya membayangkan  pada suatu ketika lewat di depan saya pendekar muda sang Jaka dari desa Tingkir menuju Demak dengan menggunakan rakit, untuk melakukan sayembara. Yang rakitnya didorong oleh rombongan buaya putih. Jika kalian tahu, kejadian tersebut terjadi di sungai ini, sungai yang sekarang sedang ku pandang.

Sungai Tuntang juga berhubungan dengan legenda Rawa Pening, (yang pernah saya tulis di sini) Baruklinting, sang Naga Pertapa yang menyarankan Nyi Latung untuk menyelamatkan diri naik lesung mengikuti aliran air bah yang disebabkan oleh pancaran air dari lidi yang ditancapkan di tanah.

Kemudian sampailah Nyi Latung di Tlatah Glagahwangi (Demak).  Aliran air bah itulah yang kemudian menjelma menjadi sungai Tuntang, yang mengalir dari Salatiga menuju Laut Jawa.

Adalagi tentang legenda Jaka Tingkir yang menaklukan pasukan buaya pimpinan Arya Bahureksa di Sungai Tuntang. Saat itu, Jaka Tingkir sedang menuju Prawata untuk bertemu dengan Sultan Trenggono. Dibantu oleh Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil, Jaka Tingkir berhasil menaklukan para buaya tersebut dan bahkan dalam perjalanannya untuk kembali mengabdi di Demak tersebut, mereka dibantu oleh 40 buaya untuk mengarungi sungai Tuntang dengan menggunakan rakit.
Kisah tersebut diabadikan dalam tembang Jawa megatruh:

Sigra milir sang gethek sinangga bajul
Kawan dasa kang njageni
Ing ngarsa miwah ing pungkur
Tanampi ing kanan kering
Sang gethek lampahnya alon

(Mengalirlah segera sang rakit didorong buaya
Empat puluh penjaganya
Di depan juga di belakang
Tak lupa di kanan kiri
Sang rakit pun berjalan pelan)

Pernah terpikir dibenak saya bahwa Jaka Tingkir juga menggunakan sungai ini untuk memindahkan kerajaan Demak dengan menggunakan perahu/kapal dan menyusuri Sungai ini sampai ke Pajang.

Hal ini karena pada saat itu akan lebih mudah memindahkan banyak barang  melalui jalur air dengan menggunakan perahu/kapal dibandingkan lewat jalur darat.

Sungai Tuntang pada masa kerajaan Demak merupakan sungai yang memiliki arti penting dalam perkembangan kerajaan. Banyak perahu dagang yang berlayar mengarungi sungai tersebut. Namun sekarang sungai tersebut mengalami pendangkalan dan penyempitan akibat sedimentasi.

Parahnya lagi, kebersihan sungai tersebut tidak terjaga meskipun berada tepat di depan kantor bupati Demak. Kenapa pemerintah hanya diam saja dan tidak berpikir keras untuk menyelamatkan salah satu sungai bersejarah di Jawa tersebut? itulah pertanyaan saya hingga kini yang masih belum terjawab.

Kita terlahir di sebuah generasi yang tidak bisa memandang peristiwa pada keutuhan masa yang lalu. Sehingga sering lupa akan sejarah dan jati dirinya sendiri. Kelupaan kita pada sejarah berawal dari kurangnya penghormatan dan pemeliharaan atas sebuah situs yang menjadi saksi bisu dari sejarah masa silam.

Kita tahu meski sekarang Kali Tuntang punya sebuah taman yang bagus dan cantik, tapi aliran sungainya tetap saja masih kotor dan penuh sampah.

Mungkin karena kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap kebersihan sungai. Saya juga mengamati tindakan dari pemerintah, memang pemerintah pernah mengadakan program untuk membersihkan  aliran sungai tersebut, hingga di pinggir sungai ditancapkan plang dilarang membuang sampah, namun program pembersihan tersebut tidak dilakukan secara rutin dan akhirnya mandeg.

Program itu akhirnya tak membuahkan hasil. Menurut pandangan saya, yang ada di pikiran pemerintah hanyalah keindahan kali Tuntang. Memang sekarang di pinggiran sungai telah dibangun taman yang megah berkerlap-kerlip lampu di malam hari, namun aliran sungainya sama saja, masih kumuh dan banyak sampah yang nyangkut di pinggiran sungai.

Saya sangat antusias dengan adanya komunitas pencinta dan peduli Kali Tuntang yang para anggotanya berkegiatan secara swadaya dan mandiri untuk menjaga kebersihan dan kelestarian Kali Tuntang.

Mungkin setidaknya gerakan sosial itu bisa mengispirasi peran serta pemerintah setempat agar lebih bisa memberikan perhatian dan kepedulian yang lebih terhadap pelestarian Kali Tuntang.

Jadi, tidak hanya fokus memoles, menambah dan mempercantik bangunan bangunan di luar sungai tapi malah melupakan aliran sungai itu sendiri. 

Kali Tuntang dengan aliran airnya yang membelah kota Demak, seakan memberitahu kita jika ia adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kota ini.

Saya suka membayangkan jika suatu saat Kali Tuntang bisa menjadi Land Mark yang menawarkan wisata air seperti sungai-sungai di Luar Negeri, airnya bersih dan mengalir, sehingga perahu-perahu wisata bisa melewati dan berkeliling kota mengikuti aliran air.

Pembatas kanan kirinya dipercantik dan badan jalannya digunakan oleh pedagang kerajinan dan kuliner tradisional yang menjual jajanan tradisional semisal jamu coro, wedang ronde, gethuk lindri, pecel, sate ayam dan jajanan tradisional lainnya pasti sangat romantis.

Sehingga akan menumbuhkan nuansa nostalgia yang indah. Kita bisa mengenang dan menikmati spirit dari masa lampau seraya menuangkan kembali kejayaannya dengan sentuhan karya di era sekarang. Begitulah seharusnya manusia memaknai sejarah hidupnya.

Penulis: NoSee
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here