Kafe Kobar Penyegar Pergerakan

0
267
Kelas Kafe Kobar di Gedung Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) Salatiga / Foto: Alvin

Salatiga, Justisia.com – Feredasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) selenggarakan acara Kafe Kobar (Kelompok Belajar Perburuhan).

Acara yang diselenggarakan mulai 14 hingga 16 Februari 2020 bertempat di Gedung Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), Salatiga.

“Acara Kafe Kobar ini bertujuan untuk berbagi pengalaman antara mahasiswa dan buruh,” ujar salah satu panitia.

Hari pertama dibuka dengan perkenalan diri dan berbagi pengalaman panitia maupun peserta yang dilaksanakan pukul 16.00 sampai selesai.

Acara ditutup dengan persembahan sebuah lagu oleh Erik, salah satu anggota ASU Lingkungan (Aksi Seni untuk Lingkungan). Lagu yang dibawakan Erik menggambarkan keadaan bumi sekarang.

“Hancurnya alam semesta. Bencana di mana-mana. Takkan ku biarkan saja ibu bumi di perkosa,” itulah petikan liriknya.

Hari kedua diisi oleh Bambang Muryanto dari AJI Jogja. Muryanto menjelaskan tentang refleksi dan tantangan gerakan anak muda. Dalam penjelasannya, Muryanto mengatakan bahwa salah satu tantangan gerakan saat ini adalah musuh yang samar.

Muryanto juga menerangkan tentang oligarki, omnibus law, dan menyarankan untuk selalu membaca dan menulis. “Tanpa membaca kita tidak akan bergerak dan menulis adalah bagian dari kampanye,” ungkapnya.

Baca juga:  Dua Kampus Asal Yogyakarta Berjaya di UIN Walisongo

Menurutnya tidak ada lawan yang abadi, melainkan hanya kepentingan.

Setelah itu, dilanjut dengan materi menggali benang hitam masalah ekonomi-politik dari Lembaga Informasi Perburuan Sadane, Sugeng. Materi ekonomi politik dilanjut hari ketiga.

Ekonomi politik ini sangat penting untuk kita sebagai generation of change. Dalam materi ekonomi politik ini Sugeng menjelaskan banyak hal, salah satunya menjelaskan tentang reproduksi seorang buruh di dalam keluarga.

“Fenomena ini sering terjadi seorang bapak bekerja di pabrik untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya, ketika bapak sudah pensiun bekerja dan anaknya sudah dewasa maka anaknya lah yang menggantikan peran bapaknya untuk menghidupi keluarganya dan siklus ini akan selalu terjadi,” tutur Sugeng.

Materi selanjutnya di hari terakhir tentang kesetaraan yang dibawakan oleh Ika dari Perempuam Mahardhika.

Ika menyebut banyak perampasan nilai kerja perempuan oleh kapitalisme.

“Seperti tidak ada seseorang yang menginvestasikan waktu, tenaga, dan sumber daya dalam hal ini tugas penting sehari-hari, komunitas, tempat kerja dan seluruh ekonomi akan terhenti,” ujar sekretaris Perempuan Mahardika. (Alvin/Son)

Baca juga:  Akun Facebook Rektor UIN Walisongo Diretas

Reporter: Alvin

Editor: Sonia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here