K-Drama Sweet Home: Selain Penuh Misteri, Juga Kental dengan Ajaran Stoisisme

0
245
Salsabila Dhiya Alriye
+ posts

“Mati sebagai manusia atau hidup sebagai monster?”

Netflix baru saja meluncurkan serial drama Korea bertajuk “Sweet Home” pada 18 Desember 2020 kemarin. Berbeda dengan gambaran drama Korea yang terbilang menye-menye bergenre romance, drama yang terdiri dari 10 episode ini cukup membuat merinding dengan genre thriller, horror sekaligus misterinya.

Digarap langsung oleh sutradara Lee Eung Bok selaku dalang di balik pembuatan drama korea terkenal sebelumnya seperti Guardian: The Lonely and Great God alias Goblin, Descendants of The Sun dan Mr. Sunshine, drama ini dimainkan oleh para aktor terkenal di antaranya Song Kang, Lee Jin Wook, Lee Si Young, dan juga Lee Do Hyun yang berhasil mencuri perhatian netizen setelah bermain peran dalam drama 18 Again.

Selain bertabur bintang papan atas, drama yang bernuansa dark ini diangkat ke layar visual dengan mengadopsi komik webtoon populer karya Kim Kam Bin dan Hwang Young Chan yang berjudul sama dan telah berhasil menggaet 1,2 miliar pembaca dari seluruh dunia.

Cerita dibuka dengan tokoh utama Cha Hyun Su (Song Kang) yang pindah ke sebuah apartemen bernama Green Home karena telah ditinggal mati oleh keluarganya. Sang tokoh utama digambarkan sebagai sosok yang pendiam, tertutup, dan murung yang bahkan sudah merencanakan untuk bunuh diri. Namun, belum sempat untuk bunuh diri, ia harus menyaksikan suatu fenomena aneh di mana satu persatu tetangganya berubah menjadi monster mengerikan yang mengancam hidupnya.

Ia menyadari bahwa dunia telah berubah dan memiliki semangat untuk bertahan hidup. Cerita dilanjutkan dengan pertemuan Cha Hyun Su dengan para tetangga lainnya yang selamat dan kemudian bekerja sama untuk saling melindungi satu sama lain.

Setiap Manusia Punya Sisi Monster: Hasrat Diri dan Stoisisme

Ide dalam menciptakan tokoh monster dalam drama ini terbilang unik jika dibandingkan dengan film dan drama korea lainnya yang bertema zombie seperti Train to Busan, Rampant dan Kingdom yang menggambarkan monster sebagai sesuatu yang disebabkan karena penyakit menular karena kesalahan eksperimen-lah, radiasi-lah atau wabah yang tiba-tiba muncul. Penyakit monster dalam drama Sweet Home tidak bersifat menular dan justru dilukiskan sebagai sesuatu hasrat dalam diri manusia yang disebabkan karena keputusasaan.

Membutuhkan masa inkubasi total 15 hari untuk berubah, monsterisasi dalam drama timbul karena adanya keinginan, ketamakan, dendam, dan keputusasaan manusia kepada dirinya sendiri, orang lain, masa lalu, hingga situasi yang menjadi sumber kesesakan. Mereka yang tidak bisa mengendalikan bisikan-bisikan gelap dari hal-hal tersebut akan berubah menjadi monster yang membunuh sisi kemanusiaan mereka sendiri.

Perbedaan latar belakang penyebab timbulnya monsterisasi membuat monster-monster yang bermunculan memiliki bentuk dan kemampuan menakutkan yang berbeda-beda pula. Hal tersebut menjadi sebuah interpretasi dari diri manusia yang pada dasarnya memiliki sisi gelapnya masing-masing.

Seperti yang pernah diungkapkan Seneca dalam bukunya yang berjudul The Shortness of Life “semua orang hidup dengan tergesa-gesa dan mendambakan masa depan serta merasa lelah dengan masa sekarang”.

Terkadang manusia memilih hidup terbelenggu dengan hasrat-hasrat yang ada di luar kendali dirinya. Hal ini menjadi relatable dengan kita di masa sekarang yang terkadang terlalu mengharapkan untuk disukai doi orang lain, menjadi frustasi karena tugas dan dosen yang tidak ramah-able, atau terlalu stress meng-overthinking-kan masa depan.

It’s okay to not be okay, tapi memproduksi banyak emosi juga perlu banyak makan dan tenaga kan?

Filsafat stoa mengajarkan pada manusia bahwa selama “siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang-ambing terseret pada hal-hal tersebut”-Epictetus dalam bukunya Discourses.

Artinya, menurut stoisisme kita tidak boleh merasa bisa mewujudkan segala hasrat-hasrat hidup yang kita inginkan dan tentukan karena itu semua di luar dari batas kemampuan. Meskipun begitu, berbeda dari memojokan diri di ambang kepasrahan, stoisisme mengajarkan bahwa manusia selalu mempunyai kemerdekaan atas pikiran dan persepsinya termasuk kebebasan untuk “memberikan respon” baik di dalam pikiran (menolak untuk menyerah dan putus asa) sampai secara eksternal (mengerahkan segala kemampuannya untuk berdamai dengan situasi dan kondisi).

Seperti yang dikatakan Epictetus dalam Discourses, “Misalkan saya harus mati. Haruskah saya mati sambil menjerit-jerit dan menangis? Atau tangan dan kaki saya harus dirantai? Haruskah saya melakukannya sambil mengeluh dan menggerutu? Saya harus dibuang. Adakah yang bisa menghentikan saya untuk menjalaninya dengan senyuman dan tetap tenang?”

Cha Hyun Su dan Dikotomi Kendali

Filsafat Stoa dikenalkan oleh Zeno sekitar 2300 tahun lalu ketika ia terdampar di kota Athena karena kapal yang ditunggangi mengalami kecelakaan. Selanjutnya ia tertarik dengan dunia filsafat, kemudian membelajarkan diri pada Crates dan mulai mengajarkan Stoisisme. Disebut begitu karena Zeno senang mengajar di sebuah teras berpilar (dalam bahasa Yunani disebut stoa).

Dalam drama Sweet Home ada sebuah scene ketika tokoh lain mempertanyakan alasan mengapa Cha Hyun Su bisa menjadi “orang terinfeksi spesial” (tidak berubah menjadi monster meskipun terinfeksi dan mempunyai gejala monsterisasi). Ia hanya mengutarakan alasannya dalam satu kalimat kunci yaitu “kendalikan dirimu”.

Meskipun hanya dua kata, hal tersebut menjadi jembatan pengingat tentang dikotomi kendali ala stoisisme yang meyakini bahwa manusia hanya bisa mengendalikan hal-hal yang ada di bawah kendalinya dan tidak bisa mengendalikan hal-hal yang ada di luar kendalinya.

Hal-hal yang ada di bawah kendali yaitu meliputi pikiran, keinginan, tujuan, persepsi dan interpretasi kita mengenai suatu hal yang sedang, telah atau akan menimpa. Semua itu merupakan sesuatu yang dianggap “merdeka” karena kita memiliki kendali atasnya. Sedangkan hal-hal yang ada di luar kendali kita merupakan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, di antaranya persepsi, tujuan, dan keinginan orang lain. Keyakinan atas kendali tersebut dalam filsafat stoa disebut sebagai dikotomi kendali.

“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu-bukan kejadian-kejadian di luar sana”-Marcus Aurelius, Meditations.

Tokoh Cha Hyun Su sebenarnya memiliki sisi dendam terhadap teman-temannya yang telah mem-bully bahkan melakukan kekerasan kepadanya semasa sekolah. Hal tersebut semakin membuatnya frustasi ketika ayah, ibu dan adik perempuannya tidak berjuang membelannya karena salah satu teman yang mem-bully berasal dari keluarga kaya yang memiliki kekuasaan.

Namun, ia berhasil mengontrol perasaan dendam dan bahkan mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia memenangkan dirinya sendiri dengan mencoba melindungi tetangga-tetangganya melalui kemampuan monsterisasi.

Secara tidak langsung, Cha Hyun Su telah menerapkan dikotomi kendali ala stoa di mana ia dapat mengendalikan pikiran dan perasaan dendam yang ia punya walaupun ia tak memiliki kuasa untuk mengontrol masa kelam yang pernah ia alami beserta kematian keluarganya. 

Baca juga:  Menciptakan Dunia Dengan Tulisan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here