Jalan Terjal dan Kebahagiaan Tommy Apriando

0
160
kredit foto : Shinta Maharani

Oleh : Shinta Maharani (Jurnalis Tempo)

Ando, bertubuh subur dengan energi menyala dan punya prinsip hidup yang kuat. Semua anggota keluarga memanggilnya Ando. Orang-orang di kampungnya, Pringsewu, Lampung mengenalnya demikian. “Kami semua menyayangi Ando,” kata ibundanya, Jamsiah.

Isterinya, Wiwid juga memanggilnya sebagai Ando. Tommy Apriando, saya mengenalnya sebagai Tommy ketika dia menjadi Koordinator Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta 7 tahun silam. Waktu itu AJI Yogya dinahkodai Hendrawan Setiawan dan Rochimawati.

Tommy, jurnalis muda yang penuh semangat, kreatif, dan punya ide-ide liar. Dia bekerja di Mongabay, media yang fokus pada isu-isu lingkungan. Jangkauan liputannya ke banyak wilayah di Indonesia. Dia bukan tipikal jurnalis yang senang dengan kenyamanan. Liputan-liputannya “berlumpur” dan melalui jalan terjal. Dia menembus marabahaya.

Satu liputan investigasinya berjudul Kubangan Maut Siapa Punya diterbitkan Majalah Tempo berkolaborasi dengan Mongabay. Dia peserta fellowship Investigasi Bersama Tempo, programnya Tempo Institute.

Tommy menelusuri pemilik tambang di Kalimantan dan menemukan kejanggalan-kejanggalannya. Lubang-lubang tambang yang tidak direklamasi dan merenggut nyawa manusia.

Di usia belia, 30 tahun, dia punya segepok pengalaman panjang dalam dunia aktivisme. Jaringannya luas dan perkawannya beragam. Dia punya keberpihakan terhadap petani yang digusur, korban eksploitasi tambang, korban kejahatan Hak Asasi Manusia, dan mahasiswa yang mendapatkan represi ketika berdemonstrasi.

Itu tercermin dalam sikap, perspektif, dan pikiran-pikirannya. Keberpihakannya terhadap kalangan terpinggir menjadi pondasi ketika dia mengerjakan sejumlah liputan. Tommy mengimani keberpihakan ini.

Baca juga:  Islamic Studies: Belajar Pemikiran Keislaman Kritis

Dunia aktivisme memperkuat basis liputannya. Tentu saja dia tidak mengabaikan prinsip penting dalam jurnalisme: taat kode etik, berbasis fakta, dan independen.

Dia membela petani yang digusur karena proyek pembangunan Bandara Kulon Progo, petani Kendeng di Jawa Tengah, penduduk Bali yang aktif menolak reklamasi , dan korban proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap di sejumlah daerah.

Suatu hari dia bersumpah tidak akan pernah naik pesawat melalui bandara di Kulon Progo. “Dibangun di atas penderitaan warga Temon,” kata Tommy.

Tommy punya pertautan yang erat dengan banyak aktivis yang tersebar di banyak tempat di Indonesia. Dia akrab dengan mereka. Aktivis Tolak Reklamasi Bali, I Wayan Suardana (Gendo), menjadi salah satu karib Tommy. “Saya dibantu banyak sama dia membongkar kasus reklamasi teluk Benoa. Pertautan kami sangat erat,” ucap Gendo.

Di kalangan aktivis HAM, Tommy juga populer. Dia membela Wiji Thukul yang dihilangkan nyawanya. Tommy dekat dengan anak Wiji Thukul, Fajar Merah. Dalam berbagai acara kampanye menolak pelanggaran HAM, dia terlibat aktif. Menulis itu perlu tahu dan berani, ungkapan Tommy yang membekas.

Aktivitasnya yang padat membuat isterinya, Wiwid kewalahan. Kepada saya, Wiwid bercerita Tommy bahagia melakukannya. ” Mas Ando senang dengan aktivitasnya,” ujar Wiwid.

Perkawanannya yang luas kerap membuat Wiwid merasa sedikit diabaikan. Seringkali dia cemburu. Tommy banyak menghabiskan waktunya berkumpul dengan para aktivis dan jurnalis.

Baca juga:  Reformasi Pendidikan dari Gaya Bank Menuju Pendidikan Pembebasan

Ahad siang, 2 Februari 2020 adalah hari yang paling mengejutkan dan tidak terduga. Saya bersama sejumlah kawan AJI Yogya menjenguknya di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman.

Tommy terbaring dengan bantuan alat pernapasan. Saya menggenggam lengannya yang sangat dingin. Ibu, isteri, dan ayah mertuanya mendampingi Tommy. Sahabat saya, Bhekti Suryani menangis di sampingnya. Saya tak kuasa menahan kesedihan.

Tommy kemudian mendapatkan perawatan intensif. Hanya berselang beberapa jam, dia menghembuskan napas terakhir. Informasi yang saya dengar gula darah Tommy mencapai 500. Sebelum masuk rumah sakit untuk opname, Tommy bercerita sakit tifus. Setelah dia dirawat, saya mendengar dia sakit karena diabetes dan infeksi paru-paru.

Saya ke luar ruangan ICU, mencoba tenang agar bisa berpikir jernih. Kemudian, saya mengabarkan situasi yang mengejutkan itu melalui pesan di grup WhatsApp lingkaran perkawanan di AJI. Selang beberapa menit kemudian, banyak orang berdatangan.

Kematian Tommy sangat mengejutkan. Selama ini dia tak pernah mengeluh punya riwayat sakit diabetes. Beberapa waktu yang lalu dia pernah mengeluhkan sakit batuk. Saya memintanya untuk periksa intensif untuk memastikan agar tidak ada yang serius dengan tubuhnya. “Aku udah periksa. Negatif tuberkulosis mbak,” kata dia.

Saya lega dia mengabarkan kondisi itu. Kepada Tommy saya berpesan agar tidak memforsir tubuhnya. Sebelum rapat pengurus, Rabu, 29 Januari 2010, saya bilang agar dia tidak memaksakan diri untuk rapat bila kondisi tubuhnya belum pulih. Saat itu saya tak bisa datang rapat karena harus liputan dan dikejar tenggat deadline. Saya gagal mencegahnya rapat.

Baca juga:  Diskusi Terbuka "Revolusi Uang; sejarah uang virtual"

Dia bersikeras dan Tommy memimpin rapat di Kantor AJI Yogya. Dia bersikeras karena ingin memastikan semua program AJI Yogyakarta berjalan lancar. Tommy berhasil membawa program kerja dengan jumlah pendanaan yang lumayan dari sejumlah organisasi non-pemerintah. Cita-citanya, AJI Yogyakarta tidak lagi menyewa kantor, tapi milik sendiri agar tidak repot pindah sana pindah sini. Dia ingin membuktikan bahwa dia mampu memimpin AJI Yogyakarta.

Saya mengenang Tommy seorang pekerja keras dan punya pendirian yang teguh. Ide-idenya segar sebagai anak muda. Itu semua yang menjadi alasan saya mengiyakan ketika dia meminta saya untuk menemaninya sebagai sekretaris AJI Yogya. Semula saya tak mau karena berbagai hal. Tanggung jawabnya besar, satu di antaranya. Tommy berhasil meyakinkan saya.

Saya dan banyak orang sangat kehilangan dia. Simpati, doa, dan solidaritas terus mengalir. Banyak orang silih berganti datang ke rumah yang dia tinggali bersama isterinya di Sentolo, Kulon Progo untuk melayat.
Pengurus AJI Yogyakarta juga membuka donasi untuk segala kebutuhan pengiriman jenazah Tommy ke Lampung yang perlu biaya besar, juga untuk kebutuhan keluarga Tommy.

Selamat jalan dan sampai jumpa, Tommy.

Kami menerbitkan ulang tulisan ini atas se izin penulis yang pertama kali terbit di lama Facebook Shinta Maharani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here