Islamic Studies: Belajar Pemikiran Keislaman Kritis

0
226
Infografik: Haidar
Website | + posts

Oleh: Rusda Khoiruz

LPM Justisia kembali mengadakan Kelas Islamic Studies, tahun ini agenda tersebut diselenggarakan pada hari Ahad – Selasa, tanggal 26-28 Januari tepatnya di gedung M Kampus III UIN Walisongo Semarang. Islamic Studies  merupakan agenda rutinan tiap tahun yang diikuti dari berbagai kalangan mahasiswa khususnya KRU Magang LPM Justisia.

Bukan tanpa sebab kami membuka kelas ini tiap tahun, mendasarkan keyakinan pada pendulum al-islamu sholihun likulli az-zaman wa al-makan, bahwasanya ajaran islam akan tetap relevan di manapaun dan kapanpun.

Oleh karena itu, orang-orang muslim tidak boleh menutup diri dengan pemikiran pembaruan ajaran islam karena perubahan adalah suatu hal yang niscaya sedangkan sumber rujukan primer teks keagamaan (Al-Qur’an & Al-Hadits) sudah berhenti maka kita tetap dituntut untuk merelevansikan kembali ajaran islam sesuai dengan konteks yang dihadapi masing-masing.

Selain itu juga dilandasi dengan semangat melestarikan tradisi pemikiran kritis keislaman yang mana di dalamnya kami menyajikan berbagai tokoh pemikir muslim kontemporer untuk dikaji seperti Moh. Abduh, Nasr Hamid, Fadzlurrahman, Hassan Hanafi, Fatimah Mernissi, Farid Essac, Abid Al-Jabiri.

Pada tahun ini, ada beberapa Materi baru, yaitu Max Weber, Karl Marx, Dinamika Sejarah Kaum Buruh, dan Dinamika Sejarah Agraria.

Materi ini Sengaja kami tambahkan Mengingat pentingnya mengetahui dan mengkaji, lebih-lebih menjadikannya paradigma berfikir kritis dan landasan gerakan ke depan. Sebab, kita tidak bisa menampik permasalahan kontemporer yang begitu dinamis dan makin hari makin meresahkan.

Mulai perampasan hak-hak kaum buruh yg diprediksi terenggut dengan disahkannya RUU Cilaka (Cipta Lapangan Kerja), dan Omnibus Law.

Selain itu, pemerintah juga berupaya mengajak para investor dari dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia, otomatis kebutuhan tenaga kerja buruh meningkat. Demi memanjakan investor, pemerintah rela mengorbankan hak-hak kaum buruh dalam penyusunan RUU Cilaka dan Omnibus Law dengan semboyannya easy recruit easy fire.

Di sisi lain, perampasan, pengalih-fungsian lahan, eksploitasi tambang, penggusuran ruang hidup rakyat telah mencapai titik nadirnya. Seolah-olah itu semua sudah dilegalkan oleh pemerintah beserta.

Salah satu upaya untuk membentuk nalar kritis dalam memandang dunia hari ini, kami juga menghadirkan Karl Marx dengan teorinya yang menantang dan Max Weber si Sosiolog.

Dalam kelas ini, kami juga menghadirkan pemateri mulai dari akademisi-dosen, aktivis agraria (Fnksda), serikat buruh (Marsinah Fm, Salatiga), dan pdt Rudolfhus Antonius

Harapan kami, semoga kedepannya kegiatan semacam ini bisa istiqomah diadakan tiap tahun dan lebih baik lagi.

Baca juga:  Kebijakan Pengurangan UKT Dibatalkan, SEMA PTKIN Nasional Keluarkan Surat Pernyataan Sikap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here