Islam dan Pembagian Kewajiban Isteri yang Terbalik

0
250

Oleh: M. Bahrul Falah

Pernikahan merupakan suatu bentuk ikatan antara laki-laki dan perempuan yang penuh dengan ikatan tanggungjawab. Tanggungjawab antara keduanya akan timbul setelah ada ikatan suci yang diucapkan oleh seorang laki-laki untuk menerima (qabul) atas apa yang telah dikatan dalam ijab. Hubungan tersebut dalam bingkai syariat Islam merupakan suatu bentuk sunnatullah yang diberikan kepada manusia.

Hubungan yang terjadi dalam pernikahan merupakan sebuah proses kehidupan yang didalamnya terdapat hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban suami-isteri sebenarnya telah diatur oleh agama dan budaya. Misal dalam al-Quran dijelaskan tentang hubungan horizontal antar keduanya yang menyebutkan kewajiban suami untuk mencari nafkah dan isteri taat kepada suami untuk menjaga dirinya (surah Annisa ayat 34). Adat yang hidup dimasyarakat sebagian besar juga telah mengatur bagaimana hak dan kewajiban antar keduanya dalam kehidupan bersama.

Lalu dalam perjalanannya, kesetaraan hak dan kewajiban antara suami dan isteri menjadi titik permasalahan baru. Seringkali disebutkan dalam kehidupan modern saat ini hubungan antara suami isteri merupakan suatu bentuk diskriminasi dimana laki-laki memiliki kewajiban yang lebih kecil daripada besarnya kewajiban perempuan.

Dalam kehidupan masyarakat, seorang isteri yang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah (memasak, mencuci, menyapu, dll) dengan baik seringkali dikatakan sebagai isteri yang gagal. Kewajiban tersebut yang membuat isteri harus melakoni pemenuhan kewajiban domestik. Serta isteri terkadang juga turut andil untuk menafkahi keluarga karena terhimpit akan faktor ekonomi maupun faktor lainnya. Maka dari itu apabila kedua tanggungjawab tersebut dilakukan akan menyebabkan beban ganda terhadap isteri daripada beban suami yang hanya mencari nafkah.

Baca juga:  Waktu Memang Kejam

Diskriminasi tersebut seringkali dikaitkan dengan ajaran agama yang dianut oleh umat muslim. Agama disinyalir menjadi faktor utama akan hadirnya beban ganda isteri dalam kehidupan berumahtangga. Kemudian yang menjadi pertannyaannya adalah, Apakah agama Islam mengajarkan hal yang sedemikian rupa?

Islam dan keadilan gender

Penulis teringat akan hadirnya sebuah kisah warga negara asing yang mengunjungi pemukiman yang mayoritas warganya beragama Islam di salah satu daerah di provinsi Sumatera Utara. Dalam channel Youtube-nya ia membagikan sebuah kisah saat perjaalannya menjadi muallaf. Cerita tersebut bermula ketika is mengunjungi suatu daerah dimana ia mengamati kehidupan masyarakat muslim di daerah Sumatera Utara.

Sampai pada suatu kesempatan ia melihat para perempuan yang mencuci baju di sungai, kemudian para perempuan harus mempersiapkan hidangan untuk makan, merapikan rumah, ditambah dengan hadirnya sang buah hati yang membutuhkan perhatiannya. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan kegiatan laki-laki yang hanya beribadah masjid, mengobrol dengan tetangga, dan kegiatan lainnya yang tidak sebanding dengan kewajiban isteri sehari-hari.

Lalu ia pun berpikir pada saat itu, apakah ini ajaran Islam yang sesungguhnya? Ia sangat berpikir keras akan hal tersebut. Terlebih perjalanannya menuju daerah tersebut tak lain dan tak bukan untuk menilik kehidupan pemeluk agama yang membuat ia penasaran dengan agama tersebut.

Hal itulah yang menjadi problem saat ini. Ajaran Islam dianggap sebagai penyebab hadirnya diskriminasii gender dalam kehidupan masyarakat. Padahal apabila ditelisik lebih jauh dalam pembahasan syariat, seseorang akan mengerti bagaimana Islam memandang keadilan sebagai sebuah asas yang patut diperhitungkan dalam berbagai urusan segala macam bentuk kelamin. Pembahasan tersebut akan lebih jauh dibahas dalam bab fiqih yang menjabarkan penjelasan lebih lanjut mengenai teks al-Quran dan Hadist yang menjadi pedoman umat Islam.

Baca juga:  Maqasidu Syariah dan Upaya Penurunan Kasus Covid-19

Kewajiban Isteri dalam Rumah Tangga

Hak dan Kewajiban suami-isteri dalam rumah tangga dijaskan dalam al-Quran Surah an-Nisa ayat 34. Ayat itu kurang lebih menjelaskan posisi laki-laki sebagai kepala rumah tangga dengan kewajiban pemberian nafkah dan perempuan harus taat kepada laki-laki dengan ketentuan apabila kewajiban taat itu dilanggar maka akan yang terjadi adalah nusyuz atau pembangkangan yang menyebabkan kewajiban nafkah suami kepada isteri menjadi hilang.

Akan tetapi benang merah yang harus ditarik dari ayat tersebut terhadap pembahasan ini adalah, apakah yang dimaksud taat tersebut juga berarti isteri harus memenuhi kebutuhan domestik seperti memasak, mencuci pakaian suami, membersihkan rumah? Pembahasan inilah yang tidak dijelaskan secara detail oleh al-Quran. Maka dari itu para fuqoha telah merumuskan hal tersebut dalam fiqh.

Dalam kitab al-Maushuah al-Fiqhiyyah juz 29 jumhur Ulama yang terdiri dari Syafiyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyah berpendapat bahwa membantu suami dalam hal tersebut bukanlah sebuah kewajiban bagi isteri, akan tetapi alangkah lebih baik jika membantunya. “membantu suami” dalam pendapat tersebut bisa berarti merupakan sebuah pekerjaan domestik yang harus dilakukan.

Memang suamilah yang sehendaknya bertanggungjawab atas pekerjaan rumah karena itu merupakan suatu bentuk nafkah. Suami berkewajiban memberikan kebutuhan dasar bagi isteri termasuk seorang pelayan bila diperlukan, pelayan tersebutlah yang nanti melayani isteri. Syekh Muhammad bin Qasim al-Gazy dalam kitabnya Fathul Qarib menjelaskan kewajiban suami untuk member nafkah seorang pelayan apabila isteri memang orang yang terbiasa dilayani.

Baca juga:  Membumikan Alam Sebagai Subjek Hukum

Lebih lanjut, Syekh Zainuddin al-Malibary dalam kitab Fathul Muin memberikan pandangan kewajibannya pemberian pelayan kepada isteri apabila isteri bukanlah seorang budak meskipun suami merupakan seorang budak atau merdeka. Menurutnya tugas seorang pelayan tersebut hanyalah melayani isteri saja, mulai dari memasak, mencuci pakaian, menghantarkan minuman ke kamarnya, dll. Adapun kebutuhan suami merupakan tanggungjawab suami sendiri baik dikerjakan olehnya atau orang lain. Hal itu berbanding terbalik dengan keadaan saat ini yang mengharuskan isteri memenuhi kebutuhan suami. dalam urusan domestik, seharusnya suamilah yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan isteri sebagai bagian hak dari nafkah.

Berdasarkan uraian tersebut menegaskan bahwa kebutuhan domestik tidaklah menjadi kewajiban seorang isteri. Kewajiban isteri atas suaminya saat berada di rumah ialah kesediaan dirinya untuk memenuhi kebutuhan seks suami ketika ia membutuhkan sewaktu-waktu. Sehingga kewajiban isteri untuk berada dirumah memberikan isyarat adanya hal tersebut.

Berangkat dari pendapt fiqh diatas menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang penuh akan syarat keadilan gender. Dalam Islam tidak dibenarkan adanya pemberian beban ganda atas dasar kelamin. Adapun pemberian beban ganda dalam masyarakat terkadang merupakan budaya yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Maka sangat tidak dibernarkan apabila Islam memberikan kewajiban kepada isteri beban yang lebih daripada kepada suami. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here