Iringi Tirakat, Akmal Sabet Predikat Wisudawan Terbaik Universitas

0
469

Semarang, Justisia.com – Predikat Wisudawan terbaik tingkat Universitas dalam Gelaran Wisuda virtual periode Agustus yang dilaksanakan hari ini, Kamis, 06 Agustus 2020 diraih oleh Muhammad Akmal Habib, mahasiswa Ilmu Falak dari Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo.

Saat diwawancara oleh Kru Justisia mahasiswa penerima Beasiswa PBSB ini mengaku memang memiliki target sejak memantapkan hatinya untuk pindah kampus ke UIN Walisongo Semarang.

“Jadi target semenjak mantep pindah kampus, sore itu saya dapat SMS dari pembina CSSMORA/PBSB UIN Walisongo. Katanya ada penerima beasiswa yang ngundurin diri, jadi saya ambil kesempatan buat gantiin dia soalnya ranking ku pas di bawahnya waktu seleksi PBSB,” ungkapnya melalui aplikasi berbalas pesan WhatsApp.

Akmal memulai perjalanannya di UIN Walisongo dengan mengikuti banyak organisasi untuk kemudian hanya menyisakan beberapa saja.

“Waktu jadi maba (mahasiswa baru), saya suka banget coba-coba ikut organisasi hingga total 8 jenis, mulai dari organisasi daerah (ORDA), organisasi intra, juga organisasi ekstra. Ternyata susah bagi waktunya,” ujarnya.

Baca juga:  Disertasi Kontroversial Abdul Aziz Harus Disikapi Secara Akademis

Strategi yang ia gunakan untuk memperoleh nilai A di banyak mata kuliah oleh Mahasiswa yang aktif di UKM JQH el Fasya el Febi’s ini, salah satunya dengan menyeimbangkan antara kuliah dan organisasi dengan bertirakat.

Dalam dirinya, ia meneguhkan pesan tersirat salah satu nadzom Alfiyah; Wa kullu mudhmarin lahul bina yajib, wa lalafdzu ma jurro kalafdzi ma nushib.

Alumnus Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini Pasuruan ini juga tidak meninggalkan laku tirakat khusus sejak kelas 2 Tsanawiyah. Hingga saat ini, tirakat dan mengaji sudah menjadi kebiasaannya.

“Saya sadar usaha belajar cuma pas-pasan. Selain belajar, saya juga mencoba tirakat. Nggak macam-macam sih tirakatnya, cuma tirakat ninggal makan ikan laut,” ujar Akmal.

“Soalnya pernah ngaji Ta’lim di situ ada kata wa yanbaghi li tholibil ‘ilmi an la ya’kula samakatal bahri. Saya ngaji itu saat kelas 2 MTs. Mulai saat itu saya tirakat gak makan ikan laut, padahal saya suka banget sama ikan laut apalagi cumi-cumi. Tapi beberapa kali bolong sih tirakatnya.” tutur Akmal.

Baca juga:  Sejarah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Prestasi yang ia raih sejak sekolah dasar sampai menjadi wisudawan terbaik tingkat Universitas dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.97 selalu dipersembahkan untuk orang tua.

“Seperti biasa, wisuda terbaik SD, MTs, MAN, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Wustho, semua untuk orang tua, juga Mbah. Soalnya Mbah paling seneng kalau ada cucunya yang dapat juara,” syukurnya.

Mahasiswa kelahiran 1999 ini tak sungkan memberikan tips tersendiri selama berkuliah hingga lulus.

“Bagusnya kalau kita sudah membaca materi kuliah saat itu. Kalau kurang efektif, sering-sering aja cari bahan pertanyaan yang ‘out of the box’ buat bertanya di sesi presentasi teman,” ucapnya.

Saat menjalani skripsi, Akmal menyarankan untuk sering berkomunikasi dengan dosen pembimbing dan tetap menulis.

“Sama kayak pasangan, pastikan saja kalau kita intens menghubungi dosen pembimbing. Jangan sering, karena nggak bagus. Jangan jarang juga, karena takut dilupakan. Hahaha…” tutup Akmal.

Reporter: Fia
Penulis: Fia, Ana
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here