Ipar [2]

0
96

Oleh: Fia Maulidia

Cerita sebelumnya di sini.

“Wah berarti nikung coro kitab iku oleh ya (wah berarti nikung itu menurut kitab boleh ya),” lengking suara Mila disambut ger-geran oleh para santri.

Halaman pondok jadi sangat riuh oleh kesimpulan spontan sarat humor miliknya.

“Lak senengane, gotak-gatuk-matuk!” teman di sampingnya menimpali.

“Loh saiki muni kaidah e piye? ‘Al itsar fil qurbi makruh, wa fii ghoiriha mahbub’ mendahulukan orang lain dalam hal ibadah iku mekruh. Saiki tak takoni, nikah ibadah po ra?”

“Ibadah”

“Lah iku, makane ojo sampek disikno wong liyo nak enek kang-kang alim tur bening, masio koncomu seneng” jawabnya mantap dengan cengengesan.

Aku yang dari tadi serius menyimak syawir kelas 3 Mua’llimat ini sontak tertawa dan hanya bisa menggelengkan kepala. Kejenuhan ku mendadak menguap, tertawa memang virus paling mudah untuk menularkan kebahagiaan.

Tak ada 10 detik,  sekonyong-konyong hujan menyerbu serentak. Syawir bubar, forum Muthola’ah juga berantakan.

Sebenarnya halaman pondok tak lazim digunakan untuk kegiatan semacam ini, tapi karena tadi hawa sangatlah panas, pengurus bidang pendidikan meminta izin untuk memindahkan kegiatan ke halaman pondok.

Baca juga:  Pdt. Izak Latu: Lebaran Sebagai Sarana Recharging Identity

Aku segera mendekati salah satu santri yang tampak kesusahan mendorong papan tulis sendirian, “Arek-arek ngerti udan kancane malah ditinggal ndorong papan tulis dewean,” gerutu santri tersebut ditengah hujan.

“Ya Rabbii, ustadzah ngapunten jenengan dados hujan-hujanan,” ucap santri ini ketika menyadari yang membantunya aku.

“Ndak papa nduk, itung-itung sama nostalgia jaman iseh cilik,” jawabku tersenyum.

“Emang bener ya ustadzah, semua hal itu bisa berbohong kecuali mata”

“Maksudnya nduk?”

“Kemarin niku ustadzah, saya denger gosip mbak-mbak tingkat akhir. Lagi ngegosip jenengan. Katanya jenengan niku orang sombonglah, sok-sok an lah, karena jenengan nolak lamarannya Ustadz Harun. Saya rasanya pingin marah ndak terima waktu itu, tapi saya baru setahun dibsini dan ndak tau pasti jenengan niku bagaimana. Lihat jenengan tadi senyum meskipun dingin ngeten niki, saya yakiiinn banget ustadzah, jenengan nuku mboten kados yang digosipkan mbak-mbak,” katanya sungguh-sungguh.

Aku hanya bisa tersenyum. “Yawis nduk, kalau kamu yakin ke saya, saya yakin kamu sekarang kedinginan. Ndang ke kamar, ganti baju terus istirahat. Kersane subuh saget tangi,” ucapku akhirnya.

Baca juga:  Jaga Kemurnian Akidah, Bangun Kekuatan Ukhuwah

“Ustadzah jenengan jangan boyong ya,” ucapnya tiba-tiba.

“Kata siapa saya mau boyong nduk?”

“Banyak ustadzah, jenengan mau lanjut kuliah di luar Pesantren kan?”

Sekali lagi aku hanya tersenyum. “Masih Ndak tau, yang penting sekarang kan masih di sini. Besok ada jadwal ngaji sama saya kan jam ke-3 Diniyah?”

“Iya sih Ustadzah”

“Nah, yawis ndang balik kamar. Adem nduk nang kene.”

Dia hanya mengangguk, pamit kemudian berlalu. Segera ku langkahkan kaki menuju kamar, tempias hujan di teras semakin kencang.

“Mbak, enten telfon saking Gus Harun,” ucap Lud sambil menyodorkan Handphone ku.

“Ngapunten mbak tadi Kulo angkat, soalnya nelpon bolak-balik takut ada yang penting tapi jenengan ndak datang-datang,” ucapnya.

“Oalah iya,” ucapku sekenanya.

Kuputuskan langsung menelpon balik namun tak ada jawaban. Pikiranku menduga-duga banyak hal. Ada apa malam-malam begini mas Harun telfon, perkara pondok tak pantas rasanya jika disampaikan saat yang lain istirahat.

Atau ada hal lain yang ingin disampaikan? Tapi kenapa sangat mendadak?

Baca juga:  Isfaul Maulina: Jangan Malas Ngerjain Skripsi, Teruslah Konsultasi

Panggilan ketiga barulah tersambung, suaranya resah membuatku semakin tak keruan.

“Nggih mas, saya segera pulang” ucapku sambil menenangkan diri. Tangis tak bisa ku tahan. Aku harus segera pulang.

To be continued

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here