Implikasi Sinar Matahari terhadap Covid-19

0
341

Oleh: Sidik Pramono

Dede (Jawa) atau berjemur di bawah sinar matahari kembali menjadi tren bagi masyarakat di Indonesia. Pasalnya, di tengah Pandemi yang disebabkan Covid-19 ini, tersiar kabar bahwa sinar matahari dapat membunuh Covid-19. Kabar tersebut bukan lagi rahasia umum, sebab di media sosial manapun telah banyak unggahan yang menyatakan demikian.

Hingga di pelosok desa (seperti desa penulis) kabar mengenai implikasi sinar matahari yang dapat membunuh Covid-19 sudah menjadi bahan gethok tular dari satu orang ke orang lainnya. Bagi para penduduk Dusun milik penulis yang letaknya jauh dari kota, kabar demikian memberikan angin segar di tengah kabar kematian dan bahaya Covid-19 yang menyebabkan pesimis dan menambah kecemasan warga.

Mengapa memberi angin segar? Hampir 85% warga yang ada di Dusun penulis bermata pencaharian sebagai petani, di mana setiap pagi hari hingga tengah hari (menjelang salat dzuhur) warga berada di persawahan. Dengan aktivitas yang beragam seperti, menanam padi, memupuk, membersihkan gulma, menyemprot dan lain-lain.

“Kanggone wong tani koyo dewe ngeneki kudu bersyukur iso olahraga disambi dede sing kabare isi mateni Copid-19,” mengutip perkataan salah satu warga Dusun.

Obrolan yang demikian bukan hanya diungkapkan oleh satu atau dua orang namun, banyak orang. Dengan mimik wajah yang sedikit lega dan bahagia saat berbicara khasiat berjemur di bawah matahari ini.

Sialnya, bagi warga Dusun seperti halnya penulis, dede telah menjadi hal rutin dijalankan di pagi hari dengan disambi kegiatan lainnya seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Baca juga:  Nasib Sang Pedestriadan

Kabar mengenai implikasi sinar matahari terhadap Covid-19 menyebar dengan cepat. Karena dapat membunuh Covid-19 sehingga ada imbauan dalam salah satu gambar yang di gambar tersebut terdapat foto Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Bahwasanya Covid-19 yang ada di daerah dingin (subtropis) akan bertahan lebih lama dibandingkan di daerah tropis macam Indonesia.

Pasalnya, sinar matahari selalu menyinari daerah tropis, daripada di daerah subtropis. Kegiatan dede sebenarnya sudah menjadi tradisi di zaman lampau, mendadak menjadi tren kembali di pagi hari dengan durasi selama kurang-lebih 10-15 menit.
Sontak banyak orang mengunggah foto yang sedang melakukan dede

Sinar Matahari dapat Membunuh Covid-19: Hoaks

Apakah ini benar sinar matahari dapat membunuh Covid-19? Berdasarkan Fact checker www.medcom.id , Wanda Indana, menyatakan bahwa kabar tersebut merupakan hoaks yang beredar di masyarakat. Dalam penjelasan di acara salah stasiun televisi swasta, Wanda mengatakan bahwa hoaks tersebut menyebar di media sosial seperti aplikasi berbagi pesan WhatsApp.

“Tidak ada penelitian ilmiah yang membenarkan kabar demikian,” ungkapnya 26 Maret 2020.Dirinya mengutip pernyataan dari polifact.com yang menyatakan, “No, sunlight has not been proven to kill Coronavirus“.

Selain itu dari Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) tidak yakin bahwa matahari atau suhu panas akan memengaruhi Covid-19. Hal yang sama juga dinyatakan oleh WHO dengan menyatakan, “Covid-19 dapat ditularkan di semua iklim, termasuk daerah dengan cuaca panas dan lembab”.

Baca juga:  Lomba Majalah, LPM Justisia Sabet Juara 1

Kabar hoaks yang telah banyak beredar ini telah menjadi suatu kebenaran yang banyak diamini oleh masyarakat luas di Indonesia. Ditambah lagi dengan tradisi di Indonesia yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan dede di depan rumah. Selain itu, para orang tua juga melakukan dede pada batita atau balitanya.

Menyikapi hoaks yang marak beredar pada saat-saat seperti ini, agaknya kita perlu mengingat petuah terkenal dari bapak propaganda modern, Joseph Goebbels (1897-1945), “Kebohongan yang diucapkan berulang ulang akan menjadi kebenaran yang dipercaya.”

Efek Positif Dede

Melihat gambaran yang saya ilustrasikan, akan terlalu pragmatis jika kita langsung memberi stigma salah pada kegiatan dede ini. Di balik kabar hoaks soal sinar matahari dan Covid-19 ini, tidak bisa kita menyalahkan begitu saja dan tidak berjemur di bawah matahari. Ada hal positif dari kegiatan berjemur di pagi hari.

Memang dengan dede tidak bisa dengan begitu saja mematikan Covid-19. Namun, sesuai yang dimuat dalam Kompas.com, yang mengutip pernyataan Dokter sekaligus ahli gizi, Tan Shot Yen, mengungkapkan, sinar matahari dapat menangkal penyakit dengan cara memperkuat daya tahan tubuh dengan catatan berjemur  yang direkomendasikan berkisar jam 10-11 pagi dengan durasi 10-15 menit. Cahaya matahari dapat meningkatkan daya tahan tubuh mekanisme sebagai berikut:

Paparan radiasi ultraviolet-B (UVB) yang dibawa matahari tepat untuk penyerapan vitamin D3 (Kolekasiferol). Lalu UVB yang mengandung pro-vitamin D3, saat bertemu dengan kolesterol dalam tubuh, akan disintesis atau dirubah menjadi vitamin D3. Vitamin D3 ini yang menjadi sumber kekebalan tubuh manusia. Dan sinar UVB hanya terdapat pada jam 10.00 hingga 11.00.

Baca juga:  Camat Perempuan Pertama KendaL; Belajar dari Realita Masyarakat

Sebagaimana yang dituliskan dalam infografik kompas.com , semakin banyak permukaan kulit uang terpapar sinar matahari saat berjemur maka, semakin baik pula hasilnya. Dan berjemur pada pukul 07.00 saat matahari masih redup, Tan menjelaskan akan berbahaya bagi kesehatan. Dan bila berjemur dilakukan pada jam 8-9 pagi sinar matahari mengandung ultraviolet A. Di mana UVA akan merubah pro-vitamin D menjadi vitamin D yang berguna untuk pigmentasi kulit manusia.

Dengan demikian, memang berjemur di bawah sinar matahari memang tidak dapat mematikan Covid-19 secara langsung. Akan tetapi, heriemur di bawah sinar matahari pagi utamanya jam 10-11 pagi akan dapat meningkatkan daya imunitas tubuh yang akan membuat tubuh manusia dapat melawan Covid-19 yang masuk. Seperti yang terjadi di Mojosongo, Jawa Tengah 2 pemuda yang dapat sembuh dari Covid-19 karena memiliki imunitas yang kuat dalam tubuhnya.

Maka, jadikan berjemur di bawah sinar matahari pagi sebagai ikhtiar kita bersama dalam melawan Covid-19. Dengan tetap #dirumahaja, jaga jarak, mencuci tangan, dan selalu tenang serta sabar.

Sebagaimana ungkapan Ibnu Sina, “kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah separuh kesembuhan.”

Selain itu, mari kita tangkal hoaks bersama-sama dengan selalu ingat kata-kata Joseph Goebbels di atas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here