Hinakah Puasaku?

0
200

Oleh: No See

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Muslim di Dunia. Di bulan yang penuh berkah ini, umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Seluruh umat Muslim “di-gembleng” untuk tak sekedar menahan lapar dan haus belaka, namun juga hawa nafsu angkara, terutama nafsu-nafsu dunaiwi yang selalu membuat manusia terlena pada hidup di dunia. Pada moment Ramadhan inilah biasanya orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan, katanya sih “Fastabiqul Khairat”, entah itu karena lillahita’ala entah karena pujian semata.

Tentunya bulan Ramadhan ini tidak mudah lepas dari beragam tantangan dan godaan. Justru moment inilah yang membuat bulan Ramadhan sangat seru dan selalu dirindukan. Bagaimana tidak, setiap harinya umat Muslim harus bangun di sepertiga malam yang pada bulan-bulan lain mungkin jarang dilakukan umat Muslim untuk melaksanakan sunah Sahur. Meski hanya sekedar minum air atau sesendok nasi, efek sahur sangat berpengaruh dalam puasa kita. Bagaimana tidak, jika kita tidak sahur, alasan untuk “Mokah” pun akan dengan mudah kita dapatkan.

Bagi yang belum bisa bangun sepagi itu, kegiatan sahur ini pasti menjadi tantangan tersendiri. Apalagi yang hidup sendiri, tak ada yang menemani, apalagi menyemangati. Nampaknya tantangan dan nasib naas itu jatuh kepada seorang pemuda yang dengan hangatnya masih berselimut sarung diatas kasur bergambar Hello Kitty. Meski sudah dipasang alarm beruntun layaknya kembang api tahun baru masehi, Smart Phone yang ditaruh tepat disamping jendela telinganya itu tak tersentuh sama sekali, matipun tidak. Hingga sang muadzin telah melantunkan panggilan kepada ummat untuk berjamaah, dia baru tersadar dengan wajah tanpa dosa sambil menyeka air liur yang kemana-mana.

“Anjir udah shubuh !!!”

Merasa kecewa karena smart phone yang menjadi teman tidurnya tidak bisa membangunkannya, dengan cepat ia meninggalkan sarung layaknya superhero berganti kostum lalu melesat menuju dapur menumpas keadilan pada perutnya yang keroncongan. Dicari-carinya sumber makanan yang bisa ia dapatkan, meski sudah tau bahwa tidak akan ada makanan yang bakal ditemukannya karena ia belum memasak apa-apa, alhasil ia hanya menemukan sisa keripik singkong tadi malam yang dibuatnya teman untuk begadang.

“Haduh, nggak sahur lagi !!!”

***

Wajah pucat dan tubuh lemas terlihat dari gerak-gerik pemuda yang tak sahur itu, tangannya selalu memegangi perut mengharap dengan ajaib ada makanan yang datang dan mengetuk perutnya yang cemberut itu. Dibayangkannya menu-menu masakan di warung padang.

“Rendang … Daun singkong … Sambal ijo …”

Drrtttt …. drtttt …. entah bunyi smartphone atau perutnya, sang pemuda itu tidak tahu menahu. Yang dibayangkannya cuma makanan, makanan, dan … es teh.

“Kerja Jek !!!” teriak seseorang dari seberang lewat ponsel yang digenggam pemuda itu. “Oiya anjir” ia tersadar akan kewajiban di kota perantauannya.

***

Siang yang terik membuat si pemuda semakin lemas dan tersiksa, disetiap jalan yang dilewatinya tak sesekali ia melirik warung-warung toleransi yang hanya melihatkan kaki-kaki dibalik tirai syar’i sambil berhalusinasi,

Baca juga:  Bunuh Saja Aku

“Wah, es teh enak kali ya …” perlakuan semacam ini lah yang membuat puasa di negara kita asyik, lebih menantang, inilah sebab mengapa ulama’ di negara kita menganjurkan untuk tidur saja dari pada sesuatu yang dholim menjerumuskan kita, dengan dalih “Tidurnya orang puasa itu ibadah”, karena tidak mungkin di Arab orang puasa keluar melihat hal-hal semacam itu, yang ada hanya panas teriknya padang pasir. Sungguh indah puasa di negeri kita.

“Jek, pucat amat lu … habis di kejar satpol PP gara-gara makan di warung syar’i?” tamparan kertas seorang pemuda bernama Rusdi mengagetkan lamunan Kojek yang sudah kemana-mana.

“Justru itu gue malah pengen mampir ke warung syar’i rus …”

“Pasti kaga sahur lagi nih …”

“Iya, nasib anak kost-an mah gimana lagi, apa-apa sendiri, pacar aja kaga punya, gimana ada yang ngingetin”

“Lah anak-anak komplek kan udah pada bangunin sahur keliling, sampe bawa sound dangdut segala, lu aja yang tidurnya ke-kebo-an”

“Iya ya, tapi masih beruntung elu lah, lu anak rumahan, se-kebo apapun tidur lu, pasti dibangunin sama emak elu … lah gue, masak emak gue datang dari pulau seberang cuma gara-gara mau bangunin gue sahur doang, kan kaga mungkin lah”

“Ya udah, nih kita dapet job bagiin lembaran ke perempatan sana, mumpung nih jam istirahat para buruh pabrik, pasti banyak yang keluar ke perempatan kan, kali aja ada yang minat beli motor, kan lumayan, lu bisa buka puasa sama lauk enak …”

“Oke deh, cuss yok”

***

Terik matahari semakin menyengat kulit, kulit mulai menghasilkan keringat, keringat pun mulai mengeluarkan asa, hasrat ingin mokah pun semakin kuat dan mantap.

“Ah, rus … Mokah yuk …” tak kuat lagi Kojek menahan keroncongan yang sedari tadi membuatnya menderita.

“Kaga ah, ngawur lu ..”

“Sumpah, perut gue udah sakit nih, udah pening juga, daripada gue pingsan, lu mau bawa gua ke puskesmas ?”

“Kaga mau lah, kalau gitu makan aja sana dari pada lu kenapa-kenapa, kalau emang udah gak kuat puasa jangan dipaksa, ntar lu malah mendholimi diri lu sendiri, dan ujung-ujungnya lu malah nyalahin puasa, kan repot”

“Ya udah gue mau makan, lu mau ikut kagak?”

“Kagak ah, lu aja”

“Gue traktir deh”

“Emmm …. ” iman rusdi mulai goyah mendengar kata traktir, hal ini bisa dilihat jelas dari gerak bibirnya yang meringas-meringis “Kagak dah …”

“Ah sok alim lu …”

“Bukannya gitu jek …”

“Eh rus, gue bilangin nih ya, jiwa Manusia itu bukan jiwa Malaikat, jika Malaikat diciptakan Tuhan untuk berjalan dan bergerak hanya pada garis yang ditetapkan untuknya tanpa bergeser sedikitpun, maka Manusia tidak seperti itu rus … Manusia tidak diciptakan dalam format jiwa yang patuh sepenuhnya pada satu garis, maka dari itu ayolah mokah, jangan sok suci, kadang hidup juga perlu melenceng sesekali dari garis, biar imbang” entah mengapa Kojek menjelaskan niat buruknya itu layaknya seorang filsuf yang sedang berpidato kepada rakyatnya.

Baca juga:  Aku, Dia, dan Seorang Pelacur

“Kok lu malah kerasukan Iblis bijak njir, mungkin gara-gara otak sama perut lu lagi nggak sinkron yah …”

“Udahlah ayok, gue cuss nih, dengan atau tanpa elu” Kojek masih berusaha menghasut Rusdi yang imannya mulai goyah

“Ya udah tinggal aja, gue kaga”

“Emang kenapa sih?”

“Gini jek, gue gak mau menyia-nyiakan perjuangan emak gue yang sudah susah payah buat ngebangunin gue sahur, masak gua kecewain dia hanya demi makan diwarung syar’i, nggak ah, kualat ntar gue, ya kualat sama ibu gue, ya sama Tuhan juga …”

“Yaudah … gue cabut dulu ah”

***

Dengan girangnya Kojek melangkah menuju warung sayr’i sambil membayangkan lauk apa yang nanti akan ia makan.

“Kayaknya bakal sepi deh warung, karena orang-orang pada puasa”

Namun betapa terkejutnya Kojek sesampainya disana, ia melihat pemandangan yang bertolak belakang dengan pemikirannya tadi. Banyak sekali orang yang mengantri di warung syar’i bahkan sampai diluar tirai, yang memperlihatkan seluruh sosoknya, bukan hanya kaki lagi.

“Ternyata bukan cuma gue ya yang ngecewain Tuhan”

Setelah mengantri, Kojek memesan sepiring rendang, sambal, tentunya dengan porsi kuli. Tak lupa es teh yang selalu terbayang dalam pikirannya ia pesan dua gelas. Selesai makan, Kojek dengan santainya menghampiri pemilik warung yang memang kebetulan teman dekat Kojek.

“Mang, pernah denger hadits yang mengatakan bahwa memberi makan orang yang berbuka puasa pahalanya itu sama dengan pahala orang berpuasa nggak?”

“pernah jek, emang kenapa”

“Alhamdulillah mamang pernah ngaji, nah gini bang … berhubung saya habis batalin puasa, dan saya lupa bawa dompet, bolehlah …”

“Apa jek !!! tapi kan kamu nggak puasa”

“Dan mamang juga ngeladenin orang yang nggak puasa toh? justru saya ini malah puasa mang, tapi karena tadi perut saya sakit banget dan hampir pingsan, dari pada saya dilarikan ke UGD yang bayarannya lebih mahal, lebih baik kan saya larikan ke warung mamang saja, jadi ini masih dikategotikan berbuka puasa mang, mamang menyelamatkan hidup saya”

“Ah, ada-ada saja akalmu itu, ya udah sana … masih banyak tuh orang-orang yang ngantri”

“Makasih mang …” dengan rasa puas kojek pun keluar dari balik tirai dan kembali ke tempat tadi menyebar lembaran bersama rusdi.

***

“Pie, wis wareg ?”

“Sudah dong, nampaknya kini aku sehat kembali …”

“Puas lu, nurutin nafsu yang cuma sesaat itu …”

“Ya gimana lagi, dari pada gue mati, gue cari yang tingkat kemadharatannya lebih kecil aja”

Baca juga:  Kau Perusak

“Eh, lu tuh cuma nahan lapar setengah hari aja udah mau mati, lu kaga mikir nasib mereka yang fakir miskin apa ? yang kaga bisa makan, susah cari uang, terus terlantar dijalanan, yang cuma bisa makan satu kali sehari, itu pun masih syukur bisa makan, lu kaga mikir lapernya mereka kaya apa?”

“Lah itu kan gara-gara mereka sendiri ga punya usaha buat makan rus, coba aja mereka punya usaha, pasti mereka juga makan …”

“Begini jek, puasa Ramadhan itu cuma latihan yang diberikan Tuhan agar kita memiliki suku cadang mental dan moral dasar untuk melakukan puasa yang lebih empiris dan konkrit dalam kehidupan yang dimensinya memang jauh lebih luas dari sekedar makan dan minum”

“Terus ….”

“Bulan Ramadhan adalah laboratoriumnya, markas latihan, tempat penggemblengan kita, kawah conrodimuko, pendadaran diri kita agar bisa matang”

“Emang kita latihan untuk apa ? kok digembleng segala” memang kojek suka sekali mendebat satu sahabatnya ini.

“Untuk mencapai suatu keadaan kepribadian yang sanggup melakukan berbagai penaklukkan. Dengan demikian puasa dilapangan yang sesungguhnya adalah sesudah Ramadhan. Kita digembleng untuk bisa menaklukkan hawa nafus, kau tau jek … hawa nafsu itu seluas samudera, jika lu mau ini itu, pasti hawa nafsu membisikimu, dan manusia yang benar-benar puasa akan tau apa yang menjadi maslahat dunia akhirat dan apa yang tidak, orang puasa sanggup menaklukkan apa yang ia sukai namun tidak baik, sehingga ia tak melakukannya. Atau mengatasi sesuatu yang tak ia sukai, namun harus ia lakukan.”

“Oh gue paham, jadi sebenarnya orang puasa itu sangat sadar batas yah, sehingga tak  akan telrlibat pada keberlebihan, kemewahan, bahkan hedonisme. Orang puasa mengerti kapan harus diam, kapan harus gerak, kapan ngomong, kapan diam. Jadi orang puasa itu bersih dari kemubadziran, kesia-siaan, meskipun itu hanya sesendok nasi … manusia yang benar-benar puasa mampu menaklukkan keinginannya, kehendaknya, lalu menyaringnya berdasarkan kemaslahatan dunia akhirat?”

“Nah tumben otak lu nyangkut jek, habis makan rendang kah ?”

“Hehe, khillaf gue …” cengar-cengir Kojek malu kepada Rusdi, sekaligus malu kepada Tuhan dan dirinya sendiri.

“Jadi lu tau sendiri, orang puasa tidak memperbudak dirinya didalam kurungan apa saja yang tidak bisa menyertainya, ia hanya berjalan menuju keabadian Allah. Orang puasa tidak mementingkan keuntungan pribadi, kekayaan, kekuasaan sedimikian rupa sehingga tidak perlu bertengkar melalui ekonomi, dan orang puasa tidak akan merasa kehilangan itu semua”

“Kalau begitu, nampaknya negara kita juga perlu puasa ya rus …”

“Benar sekali jek, puasa mereka selama ini hanya sekedar menahan makan dan minum saja, tanpa menahan nafsu mereka yang hina hingga menghalalkan segala cara. Sangat sia-sia …”

“Jadi, lebih hina puasa gue apa puasa mereka rus ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here