Harapan Atas Obat dan Vaksin Covid-19

0
87
Potret vaksin virus Korona / Kredit foto: KlikDokter.com

Oleh : Andy Evan

Justisia.com – Penyebaran virus corona di dunia masih terus meningkat. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama yang terinfeksi virus corona di Indonesia, pada 2 Maret 2020 lalu, grafik data yang terkonfirmasi di negara kita masih terus menanjak tinggi. Sayangnya belum ada tanda-tanda grafik itu akan turun apalagi terjun bebas.

Hal ini tidak berarti kita tidak melakukan apa-apa. Berbagai hal kita lakukan dalam upaya menolak virus ini. Bermacam-macam kebijakan dibuat pemerintah untuk mengendalikan peta penyebaran Covid-19. Tidak sedikit tenaga kesehatan dan saudara-saudara kita yang gugur berjuang melawan virus yang mulai diketahui sejak akhir tahun kemarin.

Sebagai pejuang terdepan, para ahli medis dan peneliti mengembangkan vaksin dan menggunakan berbagai obat untuk menaklukkan Covid-19. Walaupun sampai saat ini, belum ada obat dan vaksin yang bisa menyembuhkan atau menghentikan virus corona. Sekalipun begitu, selayaknya kita tetap menjaga harapan untuk tetap berjuang.

Jika kita melihat pengertian obat dalam Permenkes nomor 30 tahun 2014: Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yag digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.

Di dalam sebuah obat tidak terdapat mikroorganisme atau virus untuk bahan pembuatannya. Produksi obat, proses kontrolnya difokuskan pada bahan baku dan konsistensi prosedur yang digunakan, dan pengujian produk akhir untuk memastikan efek samping dan kedaluwarsa.

Baca juga:  Iklan Global dan Dampak Alienasi Perempuan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyusun daftar obat dan mempublikasikannya pada 7 April 2020 untuk digunakan para tenaga kesehatan. Rincian ke-17 obat tersebut adalah:

  1. Klorokuin Fosfat (antivirus);
  2. Hidroksiklorokuin (antivitus);
  3. Favipiravir (antivirus);
  4. Lopinavir  Ritonavir (antivirus);
  5. Oseltamivir (antivirus);
  6. Remdesivir (antivirus);
  7. Levofloksasin (antibiotika);
  8. Meropenem (antibiotika);
  9. Sefotaksim (antibiotika);
  10. Azitromisin (antibiotika);
  11. Midazolam (obat sistem saraf pusat-golongan Benzodiazepin);
  12. Lansoprazole (obat tukak lambung-Proton Pump Inhibitor);
  13. Loperamide Hidroklorida (antidiare);
  14. Asetilsistein (pengencer dahak);
  15. Salbutamol (agonis Adrenoseptor β-2 Selective);
  16. Asam Askorbat (vitamin);
  17. α-Tokoferol Asetat (vitamin

Dari daftar yang ada di atas, peneliti Universitas Airlangga Surabaya mengembangkan kombinasi dengan obat potensial lainnya. Riset ini didukung Badan Intelejen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair, dr. Purwati mengatakan, kombinasi regimen obat itu punya potensi dan efektivitas untuk mematikan virus.

Menanggapi hal itu, epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono menyebut kombinasi obat tersebut masih diragukan kebenaran dan metodologinya selama belum ada pengujian ke manusia.

Dua obat di dalam daftar, Klorokuin Fosfat dan Hidroksiklorokuin yang merupakan obat antimalaria, telah distop penggunaannya untuk perawatan Covid-19 oleh World Health Organization (WHO) sejak 17 Juni 2020.

Di Indonesia, obat Klorokuin ini masih digunakan. Hal ini sejalan dengan persetujuan penggunaan terbatas [klorokuin dan hidroksiklorokuin] saat darurat dari Badan POM yang dikeluarkan pada April 2020, di mana diutamakan kepada pasien dewasa dan remaja yang memiliki berat 50 kg atau lebih yang dirawat di rumah sakit.

Baca juga:  Stop Berita Hoax

Padahal Ketua Satgas Covid-19 IDI, Zubairi Djoerban menjelaskan, “obat antivirus yang dinyatakan berhasil baru ada dua yakni Remdesivir dan Avigan. Sedangkan Klorokuin tidak cukup bukti ilmiahnya”.

Sedangkan pengertian vaksin dalam Permenkes nomor 12 tahun 2017: Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme atau virus yang sudah mati atau hidup yang digunakan sebagai antigen, yaitu zat yang merangsang sistem imun, terutama dalam menghasilkan antibody. Antigen biasanya berupa protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya.

Pada dasarnya obat dan vaksin bertujuan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit pada manusia dan hewan. Proses pengembangan vaksin lebih kompleks ketimbang obat.

Akibatnya produksi vaksin membutuhkan waktu yang lama, dengan setiap langkah dan variable dalam proses standard, terkontrol, divalidasi, dan diuji terlebih dahulu. Vaksin pada umumnya diberikan gratis atau dengan harga yang terjangkau untuk menciptakan masyarakat yang sehat. Sehingga untuk bisnis, obat terlihat lebih menguntungkan.

WHO menyebutkan 172 negara di seluruh dunia saat ini sedang terlibat diskusi Covid-19 Vaccine Global Access Facility (COVAX), sebuah inisiatif global yang bertujuan untuk bekerja dengan produsen vaksin guna memberikan akses yang adil kepada negara-negara di seluruh dunia atas vaksin yang aman dan efektif.

Baca juga:  Eksistensi Santri Di Era Globalisasi

Menurut WHO juga, ada 189 kandidat vaksin corona saat ini. Dari jumlah tersebut hanya ada 7 kandidat vaksin corona yang sudah masuk ke fase ke-3 uji klinis pada manusia.

Sebelum bisa dipakai secara massal, sebuah vaksin perlu melewati tiga fase uji klinis. Dua fase uji klinis awal bakal mengevaluasi keamanan, dosis, dampak, dan efektivitas vaksin corona dalam kelompok yang kecil. Pada fase ketiga, evaluasinya bakal berfokus pada seberapa efektif kandidat vaksin corona yang sedang diuji tersebut. 7 kandidat vaksin corona itu, diantaranya:

  1. Vaksin AstraZeneca; Kandidat vaksin corona dari University of Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca.
  2. CoronaVac; CoronaVac dari perusahaan farmasi asal China, Sinovac.
  3. Vaksin Sinopharm; Kandidat vaksin corona buatan grup farmasi pemerintah China, Sinopharm.
  4. CanSino; Vaksin corona buatan CanSino adalah hasil kerja sama mereka dengan Beijing Institute of Biotechnology.
  5. Vaksin Johnson & Johnson; Perusahaan obat-obatan Johnson & Johnson.
  6. Sputnik V; Kandidat vaksin corona yang terakhir datang dari Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology.
  7. Pzifer; Vaksin corona buatan Pfizer dan perusahaan farmasi BioNTech.

Semua jenis obat dan vaksin yang dikembangkan dan digunakan adalah bagian dari usaha kita melawan. Kembali kepada apa yang saya sampaikan di awal bahwa kita belum benar-benar menemukan cahaya terang dalam penaklukan corona. Tapi, kita tetap harus punya harapan walau temaram untuk bisa terus bertahan. Tabik. [j]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here