Global Bond Indonesia Kacamata Ekonom

0
442

Semarang, Justisia.com – Kebijakan Global bond Indonesia dalam menghadapi covid -19 yang bertepatan pada malam Nishfu Sya’ban kemarin segera menuai pro-kontra khalayak ramai, mulai dari anggapan masyarakat umum kalau nishfu sya’ban tempo hari seharusnya dijadikan momentum doa bersama menolak balak, bukan malah nambah balak.

Lalu apakah benar kebijakan global bond dengan tenor 50 tahun ini benar-benar balak yang akan jadi momok menakutkan dalam perjalanan Indonesia kedepan? Kru Justisia menghubungi I Gusti Ayu Kencana Dewi, ST., MM., salah satu dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. Sekaligus sebagai seorang yang bergelut di bidang ekonomi-sekuritas.

Terkait kebijakan Indonesia untuk menerbitkan surat kebijakan global bond senilai 4,3 miliar USD, apakah sudah tepat?

Ini adalah bond terbesar dan terlama sepanjang sejarah di Indonesia, menurut saya tepat karena awal dikeluarkanya bond tersebut untuk mendapatkan dana segar sebagai upaya penanggulangan covid-19 dan menjaga liquiditas, tenornya juga panjang 50 tahun. Penerbitan bond ini untuk menutup defisit fiscal, selain itu untuk menambah cadangan devisa sebagai akibat menurunnya perekonomian global.

Walaupun begitu, pemerintah juga harus tetap jaga inflasi, karena penerbitan bond ini tentu berdampak pada SUN atau surat utang negara dan SBSN atau surat berharga syariah Negara, artinya penerbitan SUN dan SBSN akan diminimalkan karena tergantikan dengan global bond USD 4,3 miliar.

Baca juga:  Nyanyian dan Harapan

Ketika awal diterbitkan, pemerintah segera mengelu-elukan kelebihan dari dikeluarkannya surat kebijakan ini, bahwa satu satunya di dunia hanya Indonesia yang mengeluarkannya, apakah benar kebijakan ini se-positif itu bagi Indonesia?

Coba bayangkan, saat krisis covid-19 bukan hanya Indonesia yang terkena tapi seluruh dunia. Semua produsen tidak bisa produksi karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) otomatis perusahaan dan pekerja tidak dapat gaji, pedagang, pemilik kos tidak ada pemasukan karena perekonomian berhenti. Negara yang biasanya dapat pemasukan dari eksport, pajak dan devisa buat biaya APBN juga terkendala.

Lalu negara untuk bisa bertahan agar Rupiah kuat, mengobati pasien covid-19 darimana dananya kalau tidak dari bond, hibah? negara lain juga butuh dana untuk penanggulangan covid-19. Karena yang dilawan pemerintah bukan hanya covid-19, tetapi penurunan perekonomian akibat covid-19 pula.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengeluarkan stimulus untuk mendorong perekonomian akibat covid-19, Di Amerika Serikat Presiden Donald Trump pun ikut menggelontorkan anggaran US$ 2,1 triliun (Rp 33.600 triliun/Kurs Rp 16.000 per US$) atau 10,5% dari PDB untuk menanggulangi Covid-19. Jepang juga mengumumkan paket stimulus baru senilai US$ 1 triliun untuk meredam dampak ekonomi corona. Sebelumnya, Jepang menggelontorkan stimulus US$ 4,1 miliar.

Baca juga:  Penutupan Gerbang Kampus 3 Lebih Awal

Jika melihat konteks keadaan di Indonesia saat ini, apakah kebijakan ini menjadi satu satunya alternatif yang paling memungkinkan untuk diambil? Ataukah ada yang lain?

Melihat kondisi seluruh dunia mengalami perlambatan ekonomi bahkan cenderung resesi ekonomi, kebijakan saat ini adalah keputusan yang tepat. Lagi pula dikeluarkannya juga bertahap: Pertama, senilai US$1,65 miliar bertenor 10,5 tahun atau jatuh tempo 15 Oktober 2030 dengan yield atau imbal hasil 3,90 persen. Kedua, senilai US$1,65 miliar bertenor 30,5 tahun atau jatuh tempo 17 Oktober 2050 dengan yield atau imbal hasil 4,25 persen. Ketiga, senilai US$1 miliar bertenor 50 tahun atau jatuh tempo 15 April 2070 dengan yield atau imbal hasil 4,50 persen.

Sebenarnya dalam konteks apa saja surat kebijakan global bond itu boleh dikeluarkan?

Surat kebijakan global bond itu emergency policy, untuk keadaan yg benar-benar darurat, karena perekonomian terhenti akibat bencana alam dahsyat, pandemi penyakit dan perang.

Terkait cara kerjanya, bagaimana surat kebijakan ini bekerja?

Dalam cara kerja obligasi ada yg namanya nilai nominal, jangka waktu dan jatuh tempo. Contoh nilai nominal US$ 1,65 miliar, jangka waktu 10,5 tahun imbal hasil 3,9% artinya debitur atau investor ini buy global bond dengan jangka waktu 10,5 tahun berakhir oktober 2030 dan dapat bunga 3,9% per tahun selama 10,5 tahun. Investor bisa sell kapan saja sampai oktober 2030 di pasar sekunder, jadi investor tidak usah menunggu 10,5 tahun kalau mau jual kembali.

Baca juga:  Perizinan Santri Ma'had Walisongo Harus Melewati Prosedur yang Jelas

Sebagai akademisi yang bergelut di bidang Ekonomi, menurut Ibu apa tujuan serta alasan pemerintah sehingga mengambil kebijakan ini?

Secara umum; menjaga liquiditas keuangan Negara, menjaga cadangan devisa, menutup defisit fiscal dan menjaga inflasi.

Kabar baik apa yang dibawa dari terbitnya surat kebijakan ini? Dan apa dampak terburuknya bagi perekonomian Indonesia kedepan?

Kabar baiknya kalau pandemic ini InsyaAllah berakhir, Indonesia bisa melanjutkan pembangunan dan perekonomian yang tertunda. Kabar terburuknya jika nilai tukar Rupiah terhadap US$ turun maka hutang Indonesia tambah bengkak.

Bayang-bayang krisis moneter menjadi dekat, apakah berpotensi terulang?

Nilai tukar Rupiah terendah cuma 16.550,00, Krisis moneter Indonesia sudah pengalaman tahun 1998 dan Alhamdulillah bisa dilewati.

Reporter: Fia Maulidia
Penulis: Fia Maulidia
Editor: Hikmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here