Gerbong Maut

0
290

Karya : Naufal Shabri
Mahasiswa Semester 4 Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

Tuhan  telah menakdirkanku berada di sini. Di tempat ini. Aku mungkin tidak akan bisa lari lagi. Aku telah menjadi penghuni abadi gerbong maut ini. Semuanya berawal dari kejadian  28 tahun yang lalu.

Pagi itu, pagi – pagi sekali, ayah telah membangunkanku. Hari masih sangat pagi sehingga mentari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya.  Hari ini rencananya kami sekeluarga akan naik salah satu gerbong kereta jurusan Stasiun Tanah Abang – Stasiun Merak. Aku sangat bersemangat.  Aku akan kembali bertemu dengan kakek dan nenek setelah sekian lama. 

“Kita harus sampai di Stasiun Tanah Abang jam setengah enam. Kereta akan berangkat jam setengah tujuh.”, kata Ayah.
Aku mengangguk. Ini memang baru pertama kalinya aku naik kereta api.
“Bawa barang seperlunya saja. Dan jangan sampai ada yang tertinggal.”, tambah Ibu.
Lagi-lagi, aku hanya mengangguk. Tanpa banyak bicara, kupersiapkan semua barang-barangku hingga tuntas dan segera bergabung dengan orang tuaku untuk sarapan pagi.

Kami tiba di Stasiun Tanah Abang lebih awal dan segera mengurus segala keperluan keberangkatan. Sambil menunggu, ayah menyuruhku untuk membeli koran di penjaja koran yang tampaknya seusiaku.
“Mas, korannya satu. “
“Ini, Mbak. 500 rupiah saja.”
Sambil menyerahkan uang, aku sempat untuk memandangi wajahnya. Tidak terlalu tampan, memang. Tapi, senyumnya yang tulus sanggup membuatnya jauh lebih menarik untuk dilihat.
“Biasa jualan koran di sini ya, Mas? “
“Iya, Mbak. Saya biasa jualan di sini tiap hari. “

Ingin rasanya aku melanjutkan perbincangan ini, tapi segera kuurungkan niatku setelah ayah memberi tanda bahwa kereta api yang akan kami tumpangi akan segera berangkat. Sempat kulirik koran yang baru saja kubeli, yang tertulis edisi tanggal 19 Oktober 1987.
*

Kami segera berjalan menuju kereta yang akan segera kami tumpangi. Agak kaget aku melihat jumlah penumpang pada pagi itu. Ramai sekali, batinku.

“Ayah, apa biasanya penumpang yang naik kereta juga sebanyak ini ?”
Ayah terdiam beberapa saat. Tampak raut cukup heran di wajahnya.
“Aneh juga.. biasanya penumpang kereta tidak pernah sebanyak ini. Lagipula, ini bukan hari libur,”
“Tapi ini Hari Senin” sanggah Ibu. “Hari Senin kan memang biasanya padat”
“Tapi rasanya, jumlah penumpang sebanyak itu tidak akan muat untuk duduk dengan nyaman di kereta. Kita juga pasti akan terdesak-desak”
Dan benar saja, kereta sangat penuh pagi itu.

Tempat duduk yang ada seakan tidak mampu untuk menampung para penumpang yang terus berdatangan. Untunglah, kami mendapat tempat duduk di gerbong pertama baris kedua.  Aku duduk di tengah, dengan ayah dan ibu mengapit di kedua sisiku.


Aku sangat menikmati perjalanan pagi itu. Sungguh hebat, kami bergerak dengan sangat cepat, dengan pepohonan dikanan-kiri terasa begitu cepat berlalu. Setelah dirasa sudah mencapai kecepatan yang stabil, masinis secara perlahan menaikkan kecepatan kereta hingga kecepatan maksimum.

Sungguh cepat. Melesat seperti kilat. Kini pemandangan di kanan-kiri sudah terasa tak menarik lagi karena saking cepatnya kereta melesat. Aku sangat bahagia. Ini pertama kalinya aku naik kereta dan aku bisa merasakan sensasi tersendiri yang berbeda bila di bandingkan dengan naik mobil. Namun, kegembiraanku hanya sebentar. Orang-orang yang sedang bergelantungan di gerbong luar tiba-tiba ribut sendiri.

“Ada kereta api lain!!! Dari ujung rel sebelah sana ada kereta api lain!!!!”
“Di ujung sana ada kereta api lain !!! Cepat hentikan kereta ini!!!!!!”
“Hentikan kereta ini, bodoh!!! Kau mau membuat kami semua mati konyol ???!!!!
Kami semua yang ada didalam tentu bingung. Terlebih lagi masinis tampak tak mengindahkan permintaan itu. Mungkin, menurutnya semua prosedur perkeretaapian pasti berjalan dengan baik. Tapi rupanya tidak pada pagi itu.

Baca juga:  Bui Akademik

Jess…jess…..jess….jesss…
Suara kereta api yang lain sudah mulai terdengar beradu dengan kereta api milik kami. Aku kontan saja takut. Berarti apa yang dikatakan orang-orang yang bergantungan diluar memang benar. Ada kereta api lain di jalur ini selain kami.

“Ayah, apa benar di jalur ini ada kereta api lain ?”
“Itu tidak mungkin, sayang. Ayah yakin pasti perusahaan kereta api sudah melakukan prosedur dengan baik…kecuali jika….” belum sempat ayah menyelesaikan ucapannya, kami dibuat kaget setengah mati dengan kemunculan kereta api lain dengan arah berlawanan dengan kami di rel yang sama. Orang-orang seketika langsung panik.
“Astaga !!! Kereta api lain !!!”,  Kata Ayah dengan panik.
“Rem keretanya!!!!  rem keretanya sekarang juga!!!!”, orang orang berteriak-teriak dengan panik.

Ciiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttt    ciiiiitttt             ciiiitttttttttttttt   ciiitttttt

Suara kereta yang sedang direm langsung terdengar dengan nyaring. Kedua kereta berkecepatan tinggi itu berusaha sekuat tenaga untuk direm. Sedangkan kami sebagai penumpang hanya bisa khawatir apa hal ini akan berhasil mengingat jarak kedua kereta yang sudah sangat dekat. Jaraknya sudah sangat dekat dan semakin dekat. Ayah dan ibu tiba-tiba saja memelukku dengan sangat erat.

Dan akhirnya
Druak!!!!!
Tabrakan pun tak terelakan. Kedua kereta berkecepatan tinggi itu tidak berhasil dihentikan oleh rem. Gerbong-gerbong saling bertabrakan. Tabrakan itu sungguh dahsyat dan menghancur leburkan semuanya.

Semuanya hancur tanpa sisa. Kulihat mayat bergelempangan dimana-mana. Bau amis langsung menyeruak ke udara. Kulihat Ayah dan Ibu sudah menutup mata, mungkin untuk selama-lamanya. Aku menangis. Tapi aku tak bisa bangun untuk melihat keadaan mereka karena tubuhku tertimpa reruntuhan gerbong. Aku meringis kesakitan. Darah mengucur deras dari kepalaku. Aku merasa pusing, dan akhirnya aku tak mampu menahan diriku untuk menutup mata. Saat aku menutup mata, aku berharap bisa bertemu lagi dengan ayah dan ibu, walau mungkin di dunia yang lain.
*

Aku akhirnya terbangun. Aku kaget saat mengetahui bahwa aku terbangun di kamarku sendiri. Kulihat jam dinding di kamarku, waktu subuh!!! Aku benar-benar tidak percaya, masih teringat jelas dalam pikiranku bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan. Segalanya terasa nyata dan aku yakin itu bukan mimpi. Aku bahkan masih merasa pegal dan memar Segera aku keluar kamar dan mencari ayah dan ibu.

“Ayah! Ibu! “, aku berteriak.
“Disini, ruang makan.”, jawab ibuku.

Aku berlari ke ruang makan. Aku tak akan melewatkan kesempatan ini. Aku yakin aku ini masih hidup di dunia ini.

Aku memang melihat mereka berdua di meja makan. Tapi tampaknya mereka sedikit berbeda dengan orang tua yang selama ini aku kenal. Wajah mereka pucat dengan tatapan kosong dan tanpa senyum.

“Ayo, sarapan. Kereta sudah menunggu.”, kata ibuku datar.
Aku merasa sedikit aneh. Tak biasanya ibu bersikap sedingin ini. Ayah juga. Mukanya pucat dengan ekespresi datar serta tatapan yang kosong.

“Ayah dan ibu sedang sakit? Kalau sakit, Ade akan ambilkan obat.”
“Tidak usah. Ini tidak perlu diobati. Ayah sudah merasakan sakit yang jauh melebihi ini.”
“Apa maksud ayah? Rasa sakit sebelum ini?? Apa maksudnya?”, tanyaku penasaran. Aku langsung teringat dengan kejadian kecelakaan barusan yang terasa sangat nyata.
“Sudahlah, kita ke stasiun sekarang. Kereta sudah menunggu.”, kata Ibu.
“Tapi, aku perlu siap-siap dulu, Bu. Sebentar saja, oke?”, tawarku.
“Tak usah. Tak perlu siap-siap segala. Kereta sudah menunggu.”, potong ayahku.

Baca juga:  Rojabi

Akhirnya, dengan terpaksa, aku berangkat tanpa mandi dan bersiap-siap. Aku hanya berganti pakaian dan membawa barang seperlunya saja. Kami tiba di stasiun pagi sekali. Setelah mengurus segala keperluannya,  kami tinggal menunggu jadwal keberangkatan kereta. Tiba-tiba, ayah menyuruhku membeli koran. Aku kaget, ini sama persis dengan kejadian yang terasa sangat nyata bagiku tadi malam. Segalanya begitu sama. Aku yakin ini pasti ada kaitannya. Apalagi orang tuaku menjadi bersikap dingin dengan muka pucat dan tatapan kosong bak mayat hidup.

“Sana, beli koran. Ayah mau baca koran.”, kata ayah sambil menyerahkan uang.
“Beli di penjaja yang itu saja.”, tunjuk ibu sambil menunjuk salah seorang anak penjaja koran.  Aku langsung kaget. Itu penjaja koran yang sama dengan yang pernah aku temui sebelumnya !
Segera aku hampiri dia. Tampaknya dia juga sedang kurang sehat. Wajahnya pucat tanpa senyum dengan tatapan kosong persis seperti ayah dan ibuku.
“Mas, korannya satu.”, kataku hati-hati. Jujur saja, aku tak nyaman dengan ekspresinya, sama dengan aku tidak nyaman dengan ayah dan ibuku.
“Ini.”, katanya datar sambil menyerahkan satu koran padaku.
“Kita pernah bertemu sebelumnya, kan mas ? Saya yang beli koran waktu itu! Ingat, tidak ?”
“Kita memang pernah bertemu dan mbak pernah beli koran pada saya. Tapi, mulai saat ini, kita akan terus bertemu dan mbak akan terus membeli koran kepada saya.”
Aku tidak begitu paham maksud perkataannya. Aku tak ingin membahas masalah ini lebih lanjut. Jujur saja, aku mulai takut dengan semua ini.
“Berapa, Mas?”, tanyaku.
“Tidak usah dibayar.”
“Kok, tidak usah dibayar ? Nanti mas rugi. “
“Ya, tidak apa-apa. Aku lagi kasih diskon aja. Aku pesan, hati-hati naik kereta api itu.”
“Kenapa aku harus berhati-hati ?”, tanyaku heran.
“Karena kamu sudah mengalami hal ini berkali-kali.”
“Tunggu…apa maksudmu…? Aku tak mengerti.”
“Memang kau belum mengerti. Tapi ada saatnya kau nanti pasti akan mengerti.”
Belum sempat aku menanggapi perkataannya, ayah memberi kode bahwa kereta api yang akan kami tumpangi akan segera berangkat. Aku menjadi was-was.Tiba-tiba saja, aku merasa enggan untuk menaiki kereta api itu.
“Ayah, kita batalkan saja jadwal keberangkatan ini. Perasaanku tidak enak.”, kataku.
“Tidak akan ada apa-apa. Kita juga sudah mengalami hal ini berulang kali.”, kata ayah datar.

Aku heran. Sikap kedua orang tuaku pagi ini sangat datar. Mereka, bagiku tampak seperti orang asing. Aku makin kaget ketika melihat kenyataan bahwa penumpang kereta pada pagi itu sangat banyak. Kereta jadi penuh sesak. Yang lebih menakutkan bagiku, ekspresi mereka semua sama dengan kedua orang tuaku dan penjual koran tadi, datar dengan tatapan kosong.

Kereta mulai berjalan, aku merasa tak nyaman. Rasanya, aku naik kereta dengan para patung. Mereka semua, termasuk kedua orang tuaku, hanya duduk membisu saat perjalanan kereta. Tak ada perbincangan sama-sekali di dalam kereta ini. Sungguh, ini seperti kereta mati. Aku menjadi amat gelisah ketika tiba-tiba seorang ibu muda bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan kami semua di gerbong satu.

Baca juga:  Pulanglah

“Saudara-saudara sekalian, seperti yang kita tahu kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan karena sebentar lagi kita akan mengalami kecelakaan. Jadi, bersiaplah! Bersiaplah! “, katanya dengan berapi-api.
Aku ketakutan. Tapi orang-orang disekitarku seakan tak peduli. Mereka semua tetap duduk mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Saudara-saudara sekalian, seperti yang kita tahu kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan karena sebentar lagi kita akan mengalami kecelakaan. Jadi, bersiaplah! Bersiaplah!”, dia mengulanginya lagi
Aku makin ketakutan. Ku genggam tangan ayah dan ibu. Dingin. Dingin sekali tangan kedua orang tuaku. Seperti bukan manusia saja.
“Ayah! Apa maksudnya perkataan ibu yang didepan itu? “
Ayah hanya melirik sedikit sambil menjawab lirih, “Tidakkah kau mengerti? Kita sudah mengalami hal ini berulang kali. Kita tidak pernah sampai ke tempat kakek dan nenek.”
“Benarkah itu? Kita sebenarnya tidak pernah sampai ke tempat kakek dan nenek.”
“Benar, dan kejadian ini seolah selalu terulang pada kita, para korbannya.”, ibuku menyela.
Suara ibu muda yang di depan terdengar lagi.
“Saudara-saudara sekalian, seperti yang kita tahu kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan karena sebentar lagi kita akan mengalami kecelakaan. Jadi, bersiaplah! Bersiaplah! “
“Bersiaplah! Sebentar lagi kita akan kecelakaan. Ayah dan ibu berharap kamu kali ini akan siap. “

Aku mengangguk sambil menelan ludah. Kulihat dari arah berseberangan sudah muncul kereta lain yang berlawanan arah dengan keretaku. Aku menghela nafas dan memejamkan mata. Berusaha menikmati saat-saat terakhirku. Mulai saat ini aku mungkin akan menghadapi takdirku, yaitu mengalami kejadian ini secara berulang seumur hidupku, walau sebenarnya mungkin aku sudah mati sejak lama.

Sekali lagi, suara perempuan muda itu terdengar olehku.
“Saudara-saudara sekalian, seperti yang kita tahu kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan karena sebentar lagi kita akan mengalami kecelakaan. Jadi, bersiaplah! Bersiaplah! “
Tapi kali ini aku tak menggubrisnya. Sambil memejamkan mata, aku berusaha untuk tenang menghadapi kecelakaan kali ini dan bertepatan dengan itu semua, kedua kereta bertabrakan dengan sangat dahsyat. Sangat dahsyat, walaupun aku tahu, aku merasa sudah pernah merasakan ini semua. Semua ini seakan terjadi berulang-ulang. Kereta kami hancur total, atap gerbong runtuh menimpaku, persis seperti kejadian kecelakaan sebelumnya. Kulihat kedua orang tuaku sudah memejamkan mata.

Aku melihat sekeliling. Mayat-mayat manusia bergelimpangan tak beraturan. Bau amis menyeruak ke udara.Yang masih hidup terus mengerang kesakitan menahan perih yang dirasakan. Aku hampir menangis. Luka di kepalaku terasa menyakitkan. Kemudian secara perlahan mataku terasa berkunang-kunang sebelum terpejam untuk selamanya.
*

Aku terbangun di kamarku. Saat kulihat ternyata waktu masih menunjukkan waktu subuh. Aku ingat, hari ini kami sekeluarga akan naik kereta api jurusan Tanah Abang- Stasiun Merak. Aku segera menyiapkan diri. Menyiapkan diri untuk menghadapi kenyataan bahwa kini hidupku hanya untuk mengulang kejadian yang sama. Kenyataan bahwa kini alamku bukan lagi di alam nyata, tapi mungkin sudah di alam yang berbeda. Namaku Ade, dan mulai saat ini aku adalah salah satu penghuni abadi gerbong maut itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here