Gagal Move On Itu Sombong

0
522

Oleh: Fia Maulidia

“Gamuv”, Gagal Move on. Istilah trendy yang paling sering dijadikan sambatan. Mulai perkara mantan sampai kampus impian atau bahkan pekerjaan. Tulisan ini bukan dari pakar jiwa ataupun ahli cinta. Jadi ke bawah nanti nggak ada kaitannya sama sekali dengan drama jambu asmara.

Januari ini saya berkesempatan sowan ke Tambakberas, tanah di mana dulu saya mengenyam pendidikan pesantren. Sabtu pagi, 11 Januari 2020, saya sowan menemui salah satu ustadz saya ketika di Madrasah Diniyah. Duduk bersama saya dan teman teman lain di Gazebo MA Unggulan Wahab Hasbullah, dengan secangkir kopi hitam. Ustadz Mustaufikin menjawab satu persatu sambatan kami.
***

Mengutip pendapat seorang Mursyid Thariqah Qudusiyah, yang juga dosen Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB), Zamzam A.J. Tanuwijaya. Tentang tafsiran surat Al A’raf ayat 17:

“Kemudian pasti aku (Iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari depan, belakang, kanan, dan arah kiri mereka. Dan Engkau (Allah) tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.

Jika kita baca ayat sebelumnya, ayat ini berkaitan dengan janji dan tujuan utama Iblis untuk menyesatkan manusia sebab rasa iri dan sombong yang ada padanya. Menyesatkan dari arah depan, ditafsirkan oleh Zamzam sebagai masa depan.

Baca juga:  Wahab: Kenapa Perlu berbisnis?

Bagaimana bisa iblis, setan menjerat manusia dengan masa depan? Contoh paling sederhana yang saat itu saya temui adalah cerita dari Ust. Mus mengenai salah satu peserta didiknya yang tidak mau belajar, merasa tak punya harapan karena rencana yang sudah ia susun menjadi berantakan sebab satu keputusan orang tuanya.

Terlenakan oleh angan-angan masa depan, ketakutan, kekhawatiran, akan membuat kita melupakan satu hal yang sangat penting. Yaitu masa ini, masa sekarang.

Selanjutnya dari arah belakang, ditafsirkan oleh Zamzam dengan masa lalu. Menjerat dari masa lalu, bahasa kerennya “Gagal Move on“.

Orang galau pasti karena masa lalu atau masa depan. Tentang Universitas Impian yang harus cancel sebab orangtua tak merestui misalkan, atau gagal move on dari kenangan menyakitkan yang akhirnya membentuk pribadi jadi mager, gak semangat, bak lemper gak ada ghiroh. Sehingga kita lupa, ada masa sekarang yang sedang disia-siakan. Karena kebiasaan saja sehingga kita merasa memiliki 1 jam ke depan.

Padahal, hakikatnya kita tak pernah tau secara pasti apa yang akan terjadi kemudian. Bahkan setelah anda membaca tulisan ini anda sendiri tak pernah tau pasti apa yang akan terjadi. Bisa saja tiba-tiba ada yang melamar? Atau tiba-tiba hujan turun menghancurkan rencana jalan bersama doi.

Baca juga:  Seminar Tahun Falak Expo, HMJ Ilmu Falak UINSA Jadi Peserta

Larut dalam masa lalu juga demikian, okelah boleh kita sedih dan terpuruk. Tapi jangan terus-terusan. Sebab jika stuck pada titik itu, ketahuilah sesungguhnya tak hanya masa sekarang yang kita sia-siakan, tapi juga sombong pada Tuhan.

Selaras dengan dawuh Gus Baha’ dalam salah satu pengajian nya, “ilig-iling duso iku sombong”. Dalam memaknai ucapan ini hal yang perlu diperhatikan adalah, Thariqah yang dipegang oleh Gus Baha’ adalah Syadziliyah. Imam abu Hasan As syadzili.

Dalam hal ini Imam Syadzili bukanlah Ulama yang fokus pada mengingat-ingat dosa untuk memperbaiki diri. Sebab menurut beliau, jika terlalu memikirkan dosa kita tidak bisa mengingat dan berfikir apa yang telah Allah berikan pada kita. Sehingga seakan-akan, hidup kita ini isine elek tok, raonok apik e. 

Padahal Allah itu Rahman Rahim, kasih dan cintanya melebihi cinta makhluk pada Tuhannya. Padahal nikmat Allah itu tak terbilang sebagaimana berkali-kali dijelaskan dalam banyak ayat Al Qur’an.

“Sombong” dalam ucapan Gus Baha’ dijelaskan oleh Ust. Mus dengan kalimat sederhana “Kalau kita terlalu sering mengingat dosa, kita tidak akan bisa mengingat Nikmat Allah yang diberikan kepada kita.”

Baca juga:  Kemandegan Berfikir Merupakan Kemunduran Islam

Secara tersirat, terus-terusan stuck dalam kenangan, gak bisa move on, gagal move on, membuat kita menafikan banyak nikmat yang hadir setelah kesakitan. Hati dan akal kita terus penuh oleh penyesalan, kekecewaan, sampai lupa kalau setiap hari masih bisa bernafas dan diberikan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.

Minjam dari bang Tere-Liye kalau: tak pernah manusia memahami keadilan Tuhan secara sempurna. Karena se menyakitkan apapun yang dirasakan, hidup harus terus berjalan. Dengan sedikit perubahan, saya mengutip ucapan Ust. Mus untuk menutup tulisan ini.

Manusia paling bijak adalah ia yang paling baik memanfaatkan masa kininya tanpa terjerat masa lalu dan tidak terlena angan-angan masa depan
Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here