Gaduh Banjir Jakarta

0
122
Potret anak di tengah banjir Jakarta / sumber: Liputan6.com

Oleh: Haidar Latief

Baru-baru ini telah kita ketahui jika ibu kota kita kedatangan tamu rutin, tamu yang tidak diharapkan kedatanganya, setiap tahun selalu ada upaya untuk menolak kedatanganya, namun sampai saat ini masih belum maksimal. Sialnya, kedatangan tamu itu pada waktu yang tidak tepat, di saat kota-kota, bahkan negara lain merayakan suka cita tahun baru, penduduk Jakarta harus melapangkan dada atas apa yang sedang didapatnya.

Tamu itu adalah banjir. Banjir selalu menjadi langganan untuk mampir ke ibu kota, kebetulan banjir tahun ini mempunyai perhatian lebih dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, karena dianggap yang paling parah, sudah tersebar di sosial media bagaimana gambaran kedahsyatan banjir tahun ini, banyak sarana pribadi dan publik yang menjadi korban.

Yang unik penulis mendapati curhatan seorang di media sosial Twitter jika dirinya terkena banjir dan terjebak di lantai 2 rumahnya, dirinya sudah menghubungi berbagai pihak yang berwenang, namun semuanya tidak ada jawaban (mungkin sedang sibuk mengevakuasi di lain tempat), orang itu berkata, “gini ya rasanya nggak makan 33 jam” yang ditulis dalam gambar yang diuploadnya. Hati saya terketuk mendapati orang yang bernasib seperti itu.

Saling menyalahkan

Dikutip dari Detik.com bahwa, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, data terakhir korban jiwa yang meninggal dunia sampai hari Jum’at kemarin total ada 43 orang, mulai dari terseret arus hingga tertimbun longsor.

Melihat dampak banjir yang menyebabkan kerugian banyak pihak, wajar jika mayoritas orang menyalahkan pimpinan Jakarta, mereka berlomba-lomba menjatuhkan dan saling mencari kesalahan. Ada pula yang menyinggung pemimpin sebelumnya yang tidak tuntas dalam penanganan kasus banjir Jakarta.

Padahal mereka pasti sudah memikirkan teori dan mempraktikanya ke lapangan, kita juga perlu introspeksi, jangan-jangan banjir yang ada saat ini disebabkan kesalahan kecil yang rutin kita lakukan. Apakah banjir Jakarta akan selesai dengan saling menyalahkan? tentu saja tidak. 

Karl Raimund Popper dalam teori Falsifikasinya terdapat teori problem-solving yang diajukan oleh Popper, bahwa setiap teori, gagasan, atau tindakan merupakan langkah penyelesaian masalah tertentu. Suatu teori bersifat tentatif, suatu teori yang diusulkan tentu mendapatkan banyak kritik dan tantangan untuk menguji teori tersebut yang bertujuan agar mengetahui di mana letak kesalahan dan apa yang pelu diperbaiki dan untuk mengukur sejauh mana efektifitas dari teori tersebut tentu perlu tindakan nyata.

Untuk menghasilkan teori tentu butuh observasi lapangan dan pengalaman sebagai dasar dalam membuat teori atau pernyataan, menurut Popper observasi lapangan saja belum cukup untuk membuat teori, karena observasi belum tentu sempurna, observasi dapat membawa ke satu kesimpulan yang salah jika tidak dibenturkan dengan prasyarat lain yaitu uji kesalahan (falsifiable) atau uji keshahihan (testable), hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas teori.

Skema metode problem solving dapat diuaraikan dengan problem awalteori yang ditawarkanuji kesalahan atau uji kesahihan-teori baru hasil dari evaluasi kritis.

Maka dalam kasus banjir Jakarta kita dapat meniru teori Falsifikasi dari Popper dengan kita melakukan observasi atau pengamatan lapangan yang diharapkan dapat memunculkan teori yang ditawarkan, kemudian masuk kepada pra syarat teori. Tentu dalan uji kesalahan teori ini perlu dilakukan praktik agar kita dapat mengetahui dimana letak kesalahanya, kemudian kita coba teori baru lagi lewat evalusi kritis yang dihasilkan dari uji kesalahan tadi. Jika masih ada yang perlu diperbaiki maka harus dilakukan terus sehingga pada akhirnya menjadi teori yang dapat mengatasi suatu problem.

Pada dasarnya ilmu bersifat tentatif sehingga terbuka bagi siapa saja yang ingin melayangkan kritik karena akan ada asumsi baru yang siap merevisi ilmu tersebut sebagai alat penguji kelayakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here