Fatima Mernissi: Perempuan Itu Setara Dengan Laki-Laki

0
213

Oleh: Andi Evan

Justisia.com – Fatima Mernissi adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memperjuangkan bagaimana memahami Islam dengan konsep kekinian. Ia berbicara banyak melalui tulisan-tulisannya tentang cara pandang Islam terhadap perempuan yang setara dengan laki-laki. Ia juga mengkritik banyak pemaknaan teks-teks Islam yang lebih mendukung budaya patriarki (budaya yang menindas perempuan).

Perempuan asal Maroko ini lahir pada tahun 1940-an. Budaya Timur Tengah yang membatasi ruang gerak perempuan saat itu membangunkan semangatnya dalam perjuangan memahami Islam yang memandang bahwa perempuan dan laki-laki itu setara secara gender. Ia adalah seorang sosiolog dan dosen di Universitas Muhammad V. Perempuan yang merupakan salah satu pemerhati feminis dari kalangan Islam.

Pertanyaan, “Apakah Islam memandang perempuan itu memang benar sedemikian rupa atau itu hanyalah bagian dari penafsiran-penafsiran manusia yang juga dipengaruhi budaya sekitarnya ?”. Berangkat dari pertanyaan dan kegelisahan semacam inilah yang kemudian sedikit banyak mempengaruhi pemikiran Fatima Mernissi.

Prihatin terhadap budaya dalam Islam yang banyak meminggirkan perempuan bukan berarti ia secara serta merta menerima Modernisasi dari Barat. Hal ini (Modernisasi Barat) juga merupakan salah satu kegelisahan Fatima Mernissi. Maroko yang merupakan bagian dari daerah penjajahan Perancis juga memperkuat pengaruh tersebut. Ini terdapat dalam bukunya, “Islam dan Demokrasi”

Baca juga:  Infeksi Corona dan Ekonomi Global

Pemahaman tentang teks yang meminggirkan perempuan banyak dikritisi termasuk hadits-hadits yang berasal dari Abu Hurairah. Terlepas dari banyak kritik terhadap Fatima Mernissi. Jika ditelusuri kritiknya ini akan bermuara pada pendapat Aisyah, salah satu istri Rasulullah SAW, yang berkata bahwa, “Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadits  kadangkala tidak lengkap.” Penafsiran yang keliru ini yang kemudian menjauhkan hadits dari makna dan nilai yang sesungguhnya dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini dibahas dalam buku Fatima Mernissi yang berjudul, “Ratu-ratu yang terlupakan”.

Seperti hadits yang secara makna berbunyi, “Bahwa negeri yang dipimpin seorang perempuan itu tidak akan maju.” Jika dipahami bahwa melalui hadits ini perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin, maka hal itu seakan-akan menggambarkan bahwa perempuan tidak pantas dan bisa memimpin. Padahal di dalam Al-Qur’an pun terdapat ayat yang mengakui kepemimpinan seorang perempuan (Ratu Balqis dalam kisah Nabi Sulaiman). Akan tetapi, jika dilihat secara historis, bahwa Nabi menyebut hal itu sebagai gambaran Kekaisaran Persia pada zaman itu.

Baca juga:  AJI Semarang Gelar Diskusi Media Online

Kekaisaran Persia yang dulu menolak beriman dan tidak menghargai surat-surat dari Nabi, kemudian kehilangan pemimpinnya. Diantara para penerusnya lalu berebut kekuasaan yang nantinya didapatkan oleh anak perempuannya. Negeri itulah yang sebenarnya menjadi gambaran pada teks hadits di atas. Bukankah pemahaman yang kedua ini akan lebih sesuai terkait kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Kedua, bahwa secara filosofis hadits-hadits misogini (yang meminggirkan perempuan) bertentangan dengan semangat egalitarianism yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Lelaki dan perempuan itu memiliki hak yang sama secara politik, ekonomi dan sosial. Relasi antar laki-laki dan perempuan sangat dipengaruhi oleh hadits-hadits seperti ini. Termasuk di banyak hal yang dekat dengan kita, seperti pengaruh kiai-kiai di pesantren yang lebih dominan dibanding yang nyai-nyai. Pembahasan ini bisa ditemukan di bukunya, “Equal Before Allah”.

Fatima Mernissi kemudian menawarkan bahwa teks mestilah dibaca lebih luas dengan melihat sosio-historis dan mempertimbangkan tidak hanya matan-matan dari sebuah teks, tapi juga muatan-muatan (nilai-nilai) apa saja yang dibawanya. Sehingga teks lebih bisa dipahami secara dinamis dan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat dan nilai yang terdapat dalam teks.

Baca juga:  UKT Dalam Forum Diskusi

Ungkapan bahwa islam itu sesuai dengan segala kondisi zaman dan tempat, Sholihu likulli zaman wa makan. Teks akan tetap seperti itu, yang akan membuatnya dinamis adalah pembacaan-pembacaan baru terhadap teks tersebut.

Perjuangan terhadap kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang dipandang dari sudut Islam telah dibuka oleh Fatima Mernissi. Bahwa pemaknaan-pemaknaan yang seringkali menyudutkan perempuan tidaklah sesuai dengan nilai yang sebenarnya dibawa Islam. Islam menjunjung tinggi nilai keadilan. Maka Pembacaan terhadap teks yang lebih adil haruslah terus dilakukan. Jika ketika membaca dan memaknai teks agama saja belum adil, bagaimana mungkin kita bisa mengamalkan ajaran agama itu secara adil ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here