Farid Esack: Teolog Islam Pembebasan

0
118

Justisia.com– Farid Esack dilahirkan pada tahun 1959 di sebuah perkampungan kumuh dan miskin di Cape Town, Wynberg, Afrika Selatan. Esack hidup dengan seorang ibu yang ditinggal suaminya bersama enam orang anaknya di Wynberg. Ayahnya meninggalkan keluarganya yang mengharuskan ia bersama saudara kandung dan saudara seibu hidup sengsara di Bonteheuwel, kawasan pekerja miskin untuk orang hitam dan kulit berwarna. Ibu Esack kemudian memerankan posisi ibu sekaligus ayah yang harus mencari nafkah hidup bagi enam orang anak yang masih kecil-kecil.

Di tengah kehidupan ekonomi yang tidak memadai, Esack masih sempat mengecap dan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Bonteheuwel, Afrika Selatan. Pada waktu itu, ia memperoleh pendidikan berdasarkan pendidikan nasional Kristen.

Sepulang dari Pakistan, Esack mengubah pandangan teologisnya yang berawal dari konservatif menjadi moderat. Saat itulah dia sering mangkir dari pertemuan Jamaah Tabligh dan sering mengikuti diskusi di Gerakan Pelajar Kristen (Breakthrough).

Dirinya juga aktif di Jamaah Tabligh, sebuah organisasi keagamaan yang memiliki jaringan internasional dan berpusat di Pakistan. Aktifitasnya di Jamaah Tabligh inilah yang membawanya menuntut ilmu menuju Pakistan untuk meneruskan studinya di Jami’ah Ulum al-Islamiyah. Di sinilah ia memperoleh gelar maulana.

Baca juga:  Eufimisme Pemblokiran Laman Dewasa

Sepanjang aktivitas yang Esack lakukan, dia mendapat kecaman dari kelompok Konservatif Islam melalui tabloid Majlis yang mengumandangkan kebencian dan pertentangan pada mereka yang bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Kristen atas nama pluralisme. Tidak lupa mereka juga menambahkan dalil-dalil Qur’an.

Hal inilah yang mendorong Esack untuk mempelajari al-Qur’an dan Injil. Ia sangat penasaran mengapa kitab suci seringkali digunakan untuk melegitimasi penindasan dan ekslusivisme dengan adanya penafsiran-penafsiran sempit.

Dalam bukunya yang berjudul Qur’an, Liberation, and Pluralism: An Islamic Prespective of Interreligious Solidarity against Opression, Farid Esack memetakan dua kelompok yang membaca al-Qur’an yaitu Insider dan Outsider. Kelompok insider itu ada Ordinary Muslim, Confessional Muslim Scholars, Critical Muslim Scholars. Kelompok outsider diantaranya Participant Observers, Revisionist dan Polemicist.

Pertama, The uncritical lover atau Ordinary Muslim. Muslim yang di kategori ini membaca Qur’an hanya sebatas formalitas saja. Tanpa memahami maknanya bagi mereka Qur’an juga menjadi obat hati. Kedua, Confensional Muslim Scholars. Pembaca tipe ini para sarjana muslim pemerhati kajian Islam yang mencoba menjadi penjaga Qur’an agar tidak rusak. Ketiga, The Critical Muslim Scholars. Para sarjana Islam yang melakukan kajian al-Qur’an secara kritis dengan pendekatan-pendekatan sosial. Keempat, Participant Observers atau Friend of Lover. Kategori ini diperuntukan pada para peneliti luar Islam yang mengkritisi Qur’an dan memberikan kontribusi. Kelima, Revisionist. Para pembaca ini adalah peneliti luar Islam yang hanya ingin mengkritisi secara subjektif untuk mencari kelemahannya saja. Tapi mereka juga mengakui kelebihan dari Qur’an secara ilmiah. Keenam, Polemicist. Pembaca tipe ini mengkaji Qur’an hanya untuk dicari kelemahannya seolah-olah Qur’an itu isinya salah semua.

Baca juga:  Tunda Wisuda, Demi Kemaslahatan Bersama

Farid Esack juga menuliskan pentingnya tentang pluralisme. Hal ini didasarkan pada Qur’an surat al-Hujurat :13. Tumbuhnya gerakan pluralisme ditandai dengan adanya semangat pembebasan bagi kaum yang tertindas. Munculnya perpecahan karena faktor kepercayaan dan membuat kelompok segregatif atas dasar agama merupakan masalah untuk terciptanya lingkungan yang pluralitas. Menurut Esack, barangsiapa menentang pluralisme berarti ia menentang kehendak Tuhan. Begitu pentingnya menjalin solidaritas antar agama untuk pembebasan.

Rahemtulla menyebutkan Farid Esack dikategorikan sebagai Islamic Liberation Theology atau Teolog Islam Pembebasan. Maksudnya dia ingin menjadikan agama sebagai spirit untuk melakukan pembebasan terhadap kelompok marginal. Kemanusiaan itu menjadi concern teologi pembebasan jadi, teologi ini bisa jadi kerangka alternatif solidaritas umat beragama. Beliau juga dikenal sebagai Theolog from the Margins. Karena dia berpendapat bahwa Tuhan itu memiliki nama-nama yang indah.

Dari keseluruhan pemikiran Farid Esack bisa disimpulkan bahwa kesalehan seseorang itu akan diukur oleh sejauh mana komitmennya membebaskan yang tertindas.

Penulis: Safrina
Editor: Hikmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here