Falsafah Etimologi Pendidikan Menurut Fahrudin Faiz

0
397
Website | + posts

Oleh: Fajri

(Disarikan dari materi filsafat pendidikan yang disampaikan oleh Dr.H.Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. dalam seminar online Nasional #Filsafat Pendidikan)

Justisia.com – Jika kita ingin mempelajari sesuatu kita harus mempelajari dasarnya terlebih dahulu. Begitupun dalam mempelajari filsafat, dalam filsafat pendidikan sendiri dasar yang harus kita fahami terlebih dahulu adalah memahami aspek etimologi pendidikan. Etimologi secara bahasa berarti cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna. Jadi, etimologi pendidikan berarti kita memahami pendidikan ditilik dari asal-usul kata pendidikan itu sendiri.

Dalam fisafat barat, orang Barat memahami pendidikan dengan 3 terminologi yaitu Learning, Studying/Educating, dan Training. Learning merupakan aktifitas mental yang berlangsung dalam diri manusia sebagai hasil interaksi aktif dengan lingkungan sekitarnya.

Tujuan dari learning adalah terciptanya perubahan tingkah laku pada diri manusia baik itu pengetahuan, sikap, atau keterampilan. Setiap orang sebenarnya menjalani proses learning ini, karena siapapun pasti berdialektika dengan lingkungan sekelilingnya.

Jika dialektika ini dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku baik itu pengetahuan yang meningkat, sikap yang semakin baik, atau keterampilan yang bertambah maka orang itu telah melakukan proses learning. Contoh mudahnya seperti kita beli handphone kemudian kita belajar cara mengoperasikannya ini sudah merupakan learning.


Studying/Educating secara mudah dapat kita pahami sebagai proses learning yang dilakukan secara sengaja, terstrukur dan sistematis. Jika dalam proses learning semua orang secara otomatis melakukannya tapi dalam studying tidak semua orang melakukannya. Sedangkan pengertian dari training adalah studying yang dilakukan untuk kebutuhan tertentu yang sifatnya praktis. Sistem pendidikan di Barat selalu memperhatikan ketiga etimologi di atas.


Selanjutnya kita akan membahas dasar etimologi pendidikan dalam konsep agama Islam. Dasar pendidikan dalam islam etimologinya ada 3 istilah yaitu Ta’lim/Tadris, Tarbiyah, dan Ta’dzib. Ta’lim/Tadris merupakan jenis pendidikan yang fokus pada penanaman pengetahuan. Dengan batasan hanya sekedar menanamkan pengetahuan dan menambah wawasan. Dari konsep Ta’lim/Tadris ini diharapkan seseorang akan berubah seiring dengan bertambahnya pengetahuan yang ditanamkan pada dirinya.


Dalam konsep Tarbiyah manusia diasumsikan sudah memiliki potensi-potensi kecerdasan dan potensi-potensi kebaikan dalam dirinya. Sehingga, sistem Tarbiyah ini hanya fokus pada mengaktualkan potensi yang sudah ada dalam setiap diri manusia atau dalam istilah jawanya disebut dengan momong.


Sedangkan Ta’dzib sendiri dapat diartikan sebagai pembentukan karakter. Dimana secara harfiah Ta’dzib berarti memberadabkan/mengadabkan. Fokus dari pada konsep Ta’dzib adalah pembentukan karakter, jadi tidak sekedar mengaktualkan potensi manusia, tapi membentuk potensi manusia agar sesuai dengan karakter ideal yang diinginkan.


Tiga etimologi pendidikan dalam Islam ini mewakili tiga aliran besar dalam filsafat pendidikan yaitu aliran behaviorisme, dimana dalam filsafat pendidikan behavorisme ini melihat bahwa manusia itu tergantung dari apa yang dimasukkan ke dalam dirinya. Kalau dimasukkan ajaran-ajaran moral kebaikan maka, hidupnya akan baik dan sebaliknya jika dimasukkan ajaran-ajaran moral yang buruk maka hidupnya akan buruk pula.


Konsep dari aliran behaviorisme ini mirip dengan paradigma ta’lim. Dimana ta’lim itu mengasumsikan bahwa dengan bertambahnya pengetahuan seseorang maka kelakuannya akan semakin baik dan wawasannya semakin bertambah atau secara sederhananya apa yang dimasukkan itu yang akan keluar.


Yang kedua adalah aliran humanisme, humanisme ini sama dengan paradigma tarbiyah diatas. Dimana humanisme ini melihat bahwa manusia itu lahir sudah mempunyai potensi-potensi dalam dirinya, sudah terkandung banyak wawasan-wawasan kebenaran. Dimana, jika wawasan/potensi yang dimilikinya ini dituntun dengan benar maka semua potensi tersebut akan terwujud dan keluar. Sederhananya dalam humanisme ini pendidikan berarti mengaktualkan bakat dan minat anak didiknya.


Selanjutnya, paradigma Ta’dzib dalam filsafat pendidikan Islam berhubungan dengan aliran konstruktifisme, aliran ini mengartikan manusia itu dibentuk tidak sekedar ditunggu seperti dalam aliran humanisme atau dipengaruhi seperti aliran behaviorisme, tetapi manusia itu punya daya kreatif, maka bentuklah karakternya biarkan dia belajar dan menciptakan karakter sesuai dengan keinginanya. Intinya adalah pembentukan karakter diri.


Inilah dasar pengertian pendidikan secara etimologi. Setidaknya dengan ini kita tahu bahwa antara learning, studying/educating, dan training atau antara ta’lim/tadris, tarbiyah, dan ta’dzib itu berbeda.

Baca juga:  Diskursus Demokrasi: Antara Islam dan Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here