Eksistensi Santri Di Era Globalisasi

0
119
Website | + posts

Justisia.com – Keberadaan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari bingkai perjuangan kaum santri. Kehadiran santri mengambil andil besar dalam mengobarkan semangat rakyat dalam menanamkan rasa nasionalisme. Bahkan, jauh sebelum Budi Utomo menggelorakan semangat nasionalisme, santri sudah terlebih dahulu melakukan itu. Melalui kontribusi dan sumbangsih yang besar tidak salah jika pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai hari santri nasional sebagai wujud penghargaan.

Santri telah banyak memberikan warna bagi kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini. Walaupun hal tersebut tidak tercatat dalam sejarah nasional, sehingga banyak generasi bangsa yang tidak mengetahui sepak terjang santri di negeri ini. Hal ini tidak lain disebabkan karena adanya distorsi nilai sejarah yang dilakukan kolonial dalam memarginalisasikan umat Islam di Indonesia. Pola tersebut berdampak pada munculnya paradigma masyarakat yang salah terhadap santri. Seringkali, sebagian masyarakat menganggap santri sebagai pelaku terorisme, radikalisme, dan kaum tertinggal.

Anggapan tersebut tidak lain dilakukan sebagai upaya menghilangkan eksistensi santri yang telah begitu banyak memberikan kontribusi terhadap negara. Sehingga dengan demikian, kehadiran santri di negeri ini tidak perlu dikhawatirkan dan diragukan lagi, terutama hal yang berkaitan dengan rasa nasionalisme. Karena tidak sedikit para pejuang pendiri bangsa Indonesia hadir dari kalangan santri. Sebut saja, Pangeran Diponogoro, Imam Bonjol, KH. Saifuddin Dzuhri, KH. Agus Salim, KH. Abdul Wahid Hasyim dan KH. Ahmad Dahlan. Mereka merupakan sebagian santri yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap negeri.

Tidak salah jika pemerintah melalui presiden Jokowi mengeluarkan keputusan Nomor 22 tahun 2015 menetapkan 22 Oktober sebagai hari santri nasional. Melihat dedikasi dan kontribusi santri yang begitu banyak di bumi pertiwi. Tentunya, kebijakan tersebut menjadikan santri harus senantiasa berkarya dan melakukan inovasi baik dibidang ilmu pengetahuan agama dan umum.

Moral of Value
Jika dahulu santri berjuang untuk melawan penjajah dibumi pertiwi, maka kini fase itu telah dilalui. Kini santri dihadapkan dengan fase globalisasi. Sistem dan tatanan kehidupan manusia akan banyak mengalami perubahan. Termasuk dalam hal moral dan kepribadian manusia hadirnya globalisasi disamping membawa dampak yang baik terkadang menghadirkan kerusakan moral genarasi bangsa akibat terjadinya pertukaran budaya. Seperti, pergaulan bebas, narkoba, dan berkata kasar menjadi fonomena yang melanda bangsa Indonesia. Akibatnya, banyak generasi bangsa yang kehilangan masa depannya. Kondisi tersebut tentunya akan berbahaya bagi suatu negara kedepannya.

Melihat fenomena tersebut santri menjadi Moral of Value di tengah kerusakan generasi bangsa yang melanda. Melalui penanaman spiritual yang kuat sebagai pondasi awal menjadi modal dalam menghadapi arus globalisasi. Sehingga santri tetap menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun, tidak kehilangan arah dan indentitas diri sebagai generasi umat dan bangsa. Melalui sistem pendidikan pondok pesantren sangat berhasil dalam filterisasi antara budaya yang sesuai dan budaya yang bertentangan dengan identitas bangsa dan agama.

Prof. Armai Arief, M.Ag, Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan, bahwa pesantren menjadi alternatif permasalahan kerusakan moral yang melanda bangsa Indonesia saat ini. Melalui pesantren akan menghasilkan generasi yang cerdas secara spiritual dan intelektual. Dengan demikian, kehadiran santri akan selalu dibutuhkan di bumi pertiwi.

Modernisasi Santri
Jika dahulu santri diindentikan oleh Nurcholish Madjid dalam bukunya bilik-bilik pesantren sebagai kaum sarungan yang terbelakang, rendah diri, dan hanya menguasai ilmu agama, sehingga setelah lulus hanya menjadi guru ngaji maka label tersebut kini sudah mulai ditinggalkan. Melalui pengembangan lembaga pesantren yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, kini santri sudah mulai berperan diberbagai sektor kehidupan manusia. Mulai dari menjadi menteri, pengusaha, politikus, dosen, bahkan dokter. Sehingga, eksistensi santri tidak akan pudar termakan zaman.

Melalui paradigma al-mahafdzah al qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi jadidi al-ashlah Artinya memelihara tradisi baik dan mengambil sesuatu yang dinilai baik menjadi dasar dalam melakukan modernisasi santri. Dengan demikian, santri tidak hanya dibekali pengetahuan agama melainkan pengetahuan yang menunjang santri dalam menjalani kehidupan di dunia, seperti berwirausaha, bahasa asing, sains dan teknologi. Harapanya, santri akan selalu memberikan sumbangsih terhadap bumi pertiwi yang tidak akan pernah berhenti. Wallahu A’lamu Bi Al-Shawab.

Oleh: Ahmad Romadhon Abdillah
Peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Dari Rumah Ke-75 UIN Walisongo Semarang

Baca juga:  Sebuah Pengantar untuk Berfilsafat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here