Dicap Sesat Adalah Puncak Belajar Filsafat di UIN

1
699

Oleh: Ruzda Khoiruz Zaman

Justisia.com – Filsafat bagi sebagian orang mungkin terdengar asing, apalagi bagi para petani, nelayan, pedagang dkk. Belum tentu mereka mengenal istilah-istilah njlimet di dalamnya. Tapi, belum tentu juga hidup mereka jauh dari substansi filsafat/filosofi.

Bagi seorang mahasiswa, tentu saja filsafat lumrah didengar bahkan dikaji. Tapi pertanyaannya, apa mereka juga mengerti maksud-substansi dari filsafat? Oh belum tentu. Apa sebab? Yaiyalah, dia kuliah kan tujuannya cari ijazah, bukan malah menghafal teori-teori melangit itu beserta nama-nama filsufnya.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, peribahasa yang pas buat anak UIN Wali (Nine) 9  (yang bukan jurusan Akidah Filsafat Islam/Ushuluddin) yang sedang menekuni filsafat. Kok bisa? Lah ya bisa dong, kami dicap sesat lantaran belajar filsafat! Oleh siapa? Teman kami sendiriii! Bukannya mengapresiasi malah terkesan menjatuhkan begini. Hadehh.

Saya pribadi menduga, mungkin salah satu sebabnya ialah anak UIN Wali (Nine) 9 (kecuali jurusan Akidah Filsafat Islam/Ushuluddin loh!) itu terlampau khawatir ketauhidannya luntur akibat mempelajari pemikiran-pemikiran filsuf yang mustahil mereka mengimaninya.

Contoh saja Thales, bapak filsafat itu mengungkapkan bahwa muasal dunia seisinya ini adalah air, atau Thomas Hobbes yang menyatakan bahwa sifat dasar manusia adalah saling memangsa, ada lagi mbah Marx dengan pendulum fenomenalnya “agama adalah candu”, kemudian Nietzsche beserta ujaran cetar membahananya “Tuhan Is Dead”. Pandangan-pandangan demikian tentu sangat bertentangan dengan ketauhidan bukan ?

Keheranan cuma sinis yang berujung agak anti-filsafat itu saya ketahui pada suatu diskusi sore rutin yang diadakan LPM Justisia, waktu itu saya sebagai Maba (mahasiswa basi) plus tukang datang diskusi. Hampir setiap diskusi apapun saya tak pernah alpa (kecuali pas mager).

Baca juga:  Fiqh Iqtishad sebagai Kritik atas Paradigma Ekonomi Pembangunan

Kebetulan saat itu saya sebagai pemantik diskusi berargumentasi mengenai perspektif “agama adalah candu”nya Marx, dan “Tuhan Telah Mati”nya Nietzsche dengan tempo penjelasan yang sesingkat-singkatnya dan fleksibel (nggak njlimet) untuk menganalisa sejauh mana kehidupan kaum teis dewasa ini. Apakah dengan adanya agama mereka semakin peka terhadap kondisi sosial atau sebaliknya?

Setelah pemaparan yang berbusa-busa, saya berharap dapat memantik teman-teman untuk berargumentasi biar tambah seru. Perasaan bahagia pun membuncah ketika dari pojok kanan sebelah pohon ada seorang berpenampilan layaknya santri berpeci hitam lengkap dengan baju koko pendek ala-ala kang santri tapi absen sarung, mengacungkan jari lantas bertanya “maaf mas, btw, sampean belajar filsafat kayak gini sanadnya dari siapa ya?”. “Duh gusti, ini pertanyaan ma’rifat yang butuh waktu menguras samudra, menyebrangi galaksi Bima sakti untuk menjawabnya”. Batinku.
Ramasshookk blas takonee.

Seakan-akan filsafat itu dianggap ilmu paling nggak jelas diantara matkul-matkul keagamaan yang mereka ambil. Sanad (genealogi pengetahuan) nya entah dari siapa? Berguru pada siapa?
Ditambah lagi setelah bubaran diskusi, ada yang menepuk bahu saya seraya nyletuk “ati-ati gan, jangan terlampau jauh belajar filsafat, nanti bisa sesat kamu!”. Sontak, tangan ini rasanya pengen njotos mukanya yang ngece itu. Ya Tuhan, kenapa ummat akhir zaman kok kurang menghargai ilmu-Mu ini sih.

Filsafat dalam lingkungan UIN kami, memang saya anggap sedikit memiliki kisah tragis. Mulai pembelajarnya dicap sesat, dianggap ilmu nggak jelas, diskusi yang datang hanya segelintir orang dkk.
Padahal, salah satu tugas mulia filsafat ialah memproduksi argumentasi. Bahkan seorang teis pun mau tidak mau harus punya argumen kuat kenapa ia harus beragama.

Baca juga:  Demokrasi dan Kebebasan Identitas Agama Pemimpin

Mbok ya kalian itu niru Imam Al-Ghazali, beliau nggak setuju dengan filsafat tapi juga mampu memberikan argumentasi. Meski argumentasi Al-Ghazali dalam Tahafut al-falasifah bermuatan sangat filosofis, artinya, Imam Al-Ghazali pun membantah filsafat menggunakan filsafat.

Dahlah, berdiskusi sampai lambemu ndombleh dengan anak UIN yang nggak pernah bergesekan langsung dengan cara berfikir filsafat, sama sekali nggak ada faedahnya! yang ada kamu dicap sesat.
Pasalnya, diakui ataupun tidak. Pangkal permasalahan ini sebenarnya bermula dari kecacatan njobo-njero (internal/eksternal), dari mahasiswanya dan dari Kampus (UIN Wali Nine 9). Dari pihak mahasiswa yang kurang kepo dan minim pendiskusian filsafat itu sendiri dan dari pihak penyelenggara pendidikan kita nggak mendukung buat belajar filsafat sama sekali.

Betapa tidak? Pertama, (faktor internal) sebab sebagian besar anak UIN Wali (Nine) 9 itu jebolan ponpes, maka sudah barang tentu, dahulu mereka terbatas hanya mengkaji khazanah kitab-kitab kuning (meski ada sih kitab kuning yang bahas filsafat ataupun logika, tapi kebanyakan ponpes tidak menjadikannya prioritas, hanya beberapa saja).

Akibatnya, bisa dibilang mereka gagap memahami atau bahkan kaget dengan literatur mahasiswa yang seharusnya sudah jadi nutrisi harian otak mereka, yaitu khazanah kitab-kitab putih. Kalau mereka nggak segera kepo, mendiskusikan filsafat, dan mengelaborasikannya dengan khazanah klasik ponpes (kitab kuning). Ya sudah, Wassalam. Stigma yang sudah saya sebutkan diatas atas akan terus berulang dari satu generasi mahasiswa ke generasi mahasiswa setelahnya.

Begitupun juga sebaliknya, bagi anak UIN yang memiliki riwayat jebolan ponpes dan sudah mendalami filsafat, sangat tidak patut rasanya jika kemudian meninggalkan khazanah kitab kuningnya (klasik).
Kedua, (faktor eksternal) kampus kurang menyediakan buku-buku filsafat, di perpus pusat ada sih. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Misalnya, filsafat umum bukunya itu-itu aja tapi eksemplarnya banyak atau buku filsafat postmo, temanya beragam tapi eksemplarnya dikit, sehingga siapa cepat dia dapat.

Baca juga:  Perjalanan Sang Faqih, Abdul Wahab Khallaf

Sementara itu, matkul filsafat umum sepanjang 8 semester cuman 2 sks plus 2 sks filsafat jurusan masing-masing. Mana cukup pak? Untuk menancapkan berpikir filosofis pun mungkin dikasih 24 sks saya rasa nggak cukup.


Apalagi filsafat umum yang hanya 2 sks (Kecuali Jurusan Akidah Filsafat Islam/Ushuluddin) itu diisi dengan Filsafat Kesatuan Ilmu, alias filsafat produknya UIN Wali (Nine) 9 sendiri. Apa cukup menyampaikan paradigma Filsafat Kesatuan Ilmunya yang hanya 2 sks kepada mahasiswa yang nol puthul belum pernah belajar filsafat?

Terlepas dari dua problem njobo-njero tersebut, saya hendak membandingkan, di Iran itu semenjak pendidikan setingkat SD/SMP (kalau nggak salah) sudah diajari Logika dan Filsafat. Makannya, jangan kaget negara sekecil Iran (dibanding Indonesia) berani dengan lantang menantang Amerika. Lah, kalau Indonesia? Mahasiswa ngebantah argumentasi senior ormawanya aja nggak berani. Wkwk. Adanya hanya sendiko dawuh, nggah-nggeh aja.

Karena Puncak filsafat adalah Cinta kebijaksanaan, saya jadi teringat doa seorang teolog-filsuf bernama Reinold Niebuhr yang berdoa meminta kebijaksanaan : Ya Tuhan, berikanlah kami ketabahan untuk menerima apa yang tidak bisa diubah, berikanlah kami keberanian untuk mengubah apa yang harus diubah, dan berikanlah kami kebijaksanaan untuk membedakan salah satu dari keduanya.


Untuk itu, ketika menghadapi kaum cuti nalar yang menganggap filsafat itu menyesatkan. Pilihannya ada dua. Pertama, tabah ngelus dodo sembari dikit-dikit dijelaskan apa itu filsafat. Kedua, jotosen ae.

1 KOMENTAR

  1. masnya maba ya? pemahaman filsafatnya kayak orang baru punya tatto pamer tapi norak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here