Demi Ketertiban, Kantin Ma’had Ditutup

0
1193

Semarang, justisia.com – Sabtu, 07 Maret 2020 menjadi hari terakhir bagi Iksan dan teman-temannya untuk berjualan di Kantin Ma’had Walisongo. Berdasarkan berita yang tersebar di aplikasi berbalas pesan WhatsApp, kantin Ma’had akan ditutup.

Setelah dikonfirmasi, berita itu dibenarkan oleh Iksan, salah satu pihak yang mengontrak ruko di kantin Ma’had.

Kantin yang berada di kawasan kampus 2 UIN Walisongo itu disebut Kantin Ma’had karena lokasinya yang kebetulan berdekatan dengan Ma’had Jami’ah UIN Walisongo.

Pemberitahuan untuk mengosongkan ruko oleh pihak kampus mendadak dan terkesan memaksa.

Pasalnya surat pertama yang dilayangkan kepada para penyewa ruko pada 31 Desember 2019 menyatakan bahwa keaktifan kontrak telah habis dan kampus memiliki wacana untuk melakukan renovasi sehingga akan ada penonaktifan sementara kantin.

Namun, dalam Surat Pemberitahuan bernomor B-405/Un.10.0/R2/KS.02.0/01/2020 itu tidak disebutkan tanggal pasti kapan akan dilakukan renovasi.

Ketika Iksan dan teman-temannya mencoba menemui pihak Pusat Pengembangan Bisnis (PPB) di kampus 1 UIN Walisongo untuk menanyak keberlanjutan ruko yang disewanya, ia justru mendapat saran untuk tidak memikirkan keberlanjutan kontrak.

Baca juga:  Gagal Move On Itu Sombong

“Belum tahu mas kapan mau direnovasi, kami tanya atasan juga belum tahu. Sampean jualan dulu aja sampai ada pemberitahuan berikutnya,” ujar salah seorang pegawai PPB, Fian saat ditemui Iksan.

Kemudian, pada Jumat, 6 Maret 2020, Iksan dikejutkan dengan kedatangan Fian yang membawa kabar untuk mengosongkan ruko yang ia dan teman-temannya tempati. Fian datang lengkap dengan Surat Perintah Pengosongan bernomor B-1516/Un.10.0/P5/KS.00/03/2020 di tangan. Surat itu ditandatangani Wakil Rektor II, Abdul Kholiq dengan tembusan kepada Rektor UIN Walisongo, Kepala Biro AUPK, Kabag Umum, dan Kasubag Rumah Tangga.

“Aku nggak tega sebenarnya sama bapak-bapak, sama ibu-ibu itu. Di rumah ya punya anak, punya cucu,” ucap Fian, saat menyerahkan surat perintah pengosongan Kantin.

Kepala Pusat Pengembangan Bisnis (PPB), Wahab, menurut Iksan juga tidak menginginkan adanya penggusuran ini.

“Kalau pak Wahab, kepala PPB malah sebenarnya ndak pengin ada penggusuran. Pertama kasihan, kedua kalau emang digusur, kasih waktu satu tahun untuk persiapan. Karena kan kalau kayak gini kami ga ada tempat mbak, barang-barang mau ditaruh mana gak ada tempat. Mau jualan dimana juga masih Ndak ada tempat,” ujar Iksan.

Baca juga:  UIN Walisongo Umumkan Nominator Bidik Misi 2019

Berdasarkan keterangan Iksan, penggusuran ruko ini tak hanya dirasakan oleh para penjual Kantin Ma’had, namun juga Kantin Racana, Dharma wanita, Kantin Kopma di Kampus 3, dan beberapa unit usaha lain.

Iksan menyayangkan, bahwa audiensi yang biasa dilakukan tiap akhir tahun antara Pejabat Kampus, Pusat Pengembangan Bisnis, dan semua pemilik usaha di lingkungan kampus untuk membicarakan hal-hal terkait pengembangan usaha, tak pernah dilaksanakan kembali oleh pejabat kampus yang baru.

“Saya jualan di sini sejak 2013 pertengahan, dapat resminya 2014. Saat itu […] kami selalu diajak audiensi tiap akhir tahun untuk perpanjangan sewa kontrak dan sama-sama mencari solusi jika dirasa ada masalah, atau ada kenaikan tarif sewa kontrak,” ujar Iksan mengenang.

“Semua dibicarakan bareng, tapi sejak […] yang baru ini ndak pernah ada audiensi, kami juga ndak tahu apa masalah atau faktor yang melatarbelakangi perintah pengosongan kantin,” ujar Iksan.

Dampak dari surat perintah pengosongan Kantin Ma’had ini sangat luas, karena satu ruko yang dikontrak oleh tiga pihak di Kantin Ma’had menjadi sumber penghasilan dari tiap wirausahawan di sana.

Baca juga:  Evaluasi Sistem Pemilihan Ormawa, SEMA U Bagikan Kuesioner

Kedai Taican misalnya, ada 14 mahasiswa yang berwirausaha dan mencari rupiah di sana. Pemilik gerai usaha fotokopi sudah berkeluarga dengan 4 karyawan. Dan penjual nasi rames yang sudah punya cucu dengan 5 orang yang mencari rupiah dari usaha rames di kantin.

Wakil Rektor II, Abdul Kholiq menuturkan bahwa pengosongan ini dilakukan demi ketertiban.

“Kita tertibkan biar tidak kumuh,” ujarnya saat dihubungi lewat Whatsapp.

“Ini sudah surat kedua. Kontrak sudah habis per Desember,” jawab Kholiq ketika ditanya perihal ada tidaknya musyawarah dengan para penyewa ruko.

Kholiq menyatakan kantin-kantin lama, yang sudah ada akan dikosongkan semua.

“Semua dikosongkan mas. Karena sudah ada Foodcourt,” ujarnya.

Kholiq tidak menanggapi ketika ditanya waktu realisasi pemindahan kantin lama ke Foodcourt yang baru.

Reporter: Fia, Sidik
Penulis: Fia
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here