“Dari Jendela SMP”, Sinetron Pembawa Berkah atau Musibah

0
392

Oleh: Bahrul Falah

Pada tanggal 03 Juli 2020 sebuah sinetron yang ditanyangkan oleh stasiun televisi swasta menyita banyak perhatian publik. Sinetron tersebut bernama “Dari jendela SMP”. Rey Bong dan Sandrina Michelle menjadi pemeran utama dalam sinetron tersebut.  Keduanya berperan sebagai Joko dan Wulan.

Sinetron tersebut banyak menyita perhatian khalayak ramai karena kisah percintaan didalamnya yang diperankan oleh anak-anak SMP.

Saya awalnya tertegun kaget melihat cuplikan sinetron tersebut. Bagaimana tidak, kisah percintaan yang digambarkan dalam trailer-nya diperankan oleh anak SMP, OMG. Akhirnya seiring berjalannya waktu saya mengikuti alur ceritanya karena dalam pemikiran saya saat itu “kalau sampe film ini kurang ajar, nitizen Indonesia siap menghujat KPI”.

Lalu sampe pada episode 3 saya sedikit heran dengan alur cerita yang dijalankan, Joko dan Wulan yang merupakan murid dari sekolah SMP Nusa Bangsa harus mengalami kisah pahit dalam Hidupnya. Dalam kisah percintaan mereka ternyata Wulan Positif hamil berdasarkan bukti alat tes kehamilan yang ada padanya.

Permasalahan-pun datang silih berganti, mulai dari kemarahan orang tuanya, kemarahan kepala sekolah, dan cibiran dari teman-temannya.

Sekilas saya berpikir bahwa alur cerita sinetron tersebut mirip sekali dengan film “Dua Garis Biru” yang diperankan oleh Angga Aldi Yunanda dan Adhisty Zara. Film yang setidaknya meraih 9 perhargaan tersebut juga memainkan alur tentang kesalahan keputusan seks anak sekolah yang menghantarkan mereka menuju jurang permasalahan yang besar.

Film ini pada awal pemutarannya mendapat kritikan dari sejumlah kalangan karena membahas perihal seks yang selama ini menjadi hal tabu di Indonesia.

Baca juga:  Upaya Ulama Menjaga Kemajemukan Bangsa

Kembali kepada pembahasan sinetron “Dari Jendela SMP”. Penghakiman negatif yang telah saya berikan pada trailer-nya akhirnya luluh menjadi bubur kehangatan pemikiran berdasarkan sudut pandang positif. Saya lebih condong memberikan penilaian positif terhadapnya karena berhubungan dengan hadirnya permasalahan sex education di kalangan remaja yang sekarang menjadi problem besar pemerintah.

Sex Education dan Bimbingan Orang Tua

Sex education adalah pembelajaran tentang fungsi organ reproduksi yang ada didalam tubuh manusia. Pembelajaran yang terjadi tidak hanya berdasarkan aspek biologis, akan tetapi juga menyangkut aspek non-biologis seperti etika dan norma sosial yang terjadi apabila seseorang mengeksploitasi seksualitasnya secara tidak bijaksana.

Sampai saat ini, sex education atau pembelajaran tentang seks kurang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal itu terjadi karena anggapan kurang pantas terhadap topik seks yang dinilai merupakan hal privat dan tidak boleh dibicarakan. Ditambah dengan adat ketimuran serta norma agama yang mengangap seks merupakan hal yang tabu.

Pembahasan tentang seks sering kali dikhususkan kepada remaja. Hal ini terjadi dikarenakan tingkah laku remaja yang kebanyakan salah mengambil jalan dalam keputusan seksualitas. Sebuah survey yang dilakukan oleh KPAI dan Kemenkes pada Oktober 2013 menyatakan sekitar 62,7% remaja Indonesia telah melakukan seks di luar nikah. 20% dari 94.270 wanita remaja mengalami hamil diluar nikah, dan yang lebih mirisnya 21% di antaranya melakukan aborsi.

Permasalahan seks bebas remaja merupakan hal yang krusial dan harus segera diselesaikan. Ada orang mengatakan “Seks kan masalah pribadi, ngapain diurusin negara?”. Pribadi sih pribadi, Tapi dampaknya akan panjang dan besar apabila tidak segera diatasi.

Baca juga:  Menguji Kesintasan Tradisi

Semisal apabila remaja yang masih sekolah melakukan seks bebas, lalu hamil, gimana masa depan mereka dan anak yang dikandungnya? Mereka mau nggak mau menjadi penerus generasi saat ini. Belum lagi aspek kesehatan reproduksi remaja yang rentan akan penyakit apabila melakukan hubungan seks sebelum mencapai usia matang.

Seks bebas dan hamil di luar nikah oleh remaja merupakan sesuatu yang sulit untuk dihilangkan sama sekali. Tetapi paling tidak pengurangan jumlah kejadian menjadi target pencapaian yang harus dilalui. Sebab itulah pembelajaran tentang seks seyogyanya harus dibicarakan pada masa pubertas remaja, agar pengambilan keputusan perihal seks dapat dilakukan sebijaksana mungkin.

Seharusnya yang harus mengawali pembicaraan mengenai seks adalah orangtua remaja. Seringkali saya mendengar “jangan bahas seks, saru”, well…well, tulah permasalahannya saat ini, seks dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan tidak boleh dibahas.

Menurut survey Durrx Reckitt Benckiser RB Indonesia dengan JAKPAT tahun 2019 menyatakan 59% orangtua merasa khawatir mendiskusikan edukasi seksual kepada anak, karena khawatir jika memahami itu sebagai ajaran seks pra-nikah. Lebih lanjut 61% responden anak muda takut akan penghakiman orangtua karena membicarakan perihal seks.

Apabila orangtua tidak membicarakan mengenai pembelajaran seks yang benar, masalahnya adalah di manakah anak harus mempunyai kiblat pengetahuan seks yang benar.

Menurut Sigelma dan Rider, teman, tetangga, pergaulan, penyampaian media yang salah akan memberikan stigma bahwa seks bukanlah sesuatu yang tabu, akan tetapi lazim terjadi.

Baca juga:  Bigo Live; Menyatunya Sex, Video Porno, dan WPS

Pemahaman tersebut yang akan menghantarkan anak menuju sebuah kesalahan pemikiran mengenai seks. Maka yang terjadi adalah pemahaman seks seperti apa yang dia peroleh menjadikan ia tunduk dan patuh mengenai informasi tersebut.

Memang tidak mudah menyampaikan sesuatu yang baik mengenai seks oleh orangtua, harus memulai dari mana dulu, duh… Itu perlu suatu proses pembelajaran serta ketepatan awalan yang sesuai. Sebab itu saya mempunyai suatu pendapat yang berkaitan dengan sinetron tersebut.

Pada saat menonton sinetron tersebut bersama keluarga, sempatkanlah berbicara face to face kepada anak tentang seks, nggak perlu bicara muluk-muluk mengenai ilmiah-lah, atau apa lah.

Setidaknya ngomong “Ndok/Cong lihat itu Joko sama Wulan… hidupnya kacau kan, gara-gara apa coba? Ya gara gara hubungan seks di luar nikah (meskipun penonton tidak tau endingnya, apakah benar-benar hamil). Maka dari itu, jangan pernah coba ya!”.

Sebuah percakapan singkat yang memiliki banyak arti untuk anak, paling tidak menjadi pegangan prinsip bagi anak di dalam pergaulannya.

Berdasarkan awalan tersebut orang tua dapat menjelaskan buruknya konsekuensi yang harus dijalani apabila seseorang melakukan seks bebas, mulai dari kesehatan, nilai di masyarakat, serta masa depan yang akan sirna karenanya. Maka dari itu berdasarkan ibarat tersebut dapat dijadikan alasan untuk membimbing anak menuju arah yang lebih baik tanpa harus memulai pembicaran secara formal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here