Cobalah Bepergian, Meski Sesekali

0
150
Bepergian, dari Hobi Hingga Pikatan Hal Baru
Kredit foto: oleh No see
Aminudin Noosy
Videografer Justisia Chanel | + posts

Justisia.com – Ketika kita menjalani hidup, capek pasti pernah melanda kita secara tiba-tiba, apalagi ketika dipusingkan oleh tujuan dan target-target tak pasti yang telah direncanakan, otak rasanya ingin berhenti sejenak untuk memikirkan itu semua.

Nah, setiap perjalanan bagiku adalah obat untuk mengatasi kejenuhan tersebut. Dalam setiap perjalanan, pasti akan ada pengalaman bertemu dengan sesuatu yang baru sehingga membuatku tak bosan. Menurutku, penting untuk terus menyegarkan pikiran.

Memang, soal enjoy itu sangat subjektif; bepergian, membaca buku, menonton film, tiduran, bisa berarti berbeda-beda bagi setiap orang. Dan inilah alasan mengapa aku memilih untuk bepergian, lebih tepatnya hobi bepergian.

“Kamu tuh suka travelling kayak gitu emang dapet apa sih? // Terkadang juga nggak ada tujuan yang pasti, langsung berangkat aja. // Bukannya yang kau dapatkan dari itu cuma capek doang? Sia-sia bukan?!”

Banyak kata-kata semacam itu yang terlontar dari teman-temanku yang tahu kalau aku sedang bepergian atau setelah mendengarkan ceritaku dari bepergian. Intinya satu hal yang aku tangkap dari mereka, “Apa yang kau dapat?”. Pasti kebanyakan orang mengira yang kudapatkan hanyalah kegembiraan, pergi ke tempat-tempat indah, refreshing, dan mencoba terbebas dari belenggu stress yang terkadang menyerang secara tiba-tiba.

Oke alasan itu aku benarkan, karena memang begitu adanya. Namun banyak juga orang-orang yang tak tahu kalau ada hal lebih besar dan berharga yang kudapatkan dalam bepergian, yaitu “pengalaman”. Ya pengalaman yang tak bisa kau dapatkan jika kau hanya duduk saja dikontrakan sambil bermain PS-an.

Setiap perjalanan merupakan wadah pembelajaran untuk menikmati proses entah dari dan menuju ke mana. Sungguh rugi jikalau kita tak bisa menikmati proses hidup yang singkat ini. Bapakku pernah bilang, “pergilah kemana pun engkau bisa menginjakkan kakimu; ke gunung, ke pantai, selagi kau masih muda, karena jika kau sudah tua, kau tidak akan bisa menikmatinya”.

Wow setelah kupikir-pikir, ternyata kata-kata seorang bapak yang pernah muda itu memang benar adanya. Tak kusangka seorang bapak yang di masa mudanya pernah bepergian untuk menejelajahi alam, sekarang sudah tak bisa menjelajahinya, bisa ke kebun saja sudah merupakan prestasi.

Bahkan lucu jika ku membayangkan ia melakukan hal seperti itu; pergi berkelana sendiri, naik motor sambil menggendong tas carrier (tas gunung) di pundaknya. Mungkin bagi beberapa bapak-bapak terutama yang ada di kaki gunung memang wajar, namun yang hidup di perkotaan, apa kata tetangga nanti?

Live is adventure” begitulah kata bijak yang familiar kita dengar bahkan ketika kita masih kecil, benar bukan? Nah aku mulai tahu makna dari kata “adventure” sesungguhnya ketika diriku sudah banyak melakukan perjalanan, ternyata makna dari “petualangan” itu sangatlah luas.

Dalam petualangan kita bisa merasakan bahwa ternyata bepergian itu tak cuma untuk mencari kebahagiaan, namun juga mencari ketenangan, terkadang juga terdapat kesedihan, semua itu tak terduga dan tak bisa diterka-terka dalam berpetualang.

Seperti kejadian pada saat perjalanan ke Gunung Bromo, Malang menggunakan motor. Semua itu terjadi begitu saja, tak direncanakan, dan lucunya menjadi kenyataan.

Memang sih, untuk setiap perjalanan terkadang aku selalu membuka ruang bagi spontanitas. Sungguh asyik membiarkan hidup mengalir seperti air. Toh, tak semua hal perlu direncakakan. Terkadang, rencana paling seru adalah tanpa rencana.

Berpetualang, salah satunya dengan touring atau bepergian menggunakan motor ke tempat-tempat nan jauh adalah merupakan salah satu hobiku selain mendaki, mungkin sampai sekarang touring masih melekat dalam jiwaku, meskipun dulu pernah mengalami sebuah tragedi yang membuatku masih trauma akan bepergian malam-malam.

Perlu kuberitahu, kalau kalian mengaku hobi touring tapi belum pernah mencium aspal, rasanya kurang afdhal deh, heuheu. Meskipun tulang retak dan luka-luka lainnya pernah aku rasakan karena akibat dari touring tersebut, itu tak membuat diriku goyah akan kecintaanku terhadap touring, meski sekarang agak hati-hati dalam menarik gas sih. Karena aku tau bagaimanapun mengendarai motor itu ada tekniknya. Sebab, ini bukan hanya menyangkut keselamatan diri sendiri, melainkan juga keselamtaan orang ain. Kuncinya, aku pikir sesama pengguna jalan raya harus salin menjaga dan menghargai.

Kemudian, niat dan tekad adalah modal utama dalam berpetualang. Jika kalian sudah memiliki keduanya, kalian pasti akan siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan tak terduga ketika nanti berpetualang. Namun jika kedua modal itu tak kalian miliki, jangan dulu kalian pergi untuk berpetualang, nanti yang kalian temui ketika menghadapi masalah hanyalah panik.

Pernah ketika dulu pergi ke Pacitan hanya bermodalkan niat dan tekad, “pokoknya sampai Pacitan dulu”, namun sesampainya di sana, aku tidak tahu mau ngapain saat sudah sampai. Aku merasa, di bentang alam yang luas ini, diri ini merasa sendiri.

Dari situlah aku mengetahui banyak hal, dalam bepergian, dalam ketersesatan, di situlah alam akan menunjukkan betapa kecil dan tidak berdayanya kita. Otak pun berputar, dan masjid adalah pilihan untuk bermalam. Begitulah jika kalian sudah punya bekal niat dan tekad, apapun yang akan terjadi pasti ada solusi. Tidak perlu cemas, karena menurutku alam semesta sudah menyiapkan skenario untuk membantu kita dalam setiap perjalanan.

Kita akan selalu bertemu dengan orang baru, akan selalu ada kenalan yang menjadi teman, memberi bantuan dan pertolongan, menawarkan secangkir kopi. Ah, sungguh nikmat sekali.

Gimana, masih bilang bahwa petualanganku itu hanya menghasilkan capek dan kesia-siaan? Eits tunggu dulu, justru dalam hal itu diriku mendapatkan banyak pelajaran dari ketidaksengajaan.

Dalam bepergian, seringkali aku bisa mengeksplorasi kemampuan diri, dihadapkan dengan kejadian-kejadian tak terduga dan dipaksa untuk bisa mengatasinya.

Beradaptasi dengan alam? Jelas, melalui perantara manusia-manusia yang beragam, yang tak sengaja ditemui di jalan, di situlah aku berpikir bahwa pasti akan selalu ada orang baik yang membantu di setiap perjalanan. Entah itu sekadar memberi tahu arah jalan, atau menjadi teman ngobrol dalam kesendirian.

Seperti ketika dulu di Pasuruan, waktu itu bulan puasa dan aku mencari masjid atau mushala yang buka dan bisa dipakai untuk istirahat dan bermalam, di situlah aku bertemu dengan warga lokal yang ternyata mau tongtekan (membangunkan orang untuk sahur, baca). Kami sedikit berbasa-basi, berbincang sana-sini, dan setelah ia pergi, aku mencoba untuk memejamkan mata dan bermimpi, namun tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa bungkusan yang ternyata isinya nasi. “Dimakan mas buat sahur, sampean puasa kan?” seperti itulah, jika kalian berprasangka baik terhadap apa yang akan kamu lalui, maka alam akan mencoba membalasnya dengan prasangka baik juga.

Kebaikan-kebaikan tak terduga semacam inilah yang membuatku selalu bersyukur atas setiap perjalanan. Bagaimanpun kondisinya, aku yakin segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan. Kita hanya perlu berpikir lebih jernih untuk memahaminya.

Sudah tertarik untuk berpetualang, belum? Baiklah kalau begitu, sebenarnya kalian tahu sendiri alasan kenapa kalian harus sesekali bepergian atau piknik, tentu saja biar otak kalian tidak terlalu kaku dan pandangan kalian terhadap sekitar tidaklah sempit, jika otak dan pandangan kalian terhadap sesuatu masih kaku dan sempit, nampaknya kalian harus membuka lembaran buku lagi deh biar tidak hanya membaca di satu halaman saja. Karena fakta, bahwa bukan tidak mungkin lapisan terdalam isu mengerasnya keyakinan akhir-akhir ini, itu dapat dikaitkan dengan situasi (individu, baca) yang kurang piknik.

Kenapa aku bisa mengatakan seperti ini? Karena mereka yang pandangannya berbeda dari banyak sisi dunia yang beraneka, tentulah tidak pernah jalan kemana-mana. Sebaliknya, orang-orang yang secara ekstensif melakukan perjalanan dan berjumpa dengan banyak kebudayaan, akan semakin kagum dari waktu ke waktu, betapa besar ruang kasih sayang Tuhan yang ditampakkan dalam manifestasi manusia-manusia mulia yang terserak di penjuru dunia. Perlu kalian ketahui, Indonesia itu sungguh majemuk dan plural, keindahannya ada di mana-mana, alamnya, budayanya, orang-orangnya. Dan aku hanya perlu merefleksikannya dengan mata dan hati terbuka.

Apakah alasanku masih kurang keren? Oke kalau begitu, akan ku kasih alasan yang lebih kerennya lagi buat kalian agar jiwa kalian tergugah untuk melakukan petualangan. Dalam bepergian, Kita bisa melihat bentangan ciptaan Ilahi, mengenal, merasa, meraba, mentadabburi, belajar bertoleransi agar makin kuat cinta pada semesta, terutama kepada Sang Pencipta. Terkadang juga sesekali menertawai kebodohan diri, belajar banyak dari sekitar, dan satu lagi, kalian akan mengetahui dan rasakan apa makna dari “rindu & pulang” yang sebenarnya.

Ya, dalam bepergian pasti kalian akan merasakannya, rindu untuk pulang, rindu akan kampung halaman, rumah, keluarga, dan rindu akan orang tersayang. Dan itu semua akan terasa di saat kalian sedang bepergian, percayalah!!

“Dalam bepergian, kita pasti akan selalu menemukan hal-hal baru, maka dari itu tak perlu khawatir”. Itulah prinsip yang aku pegang sampai sekarang.

Menurutku, yang terpenting dari setiap perjalanan bukanlah sekadar tempat tujuan, melainkan proses perjalanan itu sendiri. Seperti kata orang bijak, jangan sampai kita terlalu fokus terhadap tujuan sehingga gagal menikmati perjalanan. Begitulah yang membuat hidupku menjadi lebih hidup. Yah mungkin hobi kita berbeda, tapi apa salahnya jika aku mengajak kalian untuk menyukai hobi yang sama. Oiya, kalau alasan kalian untuk bepergian itu seperti apa? [Red. Hikmah]

Baca juga:  Belajar yang Pintar Agar Roda Berputar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here