Cerita kepada Tuhan

0
238

Ramai pasar kini mulai membisu
Emak-emak tukang sayur dan pembelinya kini sudah tak lagi tawar-menawar
Legi, Kliwon, Pon mulai punah pamornya
Erengam hewan yang akan disembelihpun tak ada nadanya
Akankah engkau tega?

Jalanan ramai lancar macet, kini sudah tak terdengar kabarnya
Teriakan kenek bis hilang semangatnya
Desak dalam angkutan dan bau khas didalamnya sudah mulai tak kurasakan
Akankah pak supir sudah tak kau beri izin mengeluarkan keringat untuk keluarganya?

Sekolahku dihujani daun rapuh
Tidak ada lagi hukuman guru BK, tapi bukan disiplin
Tidak ada lagi kata terlambat, tapi bukan rajin
Tidak ada lagi tidur dikelas, tapi bukan semangat
Itu semua alasan atas kesepian yang kian menghujam

Bapakku kini bermuka resah sebalik berperang mencari nafkah
Ibuku menghidangkan makanan tanpa daging dan kaldu mewah
Keluargaku kesepian, semua sibuk dengan gawainya
Akankah kita akan tetap terpaku bisu?

Takbir akbar-Mu mulai lirih didengar
Ramai orang pemuja diri sendiri tak lagi menyeruak lingkungan masjid
Tidak pula ber-Saff
Rojab, Sya’ban kulalui dengan penuh kehawatiran
Akankah Ramadhan ini kau nafikan?

Baca juga:  Melodi Perdamaian

Tuhan dengarkanlah jeritan hati ini
Amalku secuil percik lentera
Dosaku berlimpah bahtera
Akankah ada kesempatan menemukan cinta?
Semoga ikhlas kau bimbingku menuju indahnya jumpa

Semoga malaikat berkenan memunguti doa-doaku yang entah berlabuh kemana
Jika bukan karena murka dan kasihmu lalu mengapa ini terjadi?
Apalagi yang perlu dipikir? Dasar aku
Segera lakukan! Jangan tunggu api membakar dirinya sendiri

Semarang, 31-03-2020 22:08
Mr. Serdadu Manja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here