Buruh dan Pandemi Corona

0
199

Oleh: Sidik Pramono

Pandemi virus Corona masih menjadi momok yang menakutkan bagi semua negara di dunia. Hampir seluruh negara mulai melakukan lock down kegiatan yang ada untuk menanggulangi penjangkitan virus yang diberjuluk Covid-19 ini.

Sebagai contoh, liga-liga besar yang ada di dunia seperti, liga inggris, Serie A Italia, dan seterusnya sudah diberhentikan menyusul cepatnya penjangkitan virus yang tergolong cepat ini. Kabar mengejutkan juga dikeluarkan oleh UEFA mengenai pengunduran penyelenggaraan pesta sepak bola akbar di Benua Biru tersebut (EURO 2020). Hal yang sama juga dilakukan oleh Federasi sepak bola Amerika yang melakukan pengunduran pelaksanaan Copa America.

Lock down yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ini memiliki arti terkunci. Yang dimaksud dari lock down adalah protokol darurat yang biasanya digunakan untuk mencegah orang atau informasi meniggalkan suatu area. Lock down ini hanya dapat diprakarsai oleh seorang yang memiliki otoritas. Dan kebijakan tersebut sudah dilakukan oleh Indonesia. Walau saat ini jumlah orang yang positif Corona di Indonesia tergolong sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain namun, tindakan preventif seperti ini harus dilakukan agar tidak bertambah banyak orang yang terinfeksi virus Corona.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah disambut baik oleh semua lapisan masyarakat. Hal ini tercermin dari apa yang dilakukan oleh institusi-institusi yang ada di Negeri ini. Sebagai contoh di semua tataran pendidikan kegiatan belajar mengajar ditunda atau dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh guna menghindari proses pembelajaran tatap muka yang disinyalir dapat menularkan pandemi yang sedang terjadi saat ini. Menghadapi pageblug ini, semua pihak harus berhati-hati, waspada, dan tidak melakukan upaya yang bisa membuat Covid-19 ini menjangkiti diri.

Baca juga:  Dua kali kemenangan Jokowi di Tangan MK dan Indonesia yang Masih Sama

Namun sejauh ini, masih ada sektor di Negeri ini yang tetap melanjutkan aktivitasnya seperti biasa tanpa melakukan lock down yakni sektor industri. Sektor industri (pabrik) masih berjalan dengan lancarnya. Hingga saat ini belum ada kabar yang mewartakan bahwa pabrik belum melakukan lock down.

Pabrik yang menjadi manifestasi dari Kapitalisme seakan resisten dan menjadi sektor yang tidak terimbas dari adanya pandemic saat ini. Pabrik yang menjadi salah satu poros berjalannya roda perekonomian dari sebuah negara memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melakukan lock down  begitu saja. Tapi, membiarkan kegiatan produksi yang ada di pabrik bukan tanpa resiko. Karena, di tengah kerumunan banyak orang (di pabrik) akan besar kemungkinan virus Corona mudah sekali menjangkiti. Pemerintah melalui Presiden, melarang adanya pengumpulan massa dalam jumlah banyak.

Lagi-lagi, apabila pabrik yang menjadi poros perekonomian dilakukan lock down yang terjadi adalah sebuah gonjang-ganjing ekonomi di Nusantara. Sebab keadaan di era sekarang menempatkan pabrik sebagai organ vital dari tindakan ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi).

Baca juga:  Kurangnya Perhatian Orang Tua Terhadap Buah Hati

Perekonomian dan keberjalanan pabrik perlu dikondisikan, tidak serta merta melakukan peniadaan kegiatan produksi begitu saja (lock down). Yang perlu catat adalah keberjalanan dari sebuah pabrik tidak lepas dari peran buruh. Di satu sisi, para buruh khawatir akan adanya acaman terkena Covid-19 saat di pabrik. Namun, di sisi lain para buruh juga membutuhkan upah untuk memenuhi kebutuhan.

Ini sebenarnya menjadi hal yang dilematis untuk para buruh. Para buruh pasti tidak ingin menderita dan terjangkiti Covid-19 sewaktu dirinya bekerja. Akan tetapi, para buruh mendapat tuntutan untuk tetap bekerja dari perusahaan dan desakan untuk melangsungkan hidupnya melalui upah yang diterima. Bila pekerjaan yang ada di pabrik diliburkan menyambut imbauan untuk melakukan lock down maka, buruh juga akan menerima imbasnya. Karena para buruh tidak akan menerima upah apabila tidak bekerja.

Mengharapkan pabrik tetap menjamin upah kepada para buruh saat diberlakukan lock down, itu merupakan hal yang musykil untuk dilaksanakan. Karena pada akhirnya pabrik akan bangkrut dengan sendirinya sebab, tidak ada pemasukan tapi harus mengeluarkan upah untuk para buruh yang tidak bekerja.

Menanggapi keadaan saat ini, salah satu serikat buruh Kota Salatiga, Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) mendorong pabrik untuk melakukan adanya kerja aman yang mencakup alat-alat kesehatan seperti hand sanitizer, seta pengurangan dan melakukan rotasi jam kerja.

Baca juga:  Sologami Pilihan Wanita Karir

Pengurangan jam kerja dan menambah shift kerja menjadi salah satu langkah efektif yang dapat dilaksanakan saat ini. Hal ini sangat beralasan karena, dengan mengurangi jam kerja dan penambahan shift akan mengurangi kerumunan orang dan bisa menjaga physical atau social distancing.

Selain itu, FBLP juga menyarankan agar setiap pabrik memberikan fasilitas serta alat kesehatan untuk mencegah penularan virus Corona saat di pabrik. Karena, kesehatan para pekerja merupakan hak utama yang mutlak harus dijamin oleh pihak pabrik atau perusahaan. Jika kesehatan para buruh tidak dijamin dan terjangkit Covid-19 maka yang akan menerima kerugian adalah pihak pabrik sendiri karena para pekerjanya tidak dapat melakukan aktivitas produksinya.

Dengan begitu, kesehatan dari para buruh merupakan hal yang harus dijunjung tinggi baik pihak pabrik ataupun antar sesama buruh. Sebab, tidak ada harga yang pantas untuk bisa mengganti kesehatan seseorang. Para Buruh harus dijamin kesehatannya oleh buruh sendiri, pabrik dan juga pemerintah agar dapat melanjutkan perannya sebagai pahlawan untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat saat bumi sedang dirundung pandemi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here